Penulis: Srie Candrawati
Annecy, Agustus 2001
Selagi kami tinggal di Perancis, tidak ada salahnya jika kami menyempatkan diri mengunjungi negara-negara Eropa lainnya jika ada waktu dan dananya. Istilahnya mumpung. Apalagi adanya perjanjian bebas visa dari beberapa negara-negara anggota uni eropa.Di Jerman, kebetulan ada teman SMA yang sudah bermukim lama di sana, semenjak lulus SMA hingga kini ia menetap disana. Kami sempat mengunjunginya pada tahun 1999, ia sudah menikah dan memiliki seorang putra, kami sempat menginap tiga malam di apartemennya. Kemudian tahun 2000 kakak perempuan saya pindah ke Jerman pula, sehingga kami berkesempatan mengujungi kakak dan suaminya di Bremen pada musim panas 2001. Berkunjung ke kota-kota lain di Eropa ini selain menambah wawasan juga kita dapat amati perbedaan kultur dan kebiasaan masyarakatnya. Biasanya, kami berpergian menggunakan jasa kereta api. Walaupun agak lebih lama di bandingkan jika naik pesawat, namun lebih ekonomis. Apalagi jika menggunakan tiket Eurorail, satu tiket untuk kemana-mana.Saat mengunjungi kakak, kami berkesempatan singgah ke Belanda, tepatnya ke Amsterdam. Kata orang, kebanyakan warga Indonesia ingin ke sana, karena di sana memang di temukan banyak hal yang mengingatkan kita pada tanah air. Selain banyaknya restoran Indonesia, baik yang di miliki orang Indonesia, ataupun yang hanya “meminjam” nama Indonesia, juga mudah di temukan produk buatan Indonesia. Produk makanan seperti tempe, bumbu-bumbu, kecap dan mie instan buatan Indonesia selalu tersedia di supermarket cina di Nieuw Markt. Kota Amsterdam ramai sekali penuh sesak dengan manusia bermacam bangsa. Soal lalu lintas, seperti kota besar pada umumnya, agak semrawut, kami perhatikan banyak pengendara yang seenaknya berbalik arah, atau melanggar rambu lalu lintas. Soal rawan, sama juga, hati-hati banyak copet dan penipu. Bahkan baru saja sampai di stasiun kereta api, kami sudah di “pepet” tukang minta-minta yang minta uangnya agak memaksa, sudah di katakan kami tidak ada gulden kami cuma ada franc atau deutch mark tetap saja memaksa. Saat itu kebetulan mata uang euro belum lagi berlaku.Lain hal saat kami di Jerman, rasanya masyarakat di sana lebih disiplin dan serba teratur. Masalah persampahan saja, sudah di atur sedemikian rupa, hingga seluruh warga terbiasa memisah-misahkan sampah rumah-tangganya. Ada bagian khusus sampah organik, sampah kertas, plastik, alumunium ataupun botol. Untuk botol terbuat dari kaca pun di pisahkan yang berwarna dan yang tidak.Di Perancis pun hal ini sudah mulai di jalankan, hanya saja tidak sebegitu banyak aturannya, sampah botol kaca dan koran atau majalah bekas misalnya, di sediakan tempat tersendiri di pinggir jalan. Juga ada tempat khusus menampung pakaian bekas dan baterai bekas di sekitar supermarket.Saya sempat berpikir, jika masyarakat sudah pandai memilah-milah sampahnya, apa masih ada profesi pemulung di Eropa ini?, rasanya tidak. Tukang sampah di sini tinggal mengangkut isi kotak-kotak sampah yang berjejer sepanjang jalan dan perumahan. Dengan menggunakan truk sampah setiap paginya, para pekerja ini hanya menaikkan bak-bak sampah secara otomatis sampah di tuang dalam truk. Yang saya perhatikan juga, banyak pekerja kasar di negara ini berasal dari negara-negara Eropa timur, Arab atau Afrika. Dengan kata lain buruh kasar rata-rata adalah pendatang.Saya teringat suatu ketika suami pernah bercerita pengalamannya sewaktu di pesawat duduk bersebelahan dengan orang Indonesia juga namun kebetulan mereka berbeda tujuan. Mereka sepesawat sejak dari Jakarta. Bapak itu sempat menanyakan tujuan suami ke Perancis, dan di jawab untuk bekerja, bapak itu santai saja bertanya “oh, kerja di restoran ya?” suami hanya tersenyum kecut.Saat itu, mungkin banyak orang belum paham mengenai profesi di bidang komputer, banyak orang bahkan saudara dekat yang masih awam tentang pekerjaan ini. Anggapannya ilmu komputer itu gampang saja, kursus tiga bulan juga bisa pakai komputer. Benar, jika hanya ingin jadi juru ketik komputer, namun yang selama kuliah kami pelajari kan jelas bukan mengetik tetapi teknologi informasinya, pemrograman dan lain-lain. Agaknya bapak tadi termasuk satu di antara masyarakat yang kurang paham dengan profesi yang masih dianggap “baru” ini.Suatu saat ada seorang ibu yang bertemu suami saya bertanya “anda bekerja di sini?, di Embassy ya?” mungkin pikir ibu itu, suami saya termasuk salah satu kader dari Deplu yang sedang tugas di Perancis. Mungkin, dulu umumnya anak muda Indonesia yang berada di luar negeri dan bekerja biasanya pelajar, mahasiswa yang di kirim tugas belajar, pegawai dari salah satu departemen pemerintah atau sekalian perantau, yang mana biasanya mungkin bekerja di restoran seperti yang di utarakan bapak tadi.
No comments:
Post a Comment