Annecy, Maret 2002
Sejak bayi kami lahir bulan november 2001, banyak hal yang telah kami lalui sebagai orangtua baru. Pengalaman ini sangat berharga bagi kami & kami merasa bahagia dapat melaluinya dengan baik walaupun bisa dikatakan tanpa bantuan siapa-siapa seperti jika berada di tanah air. Beberapa kenalan yang kebetulan melahirkan jauh dari tanah air biasanya mendatangkan “bala bantuan” entah itu ibunya atau saudara-saudaranya. Malahan tidak jarang seorang ibu yang melahirkan ditanah air begitu waktunya kembali keluar negeri mengikut sertakan ibunya pula.
Memang, memiliki bayi sedikit merepotkan, apalagi bagi yang baru pertama kali. Saya melahirkan di clinique générale d’Annecy dikota dimana kami tinggal. Ketika masih berada di klinik, para staf baik bidan, suster dan dokter sedikit banyak membekali kami dengan cara-cara merawat bayi. Mulai dengan cara memandikan, menyusui, mengganti popok dan lain sebagainya.Soal menangis?, nah ini yang harus kami temukan sendiri jawabannya. Memang saya akui bahwa seminggu pertama berada di klinik saya nyaris putus asa dan stress menghadapi makhluk mungil kami. Namun berkat kesabaran dan kesungguhan semua pihak, baik dari kami ibu-bapak si bayi juga para staf di klinik, semua nyaris dapat teratasi.
Saya ingat betul hari-hari itu, dimana saya masih kelelelahan sehabis melahirkan dan baru tahu bagaimana mekanisme keluarnya ASI apalagi buat ibu yang baru pertama ini menyusui bayinya. Benar-benar butuh kesabaran, keteguhan hati dan keuletan bagi yang baru pertama kali menyusui bayi. Suster mengatakan berulang-ulang bahwa tiga hari pertama si ibu baru memproduksi kolostrum, yaitu cairan bening yang berisi zat-zat antibodi bagi bayi, ini penting sekali didapat oleh bayi untuk memperkuat daya tahan tubuhnya. Baru setelah itu air susu ibu akan keluar, itupun dengan bantuan bayi, makin sering bayi menyusu, payudara ibu akan terstimulasi untuk memproduksi dan mengeluarkan ASI bagi si bayi. Jadi kedua belah pihak, baik ibu maupun bayinya harus saling kerjasama.
Saya nyaris berkecil-hati karena saya berpikir bayi saya menangis karena lapar, berat badannya tiga hari pertama itu turun. Semua suster berkata hal itu wajar, semua bayi akan turun beratnya dihari-hari pertamanya, karena banyak cairan yang terbuang, ia juga mengatakan bahwa akan saya temukan kotoran pertamanya yg berwarna kehitaman, itu semua normal, memang begitulah mekanismenya.Tetapi, pada hari keempat saya tidak kuasa menahan rasa sedih dan bingung, saya nyaris putus asa karena bayi kami tiap jam menangis, seolah tiada lagi waktu bagi saya beristirahat.
Kesabaran kami benar-benar di uji olehnya. Hari itu saya sempat menangis sendiri, saat saya menangis itu bertepatan dengan kunjungan keliling dokter. Dokter menanyakan apa yang menyebabkan saya menangis? saya hanya menjawab bahwa berat bayi saya turun, sedangkan saya tidak tahu harus berbuat apa selain menyusuinya. Dokter itu berkata bahwa semua butuh waktu, nanti juga ibu akan memproduksi ASI yang cukup. Namun nampaknya dokter tersebut diam-diam menyarankan agar suster memberi saya pil anti-depresan. Saya heran hari itu banyak suster menjenguk dan mengajak saya ngobrol sembari mengatakan kalau wajar jika ibu sedikit depresi, itu dikenal dengan baby-blues kata mereka.
Saya sudah mengetahui dan mengantisipasi masalah baby-blues ini, karena banyak saya baca di artikel-artikel di majalah. Akan tetapi saat hal itu menghinggapi saya, saya tidak kuasa menahannya. Sebenarnya yang mengakibatkan saya menangis hari itu, setelah saya kaji kembali kini, adalah akibat perasaan sepi dan keseorang-dirian bersama bayi yang baru lahir, tanpa ada petunjuk, bantuan serta uluran tangan seperti yang didapat teman-teman saya umumnya ditanah-air.
Rasa lelah setelah melahirkan di tambah tidak sempat beristirahat, menimbulkan perasaan menjadi sangat rapuh. Dukungan moril hanya saya dapatkan dari suami yang menunggui saya setiap malam sepulangnya dari kantor. Perjuangan suami saya akui sangat besar, saya tahu kalau dia lebih merasakan stress dan lelah dari pada saya. Paginya ia ke kantor, bekerja seharian, sepulangnya langsung menuju klinik dan menginap bersama saya dan bayi kami yang menangis tak kenal waktu. Saat itu bertepatan pula dengan bulan ramadhan, sehingga sahurnya dilakukan di klinik.
Sekembalinya dari klinik rasanya kami lebih tenang berada di apartemen kami lagi. Kami bebas menentukan jadwal bagi bayi kami, sayapun lebih bebas menyusui dimana dan kapan saja. Beruntungnya kami di perancis ini, suami di perbolehkan mengambil cuti sebulan! hal ini sangatlah membantu saya, dimana bulan pertama adalah masa-masa penyesuaian bagi kami dan si bayi, masa-masa yang paling berat menurut kami. Hal lain yang menguntungkan adalah kami tidak perlu mengeluarkan biaya apapun jika ingin menimbang dan memeriksakan bayi ke dokter di PMI (Protection Maternelle et Infantile) - yaitu pelayanan kesehatan bagi anak usia 0 hingga 6 tahun, bahkan saat minggu pertama sepulangnya dari klinik, bidan dari PMI datang menjenguk bayi kami dirumah, menimbangnya dan memberikan nasehat-nasehat berharga bagi kami orangtuanya. Salah satu nasehatnya agar kami tidak menyalakan pemanas ruangan berlebihan, maklum saat itu musim dingin dan kami terlalu takut bayi kami kedinginan.
Kini, jika kami mengenang kembali masa-masa tersebut, kami dapat tersenyum dan bersyukur hingga kini bayi kami sehat, cerdik dan aktif. Sayapun tidak lagi merasa iri dengan teman-teman lain yang dikelilingi keluarganya saat baru melahirkan bayi, bahkan merasa puas dengan apa yang berhasil kami lakukan sendiri. Saya tidak perlu kebingungan dengan macam-macam nasehat dari sana-sini yang belum tentu sesuai dengan kemauan kita, kebiasaan-kebiasaan orangtua kita umumnya yang kadang malah membebani pikiran dan tenaga kami sebagai orangtua baru, seperti misalnya kebiasaan menggendong dan menina bobokkan hingga bayi tidur dan lain sebagainya. Disini kami merasa tenang dan bebas menentukan yang terbaik bagi kami dan tentu saja bagi bayi kami tercinta. Disini kami mengambil hal-hal baik yang dapat kami terapkan, misalnya sejak usia 3 bulan bayi kami tidak lagi tidur bersama kami dan sejak usia 6 bulan kami pisah kamar dengan bayi kami. Hal ini ternyata banyak sekali manfaatnya baik bagi kami maupun bagi bayinya.
Memang, memiliki bayi sedikit merepotkan, apalagi bagi yang baru pertama kali. Saya melahirkan di clinique générale d’Annecy dikota dimana kami tinggal. Ketika masih berada di klinik, para staf baik bidan, suster dan dokter sedikit banyak membekali kami dengan cara-cara merawat bayi. Mulai dengan cara memandikan, menyusui, mengganti popok dan lain sebagainya.Soal menangis?, nah ini yang harus kami temukan sendiri jawabannya. Memang saya akui bahwa seminggu pertama berada di klinik saya nyaris putus asa dan stress menghadapi makhluk mungil kami. Namun berkat kesabaran dan kesungguhan semua pihak, baik dari kami ibu-bapak si bayi juga para staf di klinik, semua nyaris dapat teratasi.
Saya ingat betul hari-hari itu, dimana saya masih kelelelahan sehabis melahirkan dan baru tahu bagaimana mekanisme keluarnya ASI apalagi buat ibu yang baru pertama ini menyusui bayinya. Benar-benar butuh kesabaran, keteguhan hati dan keuletan bagi yang baru pertama kali menyusui bayi. Suster mengatakan berulang-ulang bahwa tiga hari pertama si ibu baru memproduksi kolostrum, yaitu cairan bening yang berisi zat-zat antibodi bagi bayi, ini penting sekali didapat oleh bayi untuk memperkuat daya tahan tubuhnya. Baru setelah itu air susu ibu akan keluar, itupun dengan bantuan bayi, makin sering bayi menyusu, payudara ibu akan terstimulasi untuk memproduksi dan mengeluarkan ASI bagi si bayi. Jadi kedua belah pihak, baik ibu maupun bayinya harus saling kerjasama.
Saya nyaris berkecil-hati karena saya berpikir bayi saya menangis karena lapar, berat badannya tiga hari pertama itu turun. Semua suster berkata hal itu wajar, semua bayi akan turun beratnya dihari-hari pertamanya, karena banyak cairan yang terbuang, ia juga mengatakan bahwa akan saya temukan kotoran pertamanya yg berwarna kehitaman, itu semua normal, memang begitulah mekanismenya.Tetapi, pada hari keempat saya tidak kuasa menahan rasa sedih dan bingung, saya nyaris putus asa karena bayi kami tiap jam menangis, seolah tiada lagi waktu bagi saya beristirahat.
Kesabaran kami benar-benar di uji olehnya. Hari itu saya sempat menangis sendiri, saat saya menangis itu bertepatan dengan kunjungan keliling dokter. Dokter menanyakan apa yang menyebabkan saya menangis? saya hanya menjawab bahwa berat bayi saya turun, sedangkan saya tidak tahu harus berbuat apa selain menyusuinya. Dokter itu berkata bahwa semua butuh waktu, nanti juga ibu akan memproduksi ASI yang cukup. Namun nampaknya dokter tersebut diam-diam menyarankan agar suster memberi saya pil anti-depresan. Saya heran hari itu banyak suster menjenguk dan mengajak saya ngobrol sembari mengatakan kalau wajar jika ibu sedikit depresi, itu dikenal dengan baby-blues kata mereka.
Saya sudah mengetahui dan mengantisipasi masalah baby-blues ini, karena banyak saya baca di artikel-artikel di majalah. Akan tetapi saat hal itu menghinggapi saya, saya tidak kuasa menahannya. Sebenarnya yang mengakibatkan saya menangis hari itu, setelah saya kaji kembali kini, adalah akibat perasaan sepi dan keseorang-dirian bersama bayi yang baru lahir, tanpa ada petunjuk, bantuan serta uluran tangan seperti yang didapat teman-teman saya umumnya ditanah-air.
Rasa lelah setelah melahirkan di tambah tidak sempat beristirahat, menimbulkan perasaan menjadi sangat rapuh. Dukungan moril hanya saya dapatkan dari suami yang menunggui saya setiap malam sepulangnya dari kantor. Perjuangan suami saya akui sangat besar, saya tahu kalau dia lebih merasakan stress dan lelah dari pada saya. Paginya ia ke kantor, bekerja seharian, sepulangnya langsung menuju klinik dan menginap bersama saya dan bayi kami yang menangis tak kenal waktu. Saat itu bertepatan pula dengan bulan ramadhan, sehingga sahurnya dilakukan di klinik.
Sekembalinya dari klinik rasanya kami lebih tenang berada di apartemen kami lagi. Kami bebas menentukan jadwal bagi bayi kami, sayapun lebih bebas menyusui dimana dan kapan saja. Beruntungnya kami di perancis ini, suami di perbolehkan mengambil cuti sebulan! hal ini sangatlah membantu saya, dimana bulan pertama adalah masa-masa penyesuaian bagi kami dan si bayi, masa-masa yang paling berat menurut kami. Hal lain yang menguntungkan adalah kami tidak perlu mengeluarkan biaya apapun jika ingin menimbang dan memeriksakan bayi ke dokter di PMI (Protection Maternelle et Infantile) - yaitu pelayanan kesehatan bagi anak usia 0 hingga 6 tahun, bahkan saat minggu pertama sepulangnya dari klinik, bidan dari PMI datang menjenguk bayi kami dirumah, menimbangnya dan memberikan nasehat-nasehat berharga bagi kami orangtuanya. Salah satu nasehatnya agar kami tidak menyalakan pemanas ruangan berlebihan, maklum saat itu musim dingin dan kami terlalu takut bayi kami kedinginan.
Kini, jika kami mengenang kembali masa-masa tersebut, kami dapat tersenyum dan bersyukur hingga kini bayi kami sehat, cerdik dan aktif. Sayapun tidak lagi merasa iri dengan teman-teman lain yang dikelilingi keluarganya saat baru melahirkan bayi, bahkan merasa puas dengan apa yang berhasil kami lakukan sendiri. Saya tidak perlu kebingungan dengan macam-macam nasehat dari sana-sini yang belum tentu sesuai dengan kemauan kita, kebiasaan-kebiasaan orangtua kita umumnya yang kadang malah membebani pikiran dan tenaga kami sebagai orangtua baru, seperti misalnya kebiasaan menggendong dan menina bobokkan hingga bayi tidur dan lain sebagainya. Disini kami merasa tenang dan bebas menentukan yang terbaik bagi kami dan tentu saja bagi bayi kami tercinta. Disini kami mengambil hal-hal baik yang dapat kami terapkan, misalnya sejak usia 3 bulan bayi kami tidak lagi tidur bersama kami dan sejak usia 6 bulan kami pisah kamar dengan bayi kami. Hal ini ternyata banyak sekali manfaatnya baik bagi kami maupun bagi bayinya.
No comments:
Post a Comment