Penulis: Srie Candrawati
Annecy, Juli 2001
Suatu hari disaat saya sedang asyik di hadapan komputer di rumah dan melanjutkan tulisan ini, tiba-tiba saja telepon berdering. Biasanya, suami menelepon dari kantor atau teman-teman yang mengajak jalan-jalan atau bersepeda sekitar danau.Kali ini ternyata dugaan saya meleset, di seberang sana terdengar suara pria perancis yang menanyakan suami saya. Setelah saya tanyakan dari mana, dia jawab “je suis le mari de Nirwana” atau saya suaminya Nirwana (sebut saja demikian namanya). Nirwana ini orang indonesia juga. Saya katakan saya tidak mengenal nama itu, dan dia bilang suami saya mungkin tahu. Pikir saya, oh, mungkin ini teman suami, sambil membatin juga, kok saya bisa tidak kenal ya?, suami kenalan di mana nih?.Tetapi tanpa pikir panjang saya katakan suami saya berada di kantor, dan saya berikan nomor teleponnya. Tidak lama, saya penasaran juga dan saya hubungi suami di kantor, dia langsung bercerita baru saja mendapat telepon “aneh” dari suami orang.Katanya, orang tadi mengetahui nomor telepon rumah dan alamat kami dari internet, melalui alamat email yang kami punya. Dia juga bercerita bahwa istrinya - si Nirwana itu minggat dari rumah dengan meninggalkan alamat email ini. Bagaimana bisa? kami pikir hal ini sangat janggal, namun pria ini nampaknya hampir putus asa mencari istrinya yang tiba-tiba menghilang. Dia katakan, dia tidak akan memarahi istrinya, jika memang ingin berpisah ia inginkan dengan cara yang baik-baik, karena banyak hal yang harus di urusnya, ia sebenarnya khawatir jika ada kejadian yg tidak di inginkan yg di alami istrinya, mungkin di culik atau apa. Wah, bapak ini kebanyakan menonton film, kami pikir. Makin bingunglah suami saya mendengar pengakuan pria yang kehilangan istri ini. Suami saya katakan, ia tidak tahu-menahu mengenai masalah ini, kenal saja tidak dengan Nirwana. Kamipun tidak menyembunyikan siapa-siapa di rumah, kecuali bayi yang masih bersembunyi dalam perut saya. Pria ini akhirnya mau mengerti dan menutup pembicaraannya.Mendengar berita ini, saya berpikir, cerita macam begini biasanya hanya kami saksikan di TV atau kami baca di novel. Namun, ini benar-benar terjadi. Rasanya aneh juga buat kami berdua, kehidupan sedang tenang tiba-tiba heboh oleh telepon dari orang yang tak di kenal, mencari istri yang hilang lagi.Malam hari saat kami selesai makan malam dan sedang asyik duduk di depan TV, telepon genggam suami kembali berbunyi. Pria ini lagi. Kali ini, suami saya dengan sabar mendengarkan kisahnya. Di kisahkannya bahwa ia dan istrinya itu punya problem empat bulan yang lalu, lalu ia menyarankan agar istrinya merenungkan kembali kelanjutan pernikahan mereka dan menganjurkan agar istrinya pulang dulu ke Ujung Pandang (kampung halamannya) selama tiga bulan. Jika ia ingin melanjutkan kehidupan mereka bersama di Perancis, kembalilah. Jika tidak ya, tidak perlu kembali lagi dan Pria ini - sebut saja Michel - akan mengurus perceraian mereka.Kenyataannya, setelah sebulan di tanah air, Nirwana kembali ke pangkuannya, mereka melewati hari-hari indah bersama dan sempat berlibur pula di musim panas ke pantai. Ia pikir semua sudah beres, apalagi Nirwana mengatakan bahwa ia kini dapat menerima kehidupannya di Perancis bersama Michel, sebagai suaminya. Alangkah bahagianya Michel mendengar ini.Mereka kembali dari liburan musim panas di hari minggu, dan hari senin nya seperti biasa Michel pergi ke kantor. Sepulangnya dari kantor, ia mendapati istrinya telah pergi membawa seluruh milik pribadinya, tidak ada selembar pakaian istrinya lagi yang tertinggal. Ia hanya mendapatkan secarik surat, yang menyatakan istrinya meninggalkannya dan bahwa istrinya menemukan “orang lain”. Di surat itulah, ia cantumkan jika ada keperluan hubungi alamat email ini. Alamat email inilah sumber ketersangkut-pautnya kami dengan masalah Michel-Nirwana.Entah dari mana si Nirwana ini bisa menyebutkan alamat email ini, sedangkan menurut suaminya sendiri ia kurang pandai menggunakan komputer. Inilah yang menjadikan tanda tanya besar baginya.Bagi kami, masalah email ini bukan cara memecahkan permasalahan, kini Michel sudah tahu bahwa kami tidak terlibat apapun dengan istrinya. Kami menganjurkan untuk menghubungi KBRI dan melaporkan berita kehilangan ini, atau jika perlu hubungi polisi untuk bantuannya melacak jejak istrinya.Ia masih ragu-ragu, karena menurutnya ini adalah masalah personal, tetapi ia berjanji akan menghubungi kenalannya di KBRI.Keesokan harinya, giliran saya mendapat telepon dari KBRI. Seorang wanita di seberang sana menanyakan hal-hal yang sama mengenai hilangnya Nirwana dari rumah Michel. Saya jawab dengan jawaban yang sama pula, bahwa kami tidak kenal dan tidak ada sangkut-pautnya dengan masalah ini. Wanita ini, sebut saja Brenda, adalah kenalan Michel dan ia bekerja di KBRI. Ia mengatakan terima kasih atas keterangan saya dan mengundang saya datang ke Paris dalam rangka HUT RI tanggal 17 Agustus nanti. Saya renungkan lagi masalah ini, bagi kami gangguan seperti ini tidaklah memberatkan walau memang mengganggu. Tidak dapat di elakkan kami jadi membahas cerita ini di rumah, rasanya kasihan juga Michel, apa yang menyebabkan Nirwana pergi. Apakah benar Nirwana “kecantol” orang lain, atau ia di culik orang dan di paksa menulis surat seperti itu?. Tetapi, kenapa semua barangnya di bawa pergi pula?, sepertinya semua sudah di atur dan di rencanakannya. Sayangnya, kami ini bukan detektif, jadi mohon maaf jika kami tidak dapat mengungkap misteri hilangnya Nirwana. Semoga Michel di berikan jalan untuk memecahkan persoalannya.
1 comment:
What a great site dale jr area rugs Refinancing equity loans ga
Post a Comment