Penulis: Srie Candrawati
Annecy, Juni 2001
Sejak awal tahun 2000 ibu saya mulai mengeluh sakit dan akhirnya seringkali ke dokter, lalu keluar-masuk rumah-sakit. Dugaan ibu awalnya, mungkin keseleo, salah urat, kok nyeri di punggung tidak hilang-hilang. Memang saat sebelum berangkat ke Paris dulu, kami sempat pergi berbelanja berdua ke pusat perbelanjaan di Jakarta. Saat itu ibu ingin mencoba sandal yang kebetulan berada di rak paling bawah, saat itulah, katanya ibu keseleo. Maklum saja, ibu saat itu sudah berusia cukup lanjut. Mungkin tulang-tulangnya tidak sekuat orang muda lagi, apalagi setelah ibu juga pernah di diagnosis menderita osteoporosis atau kerapuhan tulang. Semenjak itu ibu sudah rajin minum susu, namun pencegahan osteoporosis seharusnya sudah dilakukan semenjak dini, sejak masih usia kanak-kanak. Jadi nampaknya usaha ibu kurang berarti. Apa lagi ibu penganut vegetarian.Bapak, dilain pihak, juga sudah lama menderita sakit jantung. Saat tahun 1998 seharusnya bapak menjalani operasi jantung, karena menurut dokter ada klep yang bocor. Usia bapak berbeda 9 tahun lebih tua dari ibu, kondisinya pun saat itu sudah lemah. Maka, operasi yang disarankan oleh dokter rasanya tidak sanggup lagi dijalani bapak.Sulit dibayangkan, bapak yang selama ini kuat dan selalu bersemangat, makin hari bertambah lemah fisiknya. Saya masih terbayang, ditahun 1997 saat berusia 72 tahun bapak masih pergi ke kantor di daerah Cimanggis. Bapak masih sangat bersemangat mengelola BPR yang dijalankan bersama teman-temannya. Semenjak diagnosis dokter, bapak mulai langganan jadi pasien rumah sakit dan memutuskan pensiun total. Sebetulnya, bapak sudah pensiun sejak kami masih duduk di bangku sekolah, tahun 1983. Tetapi karena tanggung-jawabnya yang sangat besar terhadap keluarga dan kelangsungan studi kami semua, bapak terus bekerja hingga beberapa kali pindah tempat kerja sampai akhirnya mengelola BPR tahun 1998 itu.Saat saya dan suami tinggal di luar negeri kami secara rutin menelepon untuk mendapat kabar dan perkembangan kondisi orangtua kami, kami selalu berharap kondisi keduanya membaik. Kebetulan kakak pertama saya perempuan dan hampir disaat yang bersamaan kami pindah ke luar negeri mengikuti suami masing-masing. Sebelumnya, kakak tinggal di Beijing selama setahun lalu kemudian pindah ke Jerman disaat yang hampir bersamaan saya dan suami pindah ke Annecy. Kakak lebih sering pulang ke tanah-air saat masih di Beijing, dia sering mengabari bagaimana kondisi orang-tua kami. Kami ada 4 bersaudara, kakak saya ini yang pertama, lalu kakak laki-laki saya di Jakarta, saya dan kemudian adik laki-laki juga berada di Jakarta. Jadi kedua anak laki-laki yang berada di tanah airlah yang lebih sering menunggui kedua orang-tua kami.Menurut kabar, ibu khususnya sangat rindu dengan anak-anak perempuannya. Hal ini dapat dimaklumi, karena bagaimanapun biasanya ibu lebih merasa nyaman jika ditemani anak-anaknya yang perempuan. Kami menyadari akan hal ini, namun kami tidak bisa berbuat banyak kecuali sering mengirim kabar dan menanyakan kabar ibu. Kami sedang menata kehidupan kami di negeri orang, rasa rindupun kami rasakan, walau kami berusaha kuat untuk tidak terlalu larut di dalamnya. Lain hal dengan ibu, nampaknya rasa rindu yang sangat hebat menyebabkan ibu sakit. Dari diagnosis-diagnosis yang di jalankan diperoleh kepastian ibu menderita kanker stadium II. Tumor ganas ini ditemukan dibelakang kuping dan payudara sebelah kiri. Ibu langsung mendapat perawatan intensif di rumah-sakit. Operasi pengambilan tumor di lakukan, dan ibu harus rutin menjalani kemoterapi.Bulan Oktober 2000, kondisi ibu semakin lemah. Kelihatannya ibu tidak kuat menahan rasa mual akibat efek kemoterapi. Ibu tidak bisa makan secara normal dan harus mendapat bantuan infus. Tubuhnya makin hari makin lemah dan kurus. Ibu tetap bersikukuh tidak ingin merepotkan kami yang berada jauh dibenua Eropa untuk pulang, jika kami telepon ke bapak pun, bapak hanya berkata “ya, kalau bisa pulang lebih baik”. Berita ini tentu saja membuat kami panik dan sedih, kakak saya langsung pulang ke tanah air, sedangkan saya dan suami rencananya pulang bulan depannya, kebetulan suami ada tugas kerja ke Singapore dan Malaysia, jadi saya bisa ikut “nebeng” pulang ke RI.Dari berita yang kami peroleh, semenjak kakak perempuan saya pulang, ibu sedikit demi sedikit pulih selera makannya karena disuapi oleh kakak. Dia rajin datang dan menghibur ibu di rumah-sakit. Kemudian pihak rumah sakit memberi ibu izin “cuti”, jika akhir-pekan diperbolehkan pulang ke rumah dan masuk rumah-sakit kembali hari seninnya.Alangkah senangnya ibu, yang sejak tiga bulan berada di rumah-sakit, diperbolehkan menginap di rumah sendiri. Hal ini, kemudian menjadikan ibu tidak mau kembali lagi ke rumah-sakit. Ibu bersikukuh menjalankan rawat jalan dan tinggal di rumah saja. Kenyataan ini awalnya membuat kami kalang-kabut, banyak peralatan dan obat-obatan yang harus disiapkan, termasuk tabung gas, kursi roda, pampers untuk orang tua dan sebagainya yang selama ini disediakan dari rumah-sakit. Kakak perempuan saya awalnya yang kebagian menjadi “perawat” dadakan. Selama sebulan ia merawat ibu, seperti saat ibu merawat kami selagi bayi dulu. Namun hal ini tidak dapat berlangsung lama, karena bagaimanapun kakak saya harus kembali ke Jerman. Diputuskanlah untuk menyewa jasa suster untuk merawat ibu sehari-hari di rumah. Tiba saatnya saya dan suami pulang ke tanah-air, dan kakak kembali ke Jerman. Ibu kelihatan sangat kehilangan dan sedih melepas kakak.Saat saya dan suami berada di Jakarta, bapak kembali harus masuk rumah sakit. Bagi kami hal ini sudah terjadi rutin, dan biasanya setelah kurang lebih 4 atau 5 hari bapak diperbolehkan pulang. Keluhan bapak biasanya sesak napas dan hilang napsu makannya. Kami sempat menengok bapak di rumah-sakit, nampaknya bapak sudah lebih segar dan ceria. Jalannya walau perlahan-lahan namun tidak memerlukan bantuan untuk berjalan seputar kamarnya, dan bisa pergi sendiri ke kamar mandi. Bapak terlihat senang mendengar kabar bahwa saya positif hamil saat itu, hal tersebut selalu di tunggu dan di tanyakan olehnya dan ibu pada kami. Mereka selalu bertanya, mengapa kami harus terus menunda-nunda.Kami hanya dapat tinggal di Jakarta selama seminggu, karena pekerjaan suami sudah menunggu dan cuti yang kami ambil hanya seminggu. Kami kembali ke Perancis akhir-pekan itu. Pekan berikutnya kami mendapat telepon pagi-pagi sekali pukul 4 waktu Perancis. Saat itu di Jakarta kira-kira pukul 10 pagi. Kakak mengabari berita duka, bapak telah pulang kehadirat Nya. Bapak meninggal saat masih berada di rumah sakit. Walaupun kami langsung memesan tiket pulang ke tanah-air, kami tidak sempat lagi melihat bapak untuk terakhir kalinya. Menurut agama kami, bapak harus secepatnya di kebumikan. Sedangkan perjalanan kami dari Eropa ke Asia Tenggara memakan waktu cukup lama. Lama kami merenungkan hal ini, sepanjang perjalanan pulang kembali ke Jakarta, hanya ada rasa sedih dan sesal yang menyesakkan dada. Timbul pertanyaan “mengapa?”, bapak kelihatannya segar dan membaik saat kami tinggalkan. Jika saja kami tahu, kami tidak akan pulang ke Perancis secepat itu. Namun saya sadar, pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan merubah apa-apa. Banyak pertanyaan yang ingin rasanya saya ajukan ke bapak, rasanya belum cukup waktu kita bertemu. Dan, pertanyaan-pertanyaan itu tetap tidak akan ada jawabnya.Ada teman baik yang pernah berkata, jika memang jodoh perasaan suami-istri biasanya dapat saling berkomunikasi walau hanya dalam bathin, apa yang di bathin biasanya sama. Mungkin karena itu jugalah, ibu yang di tinggal bapak tidak lama kemudian meninggal dunia. Seperti saya utarakan diawal bab ini, ibu sudah sejak lama sakit. Saat bapak meninggal, ibu baru kira-kira sebulan keluar dari rumah sakit setelah tiga bulan lebih dirawat dan menjalani kemoterapi. Menurut kami, kondisi ibu yang belum stabil baik secara lahiriah maupun bathiniah banyak mempengaruhi kondisi kesehatan ibu selanjutnya.Saat itu, penyakit ibu berawal dari flu dan batuk, menurut ibu saat itu memang sedang musim sakit flu dan seluruh anggota keluarga di rumah juga sakit flu dan batuk, jelas saja ibu yang kondisinya paling lemah cepat ketularan. Namun, ternyata sakit flu dan batuk ibu tidak kunjung sembuh, setiap kami menelepon ke tanah air, ibu masih juga sakit dan suaranyapun lemah. Ibu sudah berobat ke dokter dan sudah pula minum obat sesuai petunjuk dokter, tetapi tetap kondisi tidak juga membaik. Seminggu terakhir sebelum opname, ibu tidak bisa makan, susah menelan keluhannya, ibu menduga riak batuk ibu tidak mau keluar dan menyumbat tenggorokan. Ibu juga enggan diajak berobat kali ini, katanya badannya lemas buat pergi walaupun ada kakak dan adik yang siap mengantar.Karena hanya minum jus buah-buahan dan sedikit sekali makanan yang ibu makan, akhirnya kondisi ibu memburuk dan harus langsung dibawa ke rumah sakit bagian ICCU. Selama kurang lebih empat hari dirawat kondisi ibu masih belum membaik, malahan pada hari Senin 18 Juni 2001 sempat jantung ibu berhenti berfungsi dan pihak rumah sakit harus menggunakan alat pacu jantung. Pada pagi hari sekitar pukul 8.00 WIB tanggal 20 Juni 2001 ibu pergi untuk selamanya. Saat mendapat kabar dari tanah air, kami langsung mendoakan agar Allah SWT menerima semua amal kebaikan ibu selama hidupnya dan dilapangkan jalannya. Kami tidak dapat pulang ke tanah air karena saat itu saya sedang mengandung. Kami hanya dapat mendoakan dan mengikhlaskan kepergian ibu dan selalu mengenang segala kebaikannya.