Penulis: Srie Candrawati
Annecy, April 2001
Pembaca mungkin bertanya-tanya, setelah sekian cerita dibaca mungkin akan timbul pertanyaan seperti: bagaimana mulanya kami bisa tinggal di Perancis? Mengapa memilih Perancis? dan sebagainya. Jawabannya mungkin sedikit akan saya coba ceritakan dibagian ini.Kami berdua adalah teman sekelas sewaktu kuliah dulu. Usia kami hanya berbeda enam bulan, suami saya lahir bulan oktober 1969 dan saya sendiri April 1970. Kami berdua dahulu kuliah di Depok, di STMIK Gunadarma yang sekarang sudah berubah menjadi Universitas Gunadarma.Selepas kuliah, kami sama-sama meniti karir dijalur teknologi informasi dan komputer sesuai ijasah kami. Setelah kurang lebih empat tahun meniti karir, kami memutuskan menikah pada bulan September 1997. Saat itu tepat sebelum krisis ekonomi melanda Asia, Indonesia khususnya. Seperti kita ketahui bersama tahun 1998 di Indonesia terjadi pergantian kekuasaan, keadaan ditanah air saat itu makin hari tidak menentu di tambah dengan krisis ekonomi yang berkepanjangan. Tetapi bukan hal tersebut yang sebetulnya memacu kami untuk mencoba nasib di negeri orang, sebenarnya hal tersebut sudah menjadi cita-cita kami semenjak dulu. Selain untuk mencari pengalaman, memperkaya wawasan dan tentu juga untuk memperbaiki kondisi ekonomi.Suami sangat terdorong untuk mencari pengalaman bekerja di luar-negeri, beruntung perusahaan tempatnya bekerja dulu mendapat proyek diseputar Asia-tenggara. Berawal dari pengalaman inilah ia merasa mampu dan cukup bekal untuk menembus pasar tenaga kerja lebih luas. Kebetulan, tahun-tahun itu banyak lowongan kerja untuk para profesional di bidang teknologi informasi dan komputer di luar negeri, Amerika, Australia, Singapore dan Eropa merupakan beberapa negara yang menawarkan peluang tersebut.Saat itu juga sedang gencar-gencarnya orang membicarakan pergantian abad dan beredarnya kekhawatiran akan adanya millenium bugs. Sejak pertengahan tahun 1998, suami sudah mulai gencar mengirim CV setiap ada iklan lowongan bekerja diluar negeri. Wawancara sudah banyak dilakukannya, melalui telepon jarak jauh atau wawancara dengan perwakilan kantor tersebut di Jakarta. Tawaran pertama yang kami terima adalah untuk bekerja di Amerika serikat, saat itu visa kerja suami sudah siap, begitu pula visa untuk saya sebagai istrinya. Namun, disaat-saat terakhir kami mendapat kabar bahwa perusahaan yang akan merekrut suami saya tersebut kurang baik manajemennya dan banyak email berdatangan dari rekan-rekan yang sudah lebih dahulu berangkat bercerita mengenai hal tersebut. Kami menjadi ragu-ragu untuk pergi, karena tekad kami jika berangkat ingin lebih berhasil di negeri orang, jangan sampai malah konyol disana. Ditengah kegalauan itu datang tawaran lain untuk bekerja di Perancis. Tanpa banyak menimbang-nimbang berangkatlah kami ke Perancis dan terdamparlah kami di Paris ini.Awalnya, memang sulit untuk tinggal jauh dan serba asing pula, layaknya kami harus memulai kehidupan baru lagi. Mendapat kenalan dan teman-teman baru juga. Teman-teman ini kadang lebih seperti saudara sendiri. Lama kelamaan kami dapat juga menyesuaikan diri, namun kami tetap berhati-hati dalam bersosialisasi dengan masyarakat, karena banyak juga hal-hal yang tidak dapat diterapkan dalam kehidupan kami yang masih menjunjung adat ketimuran ini.
No comments:
Post a Comment