Penulis: Srie Candrawati
Annecy, Mei 2001
Kota ini tidak seberapa besar, letaknya di bagian tenggara peta Perancis, berbatasan dengan Swiss. Di Perancis, kota-kotanya di bagi menjadi 95 departemental, Paris masuk departemen nomor 75 yang di sebut région parisienne, Annecy kota baru di mana kami tinggal adalah departemen 74 (Haute-Savoie). Walau kecil, kota kami termasuk kota turis. Di sini terkenal dengan danau Annecy yang indah di kelilingi pegunungan. Kotanya asri, bahkan banyak juga yang menyebut Annecy adalah venesia-nya Perancis. Musim semi dan musim panas, bunga-bunga nampak bermekaran, pohon-pohon hijau rindang. Jika musim dingin sangat dingin karena letaknya yang dekat dengan pegunungan sering pula putih terselimuti salju. Letaknya dekat gugusan pegunungan Alpen dan dekat pula dengan ski resort yang terkenal di mana pernah menjadi tempat olympiade musim dingin, misalnya: Albertville, Chamonix dan La Clusaz. Jika ingin lebih jauh main ski, dapat pula mengunjungi resort-resort didaerah Swiss atau Itali.Musim panas sangat ramai di kunjungi turis manca negara, karena tiap-tiap musim panas diadakan festival internasional film animasi, festival danau (fête du lac), festival musik menyambut musim panas, karnaval a la venesia dan lomba lari marathon internasional mengelilingi danau yang jaraknya kira-kira 45 km.Di sini saya senang bersepeda karena udaranya bersih, sekalian olahraga. Saya juga senang berkeliling naik bis kota, disini bis-bisnya bersih dan apik jangan dibandingkan dengan bis-bis yang ada di Jakarta. Dengan naik bis, saya dapat mengetahui rute yang ditempuh, juga dapat mengunjungi tempat-tempat yang baru. Kita dapat bertanya pada loket-loket penjualan tiket, bis mana menuju kemana dan kita dapat memperoleh buku panduan rute dan jadwal bis secara cuma-cuma.Kami pindah dari Paris ke Annecy bulan Februari 2000, awalnya kami di tempatkan di sebuah kota yang bernama Ferney-Voltaire selama sebulan sebelum memperoleh apartemen sendiri. Di sini kami rasakan begitu banyak perbedaan dari Paris. Kota ini sangat kecil, sangat sepi. Kami berdua yang telah terbiasa dengan hiruk-pikuk kota besar, merasa aneh tinggal dikota seperti ini, mungkin seperti misalnya, orang dari Jakarta pindah ke Cianjur. Sekeliling kota hanya ladang, peternakan dan pegunungan.Kami merencanakan untuk pindah ke Annecy setelah memperoleh info dari rekan-rekan kerja suami. Kami kemudian memperoleh bantuan seorang ibu dari agen relokasi yang biasa mengurusi perpindahan orang asing ke perancis yang disewakan dari kantor tempat suami bekerja, untuk membantu kami mencarikan apartemen di sana.Kami langsung tertarik saat mengunjungi kota tersebut, memang agak jauh jaraknya dari kantor suami dibanding Ferney-Voltaire, tetapi rasanya lebih nyaman tinggal disana. Kami sangat bersemangat saat pertama berkunjung, hari itu kami ada beberapa janji dengan agen apartemen untuk melihat lokasi-lokasi yang ditawarkan. Lokasi yang pertama kami datangi, tidak terlalu istimewa. Lokasi ini dipilih karena dekat dengan autoroute (jalan tol) dan pusat belanja, supermarket carrefour yang menurut salah seorang teman, cabang inilah asal mulanya supermarket carrefour yang kemudian berkembang menjadi besar sekarang, hingga ada beberapa cabang pula di Indonesia. Tetapi kami malah tertarik dengan lokasi yang kedua, letaknya tepat di seberang danau Annecy yang indah dikelilingi taman-taman luas dan pegunungan. Saat itu musim semi. Nampaknya, kami cenderung pindah ke suatu tempat bertepatan dengan musim ini, walaupun tanpa di sengaja.Berbeda dengan Paris, di Annecy dengan harga yang sama kami memperoleh apartemen yang jauh lebih luas. Kami di perbolehkan menempati tempat itu mulai tanggal 1 April 2000. Masalah utama yang harus cepat di tanggulangi di sini adalah soal transportasi, tidak seperti Paris, kemana-mana kami biasa naik métro. Bis bisa mudah ditemukan di Annecy namun untuk pergi ke kantor sangat tidak mungkin naik bis, karena letak kantor suami di lain kota yang mana harus menyebrangi Swiss juga.Jarak tempuh dari Annecy ke kantor suami mungkin kira-kira seperti Jakarta ke Bogor, dan walaupun ada bis antar kota, hal itu tidak praktis di lakukan karena jadwal keberangkatan yang tidak sesuai dengan jam masuk kantor, selain juga akan memakan waktu lebih lama. Jika terlewat dan ketinggalan bis bisa repot. Bukan hanya kehilangan waktu yang sangat berarti bagi para pegawai di kantor, pasti juga setiap hari akan sangat lelah baik secara mental dan fisik. Memiliki mobil pribadi, di sini bukan lagi hal mewah, sudah lumrah dan merupakan hal yang biasa dan perlu. Para petani saja memiliki mobil-mobil keluaran baru disini. Kami berencana membeli mobil, bukan karena untuk gengsi atau kemewahan, hal ini adalah kebutuhan yang penting bagi kami untuk tinggal di daerah ini. Masalah lainnya, SIM atau ijin mengemudi dari Indonesia yang berlaku internasional di Perancis hanya berlaku selama satu tahun pertama kedatangan di negeri ini, setelah itu kami di wajibkan mengikuti tes kembali untuk memperoleh permis de conduire atau SIM perancis. Lain hal jika ada perjanjian antara kedua negara, dimana hanya diperlukan penukaran SIM, seperti misalnya warga negara asal Eropa, Jepang dan sebagainya. Hal-hal tersebut diatas, kami jadikan prioritas paling utama. Untuk membeli mobil, kami tidaklah punya dananya, satu-satunya jalan meminta kredit dari bank. Beruntung, bank yang kami pilih adalah juga bank yang menangani banyak pegawai dari kantor suami, dan dengan adanya kontrak kerja tetap suami, kami memperoleh kredit tanpa hambatan. Hari itu juga kredit disetujui.Mulailah setiap ada kesempatan, biasanya di akhir pekan atau saat makan siang, kami berkeliling kota ke tempat penjualan mobil-mobil bekas. Kami tidak memiliki banyak waktu, begitu kami pindah bulan depan ke Annecy, mobil harus sudah ada. Selama di kota kecil ini, kami di pinjami mobil dari kantor.Suami tertarik dengan sebuah sedan buatan perancis, tahun 1995. Menurut banyak referensi dari rekan-rekan kantornya, merek yang satu ini bisa diandalkan mutu mesinnya. Bengkelnyapun lebih mudah di temukan dimana-mana. Maka, inilah mobil pertama kami. Tinggallah masalah SIM, rencananya secepat mungkin suami mendaftar ke auto école atau sekolah mengemudi.Benturan berikutnya, lagi-lagi masalah bahasa. Tes yang akan dilalui untuk memperoleh SIM ini adalah tes teori dan tes praktek, normal, seperti juga dilakukan di negara manapun. Hanya saja, semuanya dilaksanankan dalam bahasa perancis. Tes teori dilaksanakan dengan sistem online dengan menekan tombol-tombol A,B,C atau D di mesin yang mirip remote control. Keseluruhan pertanyaan ada 40 buah, satu pertanyaan hanya diberi waktu menjawab selama 20 detik, tes dinyatakan berhasil jika kesalahan keseluruhannya maksimal 5 buah.Suami berpikir, bagaimana menjawab pertanyaan, jika pertanyaannya saja tidak paham?. Persiapan mulai di lakukannya, di pelajarinya pertanyaan-pertanyaan dari buku dan cd rom. Latihan di lakukannya setiap malam dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan di komputer. Akhir pekannya ikut latihan di sekolah mengemudi.Tiba saat tes, saya hanya bisa berharap semua berjalan lancar. Pulang dengan wajah kuyu, ia dinyatakan gagal. Total kesalahannya ada 7 dari maksimal 5 buah. Tidak ada cara lain selain mendaftar dan mengulang kembali. Minggu berikutnya, ditempat yang sama ia berhasil ! kesalahannya hanya 3, malah ada rekan satu tempat kursus dengannya, yang orang perancis, gagal dengan kesalahan 10.Tes berikutnya, adalah praktek mengemudi, ini pun ia harus mengulang dua kali. Ceritanya saat itu, lampu merah yang tadinya hijau saat dilewati mendadak berubah kuning, tidak bisa dihindari suami kebablasan. Jika bukan saat tes, mungkin banyak orang melanggar, namun entahlah, nasibnya saat itu mungkin kurang beruntung. Katanya saat itu, “mungkin lagi ada setan lewat ya?”. Sebenarnya, okelah, entah lampu itu memang bikin sial atau tidak, dia bisa menerima kegagalan tes yang pertama ini. Dia menggerutu, karena tahu rekannya yang lain nyaris menabrak orang menyebrang di luluskan!. Mulailah ia menyimpulkan, ini tidak fair, apa karena saya orang asing di perlakukan tidak adil?, begitu pikirnya. Wallahualam. Kami bersyukur tesnya yang kedua lulus gemilang.Memang masalah tes mengemudi ini susah-susah gampang. Banyak rekan-rekan saya yang tes teorinya sekali lulus, tapi tes mengemudinya bisa mengulang sampai dua-tiga kali.Saya menyempatkan mengikuti ujian untuk memperoleh SIM perancis ini saat sedang hamil, waktu itu rasanya berat juga sehingga untuk tes teori saya salah 6 dari maksimal 5 kesalahan. Saya harus sedikit “ngebut” untuk ikut ujian sebelum saatnya melahirkan, mungkin ini juga yang menambah nervous.Di kota ini juga saya meneruskan kursus bahasa lagi, dengan tujuan memperlancar percakapan dan mencari teman-teman baru. Hal pertama yang saya lakukan adalah datang ke kantor walikota atau Mairie, disana kita bisa menayakan dan mendapat informasi mengenai apa saja. Saya ingin kursus di tempat yang di selenggarakan oleh pemerintah karena biasanya biayanya tidak mahal.Dari Mairie saya memperoleh satu alamat tempat kursus yang di rekomendasikan untuk mempercepat proses integrasi antara pendatang di perancis juga bagi para pencari kerja yang belum mahir berbahasa perancis.. Nama asosiasinya adalah A.L.A.P ( Allocation Logement Acueill et Promotion). Keesokan harinya saya menelepon kantornya dan minta agar nama saya didaftar untuk kelas yang dimulai bulan Oktober mendatang. Di tempat ini, dilakukan banyak kursus bagi yang ingin mengembangkan diri dan siap memasuki dunia kerja, kursus seperti ini mereka sebut formation, ada formation bahasa, matematika dan lain sebagainya.Pesertanya juga bermacam-macam bangsa dengan tujuan yang beragam pula. Misalnya, para siswa dari negara-negara seperti Algeria (Aljazair), Tunisia, Maroko yang ingin menetap di perancis dan biasanya untuk mempermudah mencari pekerjaan.Pembayaran dilakukan sangat fleksibel, boleh dicicil beberapa kali tergantung kondisi keuangan masing-masing, setahun ongkosnya 3000 franc. Beberapa peserta malah boleh mengikuti secara cuma-cuma. Untuk yang bekerja, kursus dilakukan malam hari dari pukul 5 sore hingga 8 malam. Kursus yang saya ikuti tadinya pagi hari, dari pukul 8.45 hingga 11.15, kemudian berubah menjadi sore hari pukul 14.45 hingga16.15, dua kali dalam seminggu. Jika kita mau, boleh pula mengikuti course d’écrit atau kursus menulis dipagi hari, jika masih merasa kurang diperbolehkan juga datang kursus malam hari tanpa harus membayar uang ekstra lagi.Alangkah senangnya saya memperoleh apa yang saya inginkan. Teman-teman di sinipun rata-rata memiliki tujuan yang sama. Kami menjadi cepat akrab, walaupun kami sekelas terdiri dari berbagai suku bangsa. Kami dapat berbagi pengalaman, baik yang menyenangkan maupun tidak. Mencari solusi atas kesulitan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari dengan masyarakat lokal dan saling membesarkan hati jika terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.Beberapa diantara kamipun sering saling berkunjung atau mengadakan acara makan malam secara bergantian untuk lebih mengenal keluarga masing-masing.Ada pula beberapa teman yang akhirnya dapat memperoleh pekerjaan, Mohammed misalnya asal Aljazair, ia kini bekerja sebagai petugas pemadam kebakaran. Nonna, dari Rusia sementara bekerja sebagai penjahit untuk butik-butik dan departemen store. Sebelum datang ke Perancis, banyak diantara rekan-rekan ini yang di negaranya memiliki profesi dan karir yang baik, namun karena berbagai alasan mereka harus pindah ke Perancis.Nonna, awalnya adalah seorang ahli kimia yang kemudian berganti profesi menjadi ahli batu-batuan dan permata disebuah toko perhiasan di Rusia, karena ternyata ia alergi terhadap beberapa zat kimia. Di Perancis ia bekerja sebagai penjahit.Marybell asal Meksiko adalah ahli biologi molekuler, ia menikah dengan orang perancis dan dapat memperoleh dua kewarga-negaraan. Untuk izin bekerja, ia memperolehnya dengan mudah, hanya saja di sini ijasahnya harus di setarakan dengan standar Perancis, untuk itu ia harus mengikuti beberapa ujian dan untuk mengikuti ujian, jelas bahasa perancisnya haruslah baik dan benar dahulu.Ada lagi, Maya asal Georgia, Rusia, yang dulunya berprofesi sebagai dokter anak, kini ia sedang sibuk mengikuti kerja praktek di rumah-sakit dan ujian-ujian untuk dapat berpraktek sebagai dokter anak. Ia rela bekerja di rumah sakit tanpa bayaran, sedangkan para stagiere (peserta kerja praktek) asal Perancis mendapat imbalan, jangan tanya mengapa ini di bedakan, memang begitulah aturannya. Tidak mudah bekerja sebagai orang yang kewarganegaraannya bukan perancis, apalagi bekerja di bidang yang keahliannya banyak di miliki orang perancis.Kemudian Mayumi, teman berasal dari Jepang, ia tadinya seorang perawat, meskipun ia menikah dengan orang perancis, ia tidak ingin merubah kewarga-negaraannya. Menurut peraturan pemerintah Jepang, tidak diperkenankan mempunyai dua kewarganegaraan, seperti juga Indonesia. Mayumi tidak ingin melepaskan kewarganegaraan jepangnya. Dengan status warga asing, ia sulit mendapat pekerjaan sesuai profesinya sebagai perawat, sehingga ia rela bekerja sebagai femme de menage atau house-keeper.Sedangkan saya sendiri, di tanah air bekerja di bidang yang sama dengan suami, walaupun di sini profesi di bidang sistem informasi dan komputer masih di butuhkan, namun profesi ini sudah lebih tiga tahun saya tinggalkan, sedangkan perkembangan di bidang ini sangat cepat, banyak hal yang tertinggal sehingga pengalaman saya kurang up-to-date lagi. Namun, saya tetap akan berusaha, untuk sementara saya bekerja sebagai volunteer (sukarelawan) di Unicef cabang Annecy. Secara materi, hasilnya tidaklah seberapa, namun saya memperoleh banyak pengalaman.Sedikit demi sedikit kami menjalani dan menata kehidupan di Perancis, rasanya kini tidak lagi sesulit awal-awal tiba dahulu. Kami mulai dapat merencanakan masa depan, merencanakan punya momongan dan akhirnya dapat memperoleh carte de résident (KTP) Perancis yang masa berlakunya sepuluh tahunan.