Penulis: Srie Candrawati
Annecy, April 2001
Mungkin pembaca sudah sering mendengar atau membaca cerita tentang suka duka hidup di luar negri, karena saya pun gemar membaca kisah bagaimana seseorang hidup di luar negeri atau mendengar pengalaman orang lain yang sudah terlebih dahulu mengalaminya.Akan tetapi, setelah saya rasakan sendiri, masih banyak rasanya hal-hal baru yang saya temukan disini. Hidup di Eropa, khususnya Perancis akan lain ceritanya jika dibandingkan dengan di Amerika misalnya. Di Eropa, khususnya Perancis salah satu masalah yang harus cepat di tanggulangi adalah bahasa. Di sini masalah tersebut masih sangat dominan. Pemikiran saya yang tergolong naif tentang negeri ini membuat saya terheran-heran mengapa tidak ada seorangpun yang mau diajak berbahasa Inggris?, karena saya pikir bahasa Inggris sudah sangat mendunia, kemanapun orang bisa mengandalkan bahasa yang satu ini.Bulan-bulan pertama saya dinegeri ini, saya melihat sepertinya orang perancis “alergi” terhadap bahasa Inggris, yang sayapun hingga kini masih kurang paham mengapa. Apakah karena sejarah masa-masa yang silam antara orang perancis dan orang inggris dahulu yang tidak akur dan selalu saling meledek satu sama lainnya, saya tidak tahu pasti. Yang kami tahu dan kami rasakan adalah kesulitan yang kami hadapi misalnya, saat mencari apartemen sendiri. Kesulitan pertama adalah membaca iklan apartemen yang ditawarkan, sudah bahasanya kurang paham, disingkat-singkat pula. Lalu, tahap berikutnya menghubungi pemilik apartemen yang kami incar tersebut, segala buku pelajaran berbahasa perancis kami pelajari untuk mendapatkan kata yang rasanya paling tepat untuk menyatakan maksud kami, itupun masih harus bergulat dengan aksen yang banyak berbeda dengan bahasa kita, maupun bahasa Inggris yang lebih dulu kami kenal. Belum lagi ternyata pilihan kata dimaksud ternyata kurang tepat.Jika ingin berbelanja keperluan sehari-hari tidaklah terlalu memusingkan kepala, karena kita tidak perlu banyak berbicara, jika berbelanja di supermarket atau mini market kita cukup melihat harga yang tertera dan membayarnya di kasir, untuk permulaan sudahlah cukup, tidak menimbulkan masalah. Tetapi jika tinggal lebih lama disini, pastilah tidak semudah itu. Salah satu cara, kemanapun kami tidak pernah lupa membawa kamus. Pasar tradisional sebenarnya ada juga, tetapi biasanya tempat dan waktunya sudah di tentukan. Pasar-pasar ini biasanya diadakan dari jam delapan pagi hingga sekitar jam dua siang. Setelah itu pasar bubar dan petugas kebersihan membersihkan tempat tersebut.Kata pepatah mengatakan malu bertanya sesat di jalan, rasanya saat itu kurang tepat bagi kami, karena apa yang kami rasakan bukannya malu untuk bertanya namun kesulitan berbahasa. Ini mungkin yang akan menimbulkan rasa segan bertanya, tapi janganlah sampai kami sesat di jalan. Apapun hambatannya harus di usahakan jalan keluarnya. Soal bahasa perancis sendiri, sebenarnya sudah pernah saya pelajari saat berada di tanah-air dulu selama 4 bulan intensif, namun begitu sampai di Paris apa yang saya pelajari rasanya sangatlah minim untuk dapat di terapkan dalam percakapan sehari-harinya. Belum lagi orang perancis di Paris yang bicaranya cepat ditambah banyak kata-kata “sleng”, sangatlah sulit ditangkap apa maksud pembicaraannya. Untuk pendatang baru, contohnya suami saya jika di kantor, biasanya orang-orang masih bisa menerima bahasa Inggris, namun lama kelamaan sedikit-sedikit mereka menganjurkan kami untuk berbahasa perancis. Dulu, saat saya belajar bahasa ini suami malah tertawa-tawa meledek karena pengucapan “R” di bahasa perancis sangat unik, seperti orang yang sakit tenggorokan dan ingin mengeluarkan apa yg tersumbat dalam tenggorokannya (kasarnya, seperti orang ingin buang riak). Huruf yang satu ini memang banyak jadi penghambat bagi orang yang baru belajar bahasa ini, diucapkan bukan akibat getaran lidah dan langit-langit seperti layaknya “R” dalam bahasa kita, tetapi atas tekanan pangkal lidah ke tenggorokan. Kini dia kena batunya.Lucunya, orang perancis jarang melafalkan huruf “H”, walaupun huruf ini termasuk dalam alphabet mereka, namun tidak untuk diucapkan. Misalnya Hôtel, mereka baca “otel”, dan ini mereka terapkan dalam bahasa asing lain, seperti contohnya bila berbicara bahasa inggris. Akan tetapi sebaliknya, mereka suka menambahkan huruf ini pada tempat yg tidak seharusnya, contohnya: mereka ingin mengatakan “I am ill” mereka katakan “I am hill”. Ini bukan lelucon, memang yang kami amati demikian walaupun tidak semua orang perancis begitu. Orang perancis yang bahasa inggrisnya baik dan benar juga ada, tapi jarang yang kami jumpai. Saya minta maaf sebelumnya, bukannya saya ingin meledek orang perancis, saya hanya ingin berbagi pengamatan, seperti juga bangsa lain ada yang mungkin sulit mengucapkan “R”. Saya rasa ini hanya masalah perbedaan bahasa saja. Seperti halnya masalah logat, masing-masing suku bangsa berbeda-beda.Kelihatannya saya banyak mengeluh mengenai bahasa?, ya karena memang inilah hambatan pertama yang harus di tanggulangi karena komunikasi sangatlah penting dalam kehidupan sehari-hari bagi semua orang tentunya.
1 comment:
Cool blog, interesting information... Keep it UP California skin care products sheets waterbed Replace a timing belt on a 2005 subaru
Post a Comment