Penulis: Srie Candrawati
Annecy, April 2001
Seperti telah saya ceritakan di awal tulisan ini, kami berniat pindah apartemen. Ingin tinggal di apartemen sendiri tidak harus berbagi tempat dengan orang lain. Di apartemen kami sebelumnya, ada dua kamar tidur, satu kamar mandi, satu dapur dan ruang tamu yang cukup besar. Sebetulnya tidak buruk untuk tinggal disini, namun kami ingin adanya privasi. Di sini teman menyewa kamar lainnya. Salah satu hal yang harus sangat dihargai jika berbagi apartemen dengan orang lain adalah masalah toleransi dan rasa memiliki tempat sewaan tersebut. Sayangnya, seminggu saja kami disitu rasa tidak nyaman mulai menghinggapi.Hal yang paling mendasar adalah masalah kebersihan. Apakah tidak merasa jengkel jika kita sudah rajin membersihkan apartemen, eh, orang lain rajin pula mengotori?. Di sini bukanlah Indonesia, dimana kita bisa menyewa jasa pembantu dengan biaya tidak terlalu mahal.Bagitulah awalnya mengapa kami ingin pindah. Kami mulai “bergerilya” menelusuri kolom demi kolom harian yang di terbitkan khusus bagi pencari apartemen di Paris. Harian khusus tersebut terbit setiap hari kamis, dan biasanya pula begitu kami datang ke lokasi, kami sudah menjadi calon penyewa yang kesekian, karena siapa cepat dialah yang dapat.Biasanya kami membuat janji dengan pemiliknya untuk berkunjung di akhir pekan. Namun setelah berminggu-minggu di tengah rasa kecewa dan badan yang penat setiap akhir pekan berburu mencari apartemen, belum juga kami temukan apartemen yang sesuai, ya budgetnya, ya lokasinya juga kondisinya. Kebetulan suami menemukan sebuah majalah yang diterbitkan khusus untuk orang asing di Paris. Majalah tersebut terbit 2 kali sebulan dan gratis. Di rubrik “housing and apartement” kami menemukan satu lokasi yang menarik, letaknya ada di daerah Paris XV - untuk diketahui, kota Paris ini di bagi menjadi XX wilayah yang disebut arrondissement. Paris XV, kata orang termasuk daerah yang bagus, quartier chic menurut orang sini. Memang sangat strategis, dekat Eiffel Tower, dekat pusat-pusat kebudayaan dan kedutaan-kedutaan besar. Daerah ini juga merupakan daerah yang favorit di kunjungi turis.Kami beruntung mendapatkan janji untuk berkunjung. Begitu berada di depan gedungnya, rasanya sulit dipercaya, daerahnya tenang dan nyaman, gedungnya lumayan baru dan bersih. Bagi kami ini sangat menentukan, karena terus terang saja saya tidak begitu suka dengan bangunan tua, walaupun tetap terawat dan antik berseni kok rasanya tidak nyaman tinggal di bangunan kuno, spooky istilah baratnya. Tetapi kami sudah tahu sebelumnya bahwa apartemen yang kami incar ini tipe studio, jauh lebih mungil dari yang kami bayangkan. Mengingat budget kami untuk apartemen yang hanya 3000 franc, akanlah sulit mendapatkan apartemen sesuai angan-angan didaerah sebagus ini, jika mau ya inilah adanya. Kami minta waktu untuk memutuskannya beberapa hari kemudian dan mohon dijadikan calon penyewa yang pertama. Soal pencarian apartemen ini, sebenarnya sudah beberapa lokasi yang kami kunjungi setiap akhir pekan. Dalam memilih daerah, memang kami sangat hati-hati mengingat ada daerah-daerah tertentu di Paris yang dikategorikan rawan kejahatan.Salah satu apartemen yang kami kunjungi terletak di Paris V, adalah apartemen yang dibangun diabad ke XVIII, saat kami memasuki bangunannya, hanya disediakan tangga tidak ada lift. Letaknyapun dilantai 4, saat kami menaiki tangga, terdengar bunyi yang menandakan tangga sudah tua dan reot. Kami jadi tidak terlalu antusias saat memasuki ruangannya, walaupun bersih dan habis di renovasi. Ada lagi lokasi didaerah Bastille, daerah yang menurut orang cool and funky, karena disana berkumpul tempat-tempat hiburan buat anak muda. Tetapi di sana kami hanya diurutan ke 5 sebagai calon penyewa dan akhirnya kami harus kecewa saat mengetahui apartemen sudah diserahkan pada penyewa lain.Pada hari yang sudah di janjikan, kami memutuskan untuk menyetujui dan menandatangani kontrak apartemen yang didekat Eiffel itu. Biar mungil, lokasi itu adalah yang terbaik dari yang telah kami kunjungi. Bersiap-siaplah kami untuk pindah, rasanya bahagia sekali dan yang lebih membanggakan adalah kepuasan mendapat apartemen atas usaha sendiri. Disini, orang biasanya meminjam tenaga agen apartemen yang disebut agence immobilier untuk bantuan mencarikan apartemen. Tentunya dengan embel-embel komisi yang tidaklah kecil jumlahnya. Untuk menghindari itulah kami rela bersusah payah mencari sendiri.Tetapi kerepotan ini bukan hanya sampai disitu, karena apartemen tersebut kosong hanya disediakan kompor kecil dan kulkas. Pertanyaan berikut yang muncul, kami akan tidur dimana? dilantai?, walaupun berkarpet, pasti tidak mungkin karena kondisi cuaca sangat dingin. Walau ada pemanas dalam ruangan, bukan berarti lantainya hangat kan?.Saat mencari tempat tidur ini, kami lakukan dengan cara meneliti satu persatu kolom iklan mini di majalah bagian iklan barang-barang bekas, atau istilah kerennya second hand. Jika ada yang menarik, kami akan hubungi lewat telepon. Berhari-hari ini kami lakukan, menelepon pun kami lakukan bergantian. Biasanya malam-malam setelah suami pulang kerja dan makan malam, kami keluar mencari telepon umum. Maklum saja, telepon di apartemen kami hanya dapat di pakai untuk menerima, mungkin pemiliknya berpikir ini akan lebih mudah saat menghitung tagihan bulanan kami. Setelah di temukan tempat tidur yang harga dan spesifikasinya mendekati keinginan kami, kami langsung membuat janji berkunjung malam itu juga, masalahnya waktu pindahan semakin dekat, sedangkan barang belum juga di tangan.Beruntung kami menemukan sebuah alamat yang menawarkan tempat tidur bekas dalam kondisi yang masih prima, pemiliknya seorang wanita inggris. Dia membeli tempat tidur tersebut belum lama dan hampir tidak pernah dipakai karena dia pindah tinggal dengan pacarnya. Dengannya, kami mendapatkan harga yang sesuai dengan kantong kami saat itu. Jika harus membeli baru ditoko, harga untuk model yang serupa bisa tiga kali lipatnya. Hal-hal seperti ini kami rasakan sangat perlu, kami harus pandai-pandai berhemat, jika ingin selamat. Kami langsung membayar uang muka dan berjanji akan melunasi saat barang diambil nanti.Lalu timbul masalah berikutnya, bagaimana cara mengangkut tempat tidur tersebut ke lokasi apartemen baru kami. Walau letak lokasi tidak terlalu jauh, kami tetap harus mencari mobil untuk mengangkutnya. Sangat tidak mungkin kami bawa berdua naik métro. Tempat tidur ini cukup besar dan spring bed nya berat pula. Si pemilik tempat tidur ini sangat mengerti kondisi kami, maka ia bantu kami bernegosiasi dengan supir taksi yang mangkal di seputar apartemennya. Adalah seorang supir taksi tua yang baik hati, yang menyanggupi mengangkut barang tersebut dua kali jalan pulang-pergi dan membantu kami mengikat beberapa perlatan diatas taksinya. Beruntung tempat tidur ini bisa dipisah-pisahkan dan laci-laci dibawahnya bisa di angkut belakangan.Pada hari yang sudah di tentukan, saat itu hari jum’at sore, kami berjanji akan mengambil tempat tidur tersebut dan melunasi sisa uangnya. Seperti kebiasaan masyarakat kota, jum’at malam adalah waktu untuk melepas ketegangan selama seminggu sibuk bekerja, demikian pula dengan pasangan pemilik tempat tidur ini, mereka rencananya akan keluar kota untuk berakhir pekan. Maka, saat kami tiba sore itu, mereka langsung minta maaf tidak dapat membatu kami, karena mereka harus segera pergi. Okelah, sudah beruntung mereka mau ikut menggotong tempat tidur hingga ke lantai dasar (lagi-lagi apartemennya ini tidak ada lift, untungnya letaknya hanya dilantai dua).Setelah taksi di dapat, kami langsung berusaha mengangkut tempat tidur ini, berhubung cukup besar, ada bagian yang harus di letakkan di atas taksi.Si supir tua tadi dengan suami bergotong-royong mengikat dengan tali yang hanya alakadarnya, untung talinya cukup panjang dan kuat. Saya kebagian menunggui sisanya yang tidak terangkut, berupa 4 laci besar dan spring bed. Saya menunggu diluar apartemen. Setelah semua terangkut, kami membayar ongkos taksi beserta tipsnya sekitar 250 franc, sedangkan jika menyewa jasa transport untuk trayek sedekat itu bisa dua kali lipatnya. Ah, tenang sudah rasanya. Kamipun menunggu-nunggu saat kami dapat menempati apartemen kami diawal bulan.Di tengah-tengah rasa puas dan lega, ada satu hal yang masih menyangkut di pikiran, yaitu asuransi apartemen. Seperti kebiasaan penyewa disini, kami harus membayar asuransi untuk tempat yang kami sewa. Kami sempat terlambat menyerahkan copy sertifikat asuransi kepada pemilik apartemen, berhubung sibuk membandingkan harga premi asuransi sesuai budget kami. Untungnya si pemilik ini cukup ramah, baik hati dan sopan. Walaupun kami mendapat teguran tetapi tidak sampai dia marah-marah. Setelah asuransi kami urus, selesailah sudah masalah apartemen ini. Kini barulah kami dapat bernapas lebih lega.
2 comments:
Halo ...salam kenal saya sangat tertarik membaca Blog anda. Nama saya Jilmi ( lihat profile saya di jilmi.multiply.com) Rencananya sekitar tanggal 24 - 26 Juni ini saya akan berkunjung ke Paris dari Munich. Saat ini saya masih di Jakarta. Kami akan berangkat dari Jakarta tgl 16 ke Munich bersama Suami dan putri kami berusia 11 tahun. Bila tidak berkeberatan sudikah kiranya jika kami dapat singgah/ menginap di tempat anda? atau jika anda punya referensi guest house milik org Indo? Demikian, atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih.
Salam,
Jilmi, kami sudah pindah tidak di Eropa lagi.
Post a Comment