Thursday, June 16, 2005

PARIS, Kami datang...

Penulis: Srie Candrawati

Annecy, April 2001

Kami menginjakkan kaki di Paris tepat tanggal 1 April 1999 kira-kira jam 6 pagi waktu setempat. Setelah di ingat-ingat lagi ternyata orang bilang, april mop (april fool), akan tetapi kami sama sekali tidak ada niatan ber-april fool dengan siapapun, karena akhirnya kami benar-benar berada di Paris hari itu. Untuk suami saya, ini bukan kali pertama karenasebelumnya dia sudah tinggal selama satu setengah bulan di Paris, sebelum kemudian pulang dulu ke tanah air untuk menjemput saya dan memperoleh visa “long séjour” atau visa untuk menetap lebih lama.Kesan pertama yang saya peroleh adalah cuaca yang sangat dingin, padahal saat itu sedang musim semi namun udaranya relatif masih sangat sejuk bagi kita yang terbiasa dengan hangatnya udara tropikal. Kami naik bis dari bandara hingga Place de l’Opéra. Sepanjang perjalanan yang saya perhatikan adalah bangunan-bangunan yang nampak kuno dengan dindingnya yang kehitaman, sama sekali bukan bayangan kota metropolitan seperti yang ada dibenak saya selama ini. Ternyata Paris bukanlah seperti Singapore misalnya, yang penuh gedung-gedung menjulang tinggi dan moderen. Kesan pertama saya Paris adalah kota tua yang penuh bangunan antik.Setelah tinggal cukup lama, barulah saya mengerti mengapa Perancis dan hampir semua negara di Eropa lainnya sengaja mengabadikan bangunan-bangunan kunonya yang antik. Di Paris sendiri ada larangan membangun gedung-gedung tinggi didalam kota. Saya perhatikan memang benar, bangunan-bangunan tinggi umumnya dibangun dipinggir kota atau mereka menyebutnya “banlieu”.Dari Place de l’Opera kami naik Taxi sampai ke apartemen, karena barang bawaan kami cukup banyak, 1 koper besar, 2 koper kecil plus “titipan” untuk teman-teman dari sanak saudaranya di tanah air. Sampai di kompleks apartemen kami, saya berhenti sejenak memandang sekeliling seperti kebiasaan saya jika datang kesuatu tempat baru, biasanya saya ingin bisa merasakan nyaman atau tidaknya tempat tersebut. Sejauh ini, rasanya kok dan nyaman dan aman-aman saja. Alhamdulillah, saya batin dalam hati, semoga perasaan saya benar adanya.Apartemen kami terletak di lantai dua. Kompleks ini cukup luas dengan bangunan serupa di sekitarnya, tamannya hijau dan terawat. Saya juga mendengar teriakan anak-anak kecil, yang ternyata berasal dari sekolah taman kanak-kanak yang letaknya bersampingan dengan kompleks apartemen ini.Sesampainya di dalam apartemen, saya langsung berkeliling, sekedar ingin melihat kondisinya. Lumayan, begitu batin saya saat itu. Tapi sayangnya, kita saat itu masih harus berbagi apartemen dengan penyewa lain yang kebetulan orang perancis keturunan Afrika. Bukan saya bermaksud membeda-bedakan orang dari suku bangsa atau warna kulitnya, tapi lebih karena kami ingin tinggal di apartemen sendiri, tidak apa lebih kecil asal ada privacy karena ini menurutkami sangat penting. Tidak mudah untuk tinggal bersama orang lain apalagi yang belum kami kenal. Dari perbedaan cara atau kebiasaan saja bisa lama kelamaan dapat timbul konflik, dan biasanya dari konflik yang kecil-kecil jika di kumpulkan setiap hari lama-kelamaan menjadi besar. Itu yang selalu ingin kami hindari. Sebetulnya suami sudah memberi tahu bahwa sementara kami akan tinggal di apartemen bersama dengan orang lain, namun ia pun berjanji secepatnya akanmencari apartemen sendiri.Tiba-tiba rasa lelah tak terhindarkan, barulah terasa penatnya setelah menempuh perjalanan jauh berjam-jam dari tanah-air, rasa kantukpun menyergap. Kami beristirahat sejenak, sebelum akhirnya bangun untuk makan siang dan rasanya tidak sabar untuk langsung melihat-lihat kota yang kata orang romantis ini.Tempat pertama yang di perkenalkan suami kepada saya adalah Les Hales dan Châtelet . Kenapa kemari? karena nampaknya inilah daerah pertama yang sangat dikenalnya. Mengapa? ya, bukan lain karena setiap hari melalui rute inilah perjalanannya ke kantor. Pikir saya saat itu, ya beginilah uniknya suami saya, jika sudah kenal suatu tempat akan kesanalah dia setiap kalinya. Begitu pula jika melalui suatu jalan, ia cenderung menempuh jalan yang sama, dari pada susah mencari jalan tembus lainnya. Berbeda dengan saya, yang selalu ingin menemukan dan mencoba tempat-tempat baru, namun saya akui rasa ingin tau dan keinginan menjelajahi kota kadang sedikit menyerempet bahaya, apalagi sebagai perempuan asing dikota yang asing pula. Tapi entah mengapa, saat itu saya benar-benar tidak punya rasa takut dan alhamdulillah saya selamat dan baik-baik saja selama tinggal disana. Padahal jika saya ingat kembali, Paris bukanlah kota aman yang bebas dari bermacam-ragam tindak kejahatan, di Paris juga banyak copet!, malah ada seorang teman dari tanah air yang pada hari pertama keluar berjalan-jalan di Paris kecopetan di dalam métro (kereta bawah tanah). Saat itu yang ada di pikiran saya, di sini jika kita tidak mencari tahu sendiri mana ada orang yang mau memberi tahu. Dari beragam pengalaman yang kami temukan itulah kami belajar bagaimana hidup di sini. Syukurlah, kami tidak sempat mengalami hal-hal yang tidak diinginkan.Setelah mengabadikan beberapa tempat yang kami anggap menarik, kami menerusakan perjalanan naik métro, yang jaringannya di kota ini sangat banyak, jika lihat peta métro bagai melihat sarang laba-laba. Hari itu sekaligus merupakan hari “training” naik métro, karena suami saya bilang jika sudah mahir membaca peta métro, mau kemanapun kita bisa sampai dengan cepat dan praktis di Paris ini.Melalui lorong-lorong métro kami sampai di daerah yang disebut Cluny-Sorbonne, ya ditempat inilah adanya Universitas Sorbonne yang kondang itu. Daerah tersebut cukup ramai dikunjungi turis manca negara, karena dekat ke Jardin de Luxembourg dan gereja Notre Damme de Paris yang terkenal. Daerah ini sering juga disebut Rive gauche, karena terletak disamping kiri sungai Seine. Didaerah ini pula ramai dengan restoran dan cafénya, segala macam restoran, mulai dari makanan jepang, Yunani, vietnam, cina dan tentunya masakan perancis, juga kemudian kami tahu ada restoran Indonesia pula disana.Kami merasa perjalanan hari ini cukup melelahkan dan memutuskan pulang dan tentunya akan menerusakan acara jalan-jalan ini saat akhir pekan. Sebelum sampai di apartemen kami menyempatkan berbelanja keperluan makan malam di supermarket dekat kompleks apartemen dan menyiapkan makan malam pertama kami di Paris.