Penulis: Srie Candrawati
Annecy, Agustus 2001
Tiap-tiap orang tentu punya pendapat dan pandangan yang berbeda-beda terhadap suatu permasalahan. Begitu pula dengan teman-teman setanah air yang kebetulan bertemu di sini, tidak semuanya senang tinggal di luar negeri. Tidak semua ingin menetap lama di sini. Ada seorang teman, yang menikah dengan pria perancis dan tinggal di daerah Bourgogne, awalnya, mungkin ia menyangka menikah dengan orang “bule” dan tinggal di perancis adalah pilihan tepat. Seperti juga rata-rata pasangan yang baru menikah, tentunya di sertai berbagai impian yang indah-indah akan masa depan yang akan di lalui bersama. Mereka kemudian memiliki bayi perempuan, tentulah rasa bahagia berlipat ganda. Segudang cita-cita tertanam di hati termasuk keinginan untuk dapat menyekolahkan si kecil nanti di luar negeri.Kami bertemu pasangan ini kira-kira saat kami pindah ke Annecy tahun 2000. Kami juga kadang saling bertelepon dan bertemu, walau jarak tempat tinggal agak berjauhan. Setahun kemudian saya mulai mendengar keluhan sang istri, teman kami ini mengeluhkan sulitnya hidup di Perancis. Ia sempat berkata “jika kita yang di tanah air hidup kekurangan, tentulah hidup di sini bagai di surga. Tetapi jika di tanah air sudah berkecukupan, hidup di sini seperti neraka”. Saya hanya manggut-manggut saja mendengarkannya. Apa iya sih demikian, pikir saya saat itu, wallahualam. Memang nampaknya dia di tanah air terbiasa punya pembantu, punya supir pribadi pendek kata hidup berkecukupanlah. Ia berceritera bahwa bisnis suaminya sedang dalam kondisi yang tidak menguntungkan. Ia pun tidak betah hanya tinggal di rumah saja, ia ingin pula bekerja. Dengan demikian, anak semata wayangnya harus ia titipkan pada pengasuh atau ibu mertua selama ia bekerja. Hal ini kemudian ia sesali, karena anaknya yang mulai pandai meniru, mengeluarkan kata-kata kasar yang tidak pernah ia ucapkan apalagi mengajari.Beberapa saat kemudian, perusahaan dimana ia dan suaminya bekerja kesulitan dana. Untuk membayar pajak dan gaji pegawaipun sulit, hingga di putuskan untuk di tutup saja. Rekan ini memilih untuk pulang ke tanah air, ia berhasil meyakinkan suaminya bahwa di tanah air keadaan akan lebih baik dan mudah untuk berusaha. Saya akui, rekan saya ini orangnya memang ulet, saya percaya jika ia mengatakan akan berbisnis di Indonesia dia akan sangat bersungguh-sungguh menjalankannya. Lain lagi dengan rekan saya lainnya, ia juga sama-sama menikah dengan orang perancis dan menetap di sini. Nampaknya rekan yang satu ini sangat kerasan tinggal di Perancis, bangganya bukan main hidup di sini. Malahan ia mengatakan merasa tidak aman dan tidak nyaman jika berada di Indonesia.Ia memiliki seorang putri, putrinya sudah bersekolah di TK. Kelihatannya ia tidak memiliki kesulitan seperti teman yang satu tadi. Teman ini malah bercerita, saat ada kesempatan pulang ke tanah air, ia enggan pergi kemana-mana. Hanya sesekali pergi keluar dan itupun tidak jauh-jauh dari hotel tempat ia menginap. Alasannya ya itu tadi, tidak merasa aman. Apalagi katanya, jika bepergian dengan suaminya yang “bule” itu, ia takut terjadi apa-apa.Berbeda dengan rekan yang pertama saya sebutkan tadi, ia justru senang berkeliling ke pelosok-pelosok kota di pulau Jawa dan Bali bersama suami, anak dan saudara-saudara lainnya. Bahkan, sering pula ia bertindak selaku tour guide buat rekan-rekan dan saudara-saudara suaminya dari perancis hingga ke pulau komodo. Pengetahuannya tentang pariwisata di Indonesia sangat baik, orangnyapun supel bergaul, cuek dan sederhana. Di mana-mana ia dapat bernegosiasi dengan pihak hotel, losmen, angkutan, restoran dan sebagainya untuk mendapatkan harga spesial rombongan. Orang-orang “bule” yang di ajaknya tentu senang bukan main dan merasa kangen mengunjungi Indonesia lagi, sama sekali tidak ada rasa takut.Berbagai macam tipe manusia, begitu pula tingkah lakunya. Beberapa teman di Paris dulu ada pula yang menikah dengan orang perancis. Ada yang tetap menjadi dirinya sendiri, yaitu orang Indonesia asli, yang makannya juga nasi. Ada pula yang tiba-tiba kagok berbahasa Indonesia, seolah sudah lupa akan bahasa nenek moyang kita ini, padahal baru tinggal setahun di Paris. Mungkin ini ya, yang di sebut “culture shock” itu?. Kadang saya geli sendiri melihat tingkah polah kenalan-kenalan di sini. Bagi saya, yang bersuamikan orang Indonesia juga, mungkin tidak terlalu banyak perbedaan yang harus saya sesuaikan. Kami menjalani hidup disini tidak banyak berbeda dengan saat di tanah air. Kami menikmatinya, tetapi kami tetap mempertahankan jati diri kami sebagai orang Indonesia.Jikalau kami harus beradaptasi dan menerapkan kebiasaan-kebiasaan disini, alangkah baiknya jika kita memilah-milah dan menyaringnya terlebih dahulu dan tidak menelan bulat-bulat semuanya. Misalnya hal-hal yang patut kami tiru adalah soal disiplinnya, soal ketepatan waktu, kebersihan dan sebagainya. Karena tidak semua hal dari negara barat selalu baik. Banyak kenalan di tanah air yang menganggap segala sesuatu yang berasal dari negara maju itu selalu oke, keren, baik dan benar, padahal tidak juga.Pernah suatu saat kami datang ke KBRI untuk memperpanjang paspor sekalian mencantumkan anak kami dalam paspor RI. Saat sedang “ngantre” secara tidak sengaja saya jadi ikut mendengarkan keluh kesah seorang wanita Indonesia yang di antar sepasang rekannya yang orang Perancis. Awalnya ia minta “petunjuk” pada seorang ibu pegawai KBRI dibagian visa untuk memecahkan persoalan visa tinggal di Perancisnya yang sudah lewat waktu alias overstay. Lalu, ia berkisah bahwa ia mempunyai anak dengan pria Perancis, tetapi belum menikah, ia bertanya apakah ia bisa mendapatkan ijin tinggal lebih lama di Perancis?. Menurut KBRI sesuai prosedur hukum di Perancis, sebaiknya “calon” suaminya mengurus ke préfécture de police untuk mendapat carte de séjour yaitu ijin tinggal yang umumnya berlaku setahun. Kemudian ibu tadi bertanya apakah anak mereka sudah mendapat akte kelahiran di Perancis yang biasanya di dapat dari mairie setempat. Untuk mendapatkannya, apakah bapak si anak mengakui anaknya dan lain sebagainya. Wanita ini nampaknya makin bingung dengan pertanyaan yang saling berkait ini, mau tidak mau ia harus menceritakan semua permasalahannya. Barulah diketahui bahwa bapak si anak ini sudah lama tidak bekerja, menganggur istilahnya di tambah lagi menumpang hidup pula di rumah sepasang rekan Perancis yang kebetulan hari itu mengantar wanita Indonesia yang malang ini. Yang lebih menyedihkan lagi adalah kondisi anaknya yang masih bayi itu agak terbelakang, katanya anaknya sedang mengikuti terapi di Perancis ini, karena dahulu pernah jatuh saat mereka berada di tanah air dan patah tulang. Jatuhnya anak ini akibat ulah bapaknya, katanya. Saya kemudian melirik ke seorang bayi laki-laki yang sedari tadi di gendong oleh teman wanita ini. Permasalahannya jadi lebih rumit karena nampaknya bapak si bayi tidak ingin menikahi ibunya. Kelihatannya pria itu terserang depresi berat juga, sehingga sehari-harinya tidak melakukan apa-apa, tidak berusaha mencari pekerjaan, tidak mengurus ijin tinggal pasangannya, bahkan mengantar ke KBRI saja ia tidak mau. Nah, rekannya yang di “tumpangi” ini lama-lama habis juga kesabarannya, sehingga hari itu ia turut mengantar wanita Indonesia ini memperoleh sedikit kepastian dan berharap ada pertolongan atau setidaknya penjelasan dari KBRI. Akhirnya, pihak KBRI berbicara dengan dua orang perancis ini dan menjelaskan langkah apa saja yang sebaiknya di lakukan, salah satunya ya, si pria itu di minta datang untuk menjelaskan sendiri persoalannya. Sebenarnya jika wanita ini ingin pulang saja ke tanah air bisa, karena anaknya tercantum dalam paspor RI nya, tetapi karena sudah terlalu lama overstay ya, konsekuensinya saat di airport harus bayar denda. Tidak jelas bagaimana kemudian kelanjutan kisahnya, karena paspor yang saya tunggu-tunggu ternyata sudah jadi dan tidak ada alasan untuk berlama-lama “nguping” apalagi Annisa, anak kami sudah mulai rewel karena kecapekan.Seorang teman di Paris yang bersuamikan orang Indonesia juga, pernah berkata bahwa sebetulnya mau kawin dengan orang bule atau tidak, namanya perkawinan pasti ada susah senangnya, ada pasang surutnya, sama saja. Ia pikir sebelumnya, menikah dengan orang asing kelihatannya lebih terjamin, lebih makmur, lebih bahagia. Ternyata menurutnya, “rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri”. Sebenarnya soal “rumput” ini kan bagaimana kita merawat dan memeliharanya saja?. Demikian halnya juga dalam kehidupan dan perkawinan, bukan begitu?.
7 comments:
hai tata,
tulisan kamu bagus banget soal ini. aku juga menikah sama orang asing dan menetap di negrinya, tapi sebisa mungkin tetap mempertahankan jati diri indonesia. di sini aku jarang bertemu dengan orang sebangsa, tapi aku berusaha aktif jika ada undangan daqri KBRI :)
Hai Anindita, saya Wati istrinya Tata, diblog ini seluruhnya tulisan saya, cuma numpang account Tata diblogspot aja... terimakasih komen nya ya :)
hi Mbak Anindita...
menarik sekali cerita dan pengalamannya. Maaf, saya join tanpa diundang, saya ketemu blog ini saat searching informasi mengenai Perancis. Apa saat ini mbak dan keluarga masih tinggal di Perancis?
Salam kenal,
hi mbak tata...
Ceritanya menyentuh sekali, sebetulnya aku juga dalam waktu dekat insyaallah akan menikahi seorang pria perancis, tapi...masih banyak yang aku perlu ketahui tentang beliau. Umur ku dengan beliau terpaut sangat jauuuuh sekali, tapi itulah namanya cinta, siapa yang sangka. Saat ini agama sepertinya akan jadi masalah buat kami, tapi kami sepakat tidak akan menjadikan itu sebagai masalah besar, apa lagi umur, aduh mbak ini dia sebetulnya masalah(buat aku) yang besar, apalagi aku berdarah Minang yang kental dengan agama dan adatnya. Aku gak tau harus bilang apa sama keluarga.
Di Perancis beliau ini adalah seorang public figure, andaikan kita bisa saling berkirim e-mail, aku pasti senang. Karena gimana ya, saya sudah banyak mendengar cerita2 memprihatinkan tentang menikahi pria bule dan saya tidak mau itu kejadian pada saya. Mbak pasti tau orangnya, karena bapak-ku ini sering wara wiri nongol di TV Perancis. Bolehkan aku dapat e-mail mu Mbak? Karena kalo mbak gak keberatan, aku butuh pertolongan dari mbak. Trimakasih..
hi mbak tata...
Ceritanya menyentuh sekali, sebetulnya aku juga dalam waktu dekat insyaallah akan menikahi seorang pria perancis, tapi...masih banyak yang aku perlu ketahui tentang beliau. Umur ku dengan beliau terpaut sangat jauuuuh sekali. Di Perancis beliau ini adalah seorang public figure, andaikan kita bisa saling berkirim e-mail, aku pasti senang. Karena gimana ya, saya sudah banyak mendengar cerita2 memprihatinkan tentang menikahi pria bule dan saya tidak mau itu kejadian pada saya. Mbak pasti tau orangnya, karena bapak-ku ini sering wara wiri nongol di TV Perancis. Bolehkan aku dapat e-mail mu Mbak?
halo ive & cantik,
boleh saja, email ke saya: wati.yusuf at gmail.com
Terima kasih komen2nya...
Wati.
Hai Wati, akhirnya aku menemukan kembali blog ini.
Apa kabar? rasanya udah lama banget yah ga ketemu, kalau ga salah terakhir kita ketemu bulan puasa tahun lalu deh. Berarti udah setahun yang lalu yah...
Ayo kita gabung lagi, buka puasa dan teraweh bareng2 di PTRI, ditunggu yah...??
Gimana si kecil, udah bisa apa? kakaknya gimana juga?
Ternyata Wati pinter nulis yah...ajarin kita dong (aku juga lagi belajar nulis nih)
Ok, salam buat Tata dan si kecils.
Senny Yusuf
Post a Comment