Saturday, June 18, 2005

Menanti kehadiran si buah hati

Penulis: Srie Candrawati

Annecy, 25 November 2001

Di bulan Maret 2001 dokter mengkonfirmasikan bahwa saya telah hamil sekitar 7 minggu, berita baik ini jelas sangat kami harapkan mengingat keguguran yang baru saja saya alami akhir Desember yang lalu. Kabar gembira ini langsung kami siarkan ke keluarga dekat, terutama ibu saya yang sangat mengkhawatirkan keadaan kami. Ibu tentu saja gembira mendapat kabar ini dan berpesan agar kali ini saya benar-benar menjaga kesehatan dan janin yang ada di kandungan. Saat itu, ibu masih dalam pemulihan kesehatan setelah menjalani perawatan dan kemoterapi di RS. Saya mulai rajin membaca dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber mengenai tahap-tahap kehamilan dan perubahan apa saja yang kelak saya alami. Saya juga rajin berkonsultasi ke dokter kandungan sebulan sekali, sesuai ketentuan yang berlaku di sini. Tepat sebelum bulan ke empat, dokter memberi saya formulir yang menerangkan bahwa saya hamil dan berhak mengajukan permohonan tunjangan dari pemerintah Perancis. Formulir tersebut harus saya kirimkan ke CAF ( Caisse Allocation Familiale ) setempat. Bulan kelima kehamilan, saya mulai mendapat tunjangan untuk bayi yang disebut Allocation pour jeune enfant ( alokasi dana untuk anak ) yang akan saya terima setiap bulan hingga anak berusia 3 tahun. Jumlahnya, lumayan juga untuk membantu kami mempersiapkan segala sesuatu bagi si kecil.Apa yang saya rasakan saat hamil kali ini jauh berbeda dengan sebelumnya. Pada kehamilan yang lalu saya tidak terlalu perduli akan kondisi tubuh, apalagi saat itu saya sedang berkunjung ke tanah air. Saat itu saya tetap kesana-kemari dengan kendaraan umum di cuaca Jakarta yang panas dan pengap, saya juga makan dan minum apa saja yang di perbolehkan tanpa memperdulikan pengaruhnya bagi janin yang saya kandung, yang pedas-pedas, asam dan sebagainya. Hasilnya, saat berada di tanah air saya terserang diare, hingga saya perlu konsultasi ke dokter. Dokter menganjurkan agar menghentikan dulu konsumsi makanan pedas dan asam. Memang saya agak kelewatan saat berada di Indonesia, itu saya akui, karena saya rindu sekali masakan Indonesia, hampir semua jajanan favorit saya makan, gado-gado, siomay, empek-empek, ketoprak dan tentunya nasi padang yang pedas itu!. Minumnya, tiada lain yang amat saya sukai yaitu: teh botol.Saya beruntung setiap kali hamil tidak pernah merasakan mual atau morning sick seperti umumnya ibu hamil, hingga mungkin ini yang mengakibatkan saya kurang waspada akan bahaya suatu makanan/minuman tertentu.Saat saya hamil dan berada di Perancis lagi, saya tidak akan temui jajanan kesukaan seperti yang saya sebut tadi. Semua makanan yang masuk sebagian besar hasil olahan sendiri, yang tentunya lebih terjaga kebersihannya. Saya juga mendapat masukan bahwa kafein tidak baik bagi perkembangan janin, saya pun membatasi minum teh/kopi atau minuman ringan yang mengandung kafein. Saya juga minta tolong agar suami menghindari merokok dekat saya, kalau bisa merokok di balkon apartemen saja. Untungnya ia mau menuruti, walaupun cuaca dingin ia merokok diluar, tentunya dengan melengkapi diri dengan jaket yang tebal. Pikir saya, demi merokok dia kok mau-maunya bersusah payah dan kedinginan, biar saja.Saya tetap aktif bergerak dan hingga kehamilan lima bulan saya masih naik sepeda kemana-mana. Dokter tidak melarang, malah menganjurkan agar rajin bergerak. Jalan kaki juga saya lakukan hampir setiap hari. Mungkin karena cuaca pegunungan yang bersih dan sejuk dimana kami tinggal, saya tidak merasa pengap dan tubuh saya rasanya malah tambah segar, selain pikiran pun jauh lebih tenang.Namun, saat saya hamil tiga bulan, ibu meninggal dunia. Perasaan saya sebenarnya betul-betul sedih dan menyesal, ibu tidak sempat melihat cucu pertama yang ia nanti-nantikan. Kali ini saya pun tidak dapat pulang ke tanah air karena takut terulang lagi keguguran yang pernah saya alami saat bapak meninggal dulu.Kali ini saya harus bisa mengusir kesedihan dan kegalauan dalam hati, demi kesehatan janin yang sedang saya kandung. Perasaan saya sebenarnya ingin sekali menghadiri pemakaman ibu, melihat wajah ibu untuk terakhir kalinya, mengucap do’a dan salam perpisahan di depan jasadnya, namun semua hanya saya tahan dan pendam dalam hati. Saya selalu mendo’akan bapak dan ibu walau jarak kami berjauhan dan kini saya tetap akan mendo’akan agar bapak dan ibu diberi tempat yang terbaik di sisi Nya serta di mudahkan jalannya, amien.Suami menanyakan apakah saya ingin pulang ke Indonesia?, saya tahu ia sungguh-sungguh berusaha membesarkan hati saya, namun tawarannya dengan berat hati harus saya tolak, karena saya harus dapat menentukan mana yang terbaik.Mulai bulan ketujuh, kami mulai mempersiapkan peralatan untuk si kecil. Dari hasil USG kami telah mengetahui jenis kelamin bayi kami perempuan, sehingga lebih mudah bagi kami untuk memutuskan apa saja yang perlu disiapkan.Mulai bulan ini juga saya mengikuti kursus kehamilan di klinik tempat di mana saya merencanakan untuk melahirkan nanti. Dalam kelas prenatal ini ada 6 orang ibu hamil, termasuk saya. Saya jelas satu-satunya wanita asing di sana, namun ini tidak menjadi masalah, karena seluruh staf klinik dan sesama ibu hamil saling mendukung satu sama lain. Kami juga bertukar informasi mengenai proses kelahiran, menyusui dll, kebetulan ada beberapa ibu yang akan melahirkan anak ke-sekiannya, jadi kami mendapat masukan juga darinya. Kami pun beruntung mendapat beberapa peralatan dan baju-baju bayi dari teman-teman di sini, bahkan seorang sahabat dari tanah air mengirim buku pedoman kehamilan dan cara merawat bayi.Pada bulan ke sembilan perasaan saya mulai gundah, jadwal saya bertemu dokter kandungan untuk pemeriksaan bulan ke-9 jatuh pada tgl 1 Desember 2001, namun entah mengapa saya ingin merubah janji dengan dokter, kalau bisa dapat di periksa lebih awal. Saya mendapatkan janji untuk periksa hari kamis tanggal 22 November siang. Hari itu, seperti biasa suami mengambil ijin dari kantor untuk mengantar saya ke dokter kandungan, saat di periksa dokter berkata bahwa saya sudah mengalami kontraksi dan jalan lahir sudah terbuka 2 cm. Alangkah kagetnya saya dan tentu juga suami, sama sekali kami tidak menyangka akan mendengar hal ini dari dokter, karena menurut perkiraan bayi kami lahir sekitar 6 Desember. Saya masih menolak saat dokter berkata kami sebaiknya bersiap-siap dan datang ke klinik nanti malam, hingga dokter berkata seraya meyakinkan kami bahwa jika saya melahirkan di bulan Desember, ia akan berganti profesi!. Kami pulang dan sesuai saran dokter saya menyiapkan segala sesuatunya sedangkan suami kembali ke kantor dengan perasaan gundah.Malamnya kami sempat makan malam dahulu baru pergi ke klinik, saat di periksa bidan menyatakan belum saatnya, tidak ada kontraksi. Kami benar-benar bingung di buatnya, dokter datang menjenguk dan menyatakan kami boleh pulang. Entah mengapa lega sekali rasanya di perbolehkan pulang. Keesokan harinya, hari jum’at saya masih pergi ke tempat kursus bahasa perancis, sabtunya kami masih jalan-jalan ke week-end market sembari mencari selimut untuk bayi. Selimut bayi yg kami inginkan tidak kami dapat, saat jalan rasanya saya capai sekali. Kami sempat bertemu teman yg lalu menjanjikan akan ikut mencarikan selimut yang kami maksud. Sabtu malam itu kami sama-sama mencari artikel mengenai kontraksi, sebab saya sama sekali tidak tahu jika pinggang terasa pegal dan perut mengencang itu juga tanda kontraksi. Setahu saya, yang saya lihat di film-film juga, kontraksi ibu hamil itu mulas, sakit perut hebat sampai nafas ngos-ngosan, padahal saya sama sekali tidak mengalami hal tersebut.Jadi kami mulai menghitung jeda waktu saat perut saya mengeras & punggung saya pegal, kira-kira masih berselang 1/2 jam tiap-tiap kalinya. Malam itu kami tidur dengan nyenyak.Keesokan harinya, hari minggu tanggal 25 November 2001 sekitar jam 11 siang saya merasakan air ketuban mulai keluar, hingga kami memutuskan untuk ke klinik setelah sempat minum susu dan makan sekadarnya. Setibanya di klinik, sekali lagi saya di periksa dan kali ini ternyata benar saya akan segera melahirkan.Kami mendapat kamar saat itu juga dan saya bersiap-siap menantikan saat yang mendebarkan ini. Waktu itu tepat bulan ramadhan, walaupun saya tidak berpuasa, suami tetap menjalankan ibadah puasa seperti biasa. Kira-kira pukul 2 siang saya masuk ruang bersalin, karena pembukaan masih kecil saya diminta menunggu hingga jalan lahir cukup lebar untuk bayinya. Hingga saat berbuka (waktu itu sekitar pukul 5 sore) tanda-tanda bayi saya akan lahir belum juga ada, sehingga suami minta ijin keluar ruang untuk berbuka dahulu. Sekitar pukul 7 malam dokter mengkonfirmasi bahwa saat melahirkan telah tiba. Pukul 7.28 malam bayi kami lahir dengan sempurna, rasa sakit saat melahirkan tidak saya pedulikan lagi, walaupun kaki masih bergetar saya ingin sekali mendekap bayi kami. Setelah dibersihkan dan diberi pakaian yang hangat, bayi di serahkan ke suami dan kemudian kepada saya untuk di susui, alangkah hangat tubuh mungilnya saya rasakan di pelukan.Bayi ini kami beri nama Annisa Francelina, suami segera memperdengarkan azzan ke telinganya, semoga Allah memberkahi kami semua dan Annisa kelak menjadi anak yang baik, amien.....

No comments: