Penulis: Srie Candrawati
Annecy, April 2001
Ada beberapa acara yang biasa kami tunggu-tunggu yaitu hari-hari besar dimana kami biasa merayakan juga di tanah-air, seperti Hari Raya, Tahun Baru dan bulan Ramadhan.Mengapa?, setelah kami tinggal disini, barulah kami merasakan nikmatnya merayakan hari-hari itu bersama teman-teman dan sanak saudara semasa tinggal di tanah air. Di Paris kami dapat juga merayakan hari-hari tersebut bersama masyarakat Indonesia di Perancis, biasanya di acara-acara tersebut di langsungkan di KBRI atau wisma duta dan biasanya juga dihidangkan berbagai masakan khas tanah-air yang sangat kami rindukan.Di bulan puasa misalnya, di sini bukanlah merupakan bulan istimewa bagi kebanyakan masyarakat perancis. Hanya kaum muslimin dan muslimat yang menjalankannya saja yang dapat merasakan istimewanya. Jauh berbeda jika kami mengingat bulan puasa di tanah-air, yang di seluruh pelosok dikumandangkan adzan maghrib tanda berbuka, dan sahur bersama sanak-saudara. Perasaan seperti itu yang kadang membuat kami rindu.Di Paris acara berbuka dan shalat tarawih bersama masyarakat Indonesia biasanya di adakan di aula KBRI. Ada pula shalat tarawih di mesjid besar Paris sepanjang bulan suci ini. Masyarakat Perancis beragama Islam biasanya keturunan Arab atau Afrika, bersama merekalah biasanya suami menjalankan pula ibadah shalat hari jum’at atau “jum’atan”.Ramadhan di negeri orang memang berat rasanya, di mana-mana terlihat orang makan dan minum, merokok dan sebagainya. Namun waktu berpuasa kami, jika di musim dingin sangat pendek jika dibandingkan berpuasa di tanah-air. Saat ini subuh sekitar pukul 7 pagi dan maghrib sekitar pukul 5 sore.Lain hal jika bertepatan dengan musim panas, waktu berpuasa kami akan sangat panjang, karena matahari terbenam kira-kira pada pukul 10 malam.Pemandangan lain yang kami rindukan, adalah saat berbuka puasa. Selama di Jakarta dulu, menjelang saat berbuka, dimana-mana sudah berjejer orang menjajakan berbagai macam bubur dan makanan ringan untuk berbuka di jalan. Jalanan-jalanan yang macet disekitar pusat perkantoran dan perbelanjaan di sana menjadikan kita jarang sekali bisa berbuka di rumah masing-masing. Belum lagi, kerjaan yang mungkin masih harus di lanjutkan selepas berbuka.Disinipun biasanya saya lebih sering berbuka sendiri, karena suami bekerja hingga pukul 7 malam dan biasanya dia berbuka di kantor dengan membeli kopi atau coklat di mesin otomatis yang ada. Barulah, berbuka atau makan malam di rumah.Kemudian, acara tahun baru. Di sini biasanya di ramaikan oleh pesta kembang api dan parade sepanjang Champs Elysées. Pesta kembang api berpusat di Eiffel tower dan Troccadero. Acara ini juga lazim diadakan saat hari kemerdekaan perancis tanggal 14 Juli. Biasanya sejak sore hari calon penonton sudah berkumpul di sepanjang sungai Seine menunggu acara dimulai sembari menggelar acara piknik di rerumputan pinggir sungai. Sedangkan hari kemerdekaan RI biasanya di rayakan di KBRI Paris, umumnya acara yang di tunggu-tunggu warga Indonesia adalah jika di adakan jamuan makan siang. Demikian pula saat pergantian tahun dan hari besar agama. Kami sempat hadir saat wisma Indonesia mengadakan acara open house di Hari Raya Idul Fitri. Malah dengar-dengar ada rekan-rekan yang sengaja berkeliling untuk menghadiri acara open house ini, biasanya dubes kita untuk Unesco juga membuka pintunya bagi masyarakat Indonesia untuk bersilaturahmi. Kita lihat cukup banyak juga ternyata warga Indonesia di Perancis jika sedang berkumpul demikian, dimana ada gula disitu ada semut, dimana ada acara makan gratis di situlah masyarakat kita berkumpul.....
No comments:
Post a Comment