Penulis: Srie Candrawati
Annecy, April 2001
Mungkin yang ada di benak pembaca sekalian, istri yang ikut suami ke luar negeri kerjanya bersenang-senang saja, atau jadi ibu rumah-tangga yang baik. Ada yang bilang, the husband works hard, the wife spends hard. Bagi saya tentu tidak demikian halnya, kasihan suami kalau begitu. Kami memang belum berencana punya anak saat itu, mungkin kami dapat memanfaatkan waktu untuk berdua, hitung-hitung bulan madu lagi saja. Benar, jika dalam sebulan mungkin belum terasa membosankan. Hidup di Paris rasanya serba indah, serba romantis, tidak ada yang mengganggu. Namun, lebih sebulan barulah terasa bosan, sepi, rindu akan kegiatan yang selama ini biasa dilakukan di tanah air. Tidak selalu mudah dan menyenangkan hidup di negeri orang. Apalagi jika selama di tanah air kita biasa bekerja, mempunyai banyak teman, selalu saja sibuk dan aktif. Rasa rindu akan semua itu pasti terasa. Jika ingin sering-sering telepon ke tanah air pasti ongkosnya tidak murah. Kirim surat via email kadang tidak berbalas, kami juga mengerti akan kesibukan teman-teman di sana yang rata-rata menggunakan internet di kantor. Kesibukan mereka sehari-hari tentulah menyita konsentrasi.Hal yang juga sangat membuat rasa rindu akan tanah air adalah makanannya. Jika perut lapar, biasanya banyak abang-abang keliling disekitar rumah menjajakan berbagai penganan. Di sini, jangan dibayangkan hal seperti itu ada. boro-boro ada yang lewat, rata-rata pertokoan tutup pukul 8 malam, hari minggu, kalaupun ada yang buka hanya di daerah tertentu saja dan jika pun yang buka di hari minggu biasanya mereka tutup hari seninnya.Jika mau makan keluar ya, ke restoran atau kedai makanan cepat saji. Soal rasa, bagi kami begitu-begitu saja, seragam, tidaklah ada beragam pilihan rasa seperti yang biasa kita jumpai di tanah air. Di sini saya akui kalau Indonesia syurga tempat makan.Satu hal yang menguntungkan dari kenyataan tersebut, saya jadi biasa memasak. Kebetulan ibu saya mengirim buku resep masakan, mungkin karena beliau khawatir dan sudah mulai bosan jika saya tiap kali menanyakan resepnya. Menurut hemat saya, masakan ibulah yang paling cocok di lidah, maka kadang saya menelepon hanya untuk menanyakan resep empek-empek atau penganan lainnya. Kini saya jadi pandai mereka-reka bumbu dan menciptakan suatu masakan dari bahan-bahan yang di dapat di sini. Saya juga sering mendapatkan resep-resep makanan Indonesia dari internet, biasanya jika ingin memasak sesuatu saya gunakan saja search engine untuk mencari resep dan menemukannya bagi saya. Saya sungguh beruntung memiliki suami yang tidak rewel dalam hal makanan, dan selalu memuji masakan saya setiap kalinya. Entah memang enak dan sesuai dengan seleranya, atau hanya karena cinta...Jika berada di Paris, tidaklah sulit menemukan bumbu-bumbu seperti di tanah-air. Datang saja ke daerah Paris XIII atau orang lebih sering menyebutnya chinatown. Disana ada banyak supermarket besar khusus menjual bahan-bahan makanan dan bumbu-bumbu dari Asia. Kebanyakan dari pemiliknya adalah orang-orang kamboja, vietnam atau thailand yang sudah sejak lama menetap dan berusaha di Perancis. Di Paris, kita juga bisa menemukan masakan asli Indonesia dibeberapa tempat, di KBRI misalnya, ada kantin yang selain menjual makanan jadi, juga bumbu-bumbu khas Indonesia. Lalu ada Warung Indonesia, yang terletak di daerah Paris XVI, tidak terlalu jauh dari KBRI. Kami cukup mengenal pemilik warung ini, kami juga sering datang untuk makan atau sekadar “ngerumpi”. Kemudian ada pula Restoran Indonesia di daerah Paris V dekat taman Luxembourg, kami sudah beberapa kali kesana, masakannya cukup sesuai dengan lidah kita, dan satu lagi yang kami tahu ada didaerah Châtelet, nama restorannya Jawa-Bali.Bulan demi bulan berlalu, suami akhirnya menyanggupi keinginan saya untuk ikut kursus bahasa perancis. Ada beberapa tempat yang kami ketahui dan cukup memiliki reputasi yang bagus dalam hal belajar bahasa. Salah satunya adalah tempat kursus yang terletak di daerah Raspail. Saat itu sudah masuk musim panas, saat saya datang untuk mendaftar saya cukup kaget dengan banyaknya siswa disana. Ternyata, saya barulah sadar musim panas adalah juga musim liburan sekolah, dan banyak anak-anak remaja yang dikirim orangtuanya mengikuti summer course disini. Saya perhatikan juga, biaya kursus musim panas ini sedikit lebih mahal. Tetapi karena saya sudah berniat ingin memulainya bulan ini, saya pun mendaftar dan mulai bersekolah setiap harinya dari senin hingga jum’at selama 2 jam, jam 10 pagi hingga tengah hari.Kelas kami cukup penuh, ada sekitar duapuluhan siswa berbagai bangsa dan tenggang usia. Kebanyakan remaja yang berasal dari benua Eropa juga, lalu siswa dari Jepang, Amerika, Cina dan negara-negara Asia Tenggara, termasuk saya. Siswa yang paling muda berusia 16 tahun dan yang paling tua dikelas sudah 50 tahun, seorang ibu dari Venezuela.Di tempat inilah saya berkenalan dengan teman-teman dari Singapore, Thailand, Findland dan Amerika, karena kami ber-empat yang bisa berbahasa inggris dikelas, wajar jika akhirnya kami menjadi lebih dekat. Seusai sekolah, biasanya kami mengerjakan PR dikantin sekolah atau dikedai makanan seputar sekolah sambil saling mengenal latar-belakang masing-masing. Diantara kami, dua diantaranya masih bersekolah, Marika yang dari Findland dan Rose yang orang Amerika. Mereka berdua menghabiskan masa liburan musim panasnya di Paris. Rose bekerja paruh waktu di sebuah retoran di Paris dan Marika menghabiskan liburan ini bersama pacarnya yang orang perancis sembari menyelesaikan tugas akhir kuliahnya. Dua lagi teman kami, tidak berbeda jauh dengan saya baik usia maupun alasan mengapa berada di Paris ini. Kami sama-sama sudah menikah dan sama-sama berasal dari Asia-Tenggara. Hingga kini kami bertigalah yang masih sering berhubungan lewat email atau telepon. Sian yang dari Singapore hanya menetap setahun di Paris, ia dan suaminya memutuskan pulang ke Singapore akhir tahun 1999. Sammanee dari Thailand akhirnya menikah dengan pacarnya orang perancis dan kini tinggal di Zurich, Swiss.Di tempat ini saya hanya mengikuti kursus bahasa selama dua bulan. Sebenarnya, jauh dalam lubuk hati ini, saya rindu bekerja lagi. Tapi saya juga sadar, saat itu saya hanya memiliki visa tinggal tipe visiteur yaitu visa berkunjung saja, bukan visa bekerja seperti suami saya. Namun hal ini bukannya menjadikan saya putus asa, saya tetap melamar kemana-mana, dan suatu hari ada panggilan wawancara dari sebuah toko buku dari Amerika yang lokasinya disekitar daerah Opéra. Saat itu ia membutuhkan penjaga toko dibagian souvenir, hanya untuk paruh waktu. Walau demikian, saya tetap bersemangat, namun pertanyaan terakhir yang diajukan saat wawancara di telepon adalah working paper, dan saya tahu saya tidak memilikinya. Saya sudah mohon diberi waktu untuk mengurusnya, namun si pemilik toko mengatakan bahwa hal itu tidak mudah dan memakan waktu yang lama sekali, sedangkan ia membutuhkan orang saat itu juga. Ah, saya pikir untuk kerja paruh waktu saja kok sulit ya?. Dengan kecewa, saya ceritakan pengalaman ini pada suami, ia juga turut merasakan kekecewaan saya dan meminta agar saya tetap bersabar karena semuanya membutuhkan waktu juga keuletan jika ingin memperoleh sesuatu di sini. Termasuk untuk memperoleh ijin kerja.
1 comment:
This is very interesting site... »
Post a Comment