Thursday, June 16, 2005
Annecy
Annecy, Mei 2001
Kota ini tidak seberapa besar, letaknya di bagian tenggara peta Perancis, berbatasan dengan Swiss. Di Perancis, kota-kotanya di bagi menjadi 95 departemental, Paris masuk departemen nomor 75 yang di sebut région parisienne, Annecy kota baru di mana kami tinggal adalah departemen 74 (Haute-Savoie). Walau kecil, kota kami termasuk kota turis. Di sini terkenal dengan danau Annecy yang indah di kelilingi pegunungan. Kotanya asri, bahkan banyak juga yang menyebut Annecy adalah venesia-nya Perancis. Musim semi dan musim panas, bunga-bunga nampak bermekaran, pohon-pohon hijau rindang. Jika musim dingin sangat dingin karena letaknya yang dekat dengan pegunungan sering pula putih terselimuti salju. Letaknya dekat gugusan pegunungan Alpen dan dekat pula dengan ski resort yang terkenal di mana pernah menjadi tempat olympiade musim dingin, misalnya: Albertville, Chamonix dan La Clusaz. Jika ingin lebih jauh main ski, dapat pula mengunjungi resort-resort didaerah Swiss atau Itali.Musim panas sangat ramai di kunjungi turis manca negara, karena tiap-tiap musim panas diadakan festival internasional film animasi, festival danau (fête du lac), festival musik menyambut musim panas, karnaval a la venesia dan lomba lari marathon internasional mengelilingi danau yang jaraknya kira-kira 45 km.Di sini saya senang bersepeda karena udaranya bersih, sekalian olahraga. Saya juga senang berkeliling naik bis kota, disini bis-bisnya bersih dan apik jangan dibandingkan dengan bis-bis yang ada di Jakarta. Dengan naik bis, saya dapat mengetahui rute yang ditempuh, juga dapat mengunjungi tempat-tempat yang baru. Kita dapat bertanya pada loket-loket penjualan tiket, bis mana menuju kemana dan kita dapat memperoleh buku panduan rute dan jadwal bis secara cuma-cuma.Kami pindah dari Paris ke Annecy bulan Februari 2000, awalnya kami di tempatkan di sebuah kota yang bernama Ferney-Voltaire selama sebulan sebelum memperoleh apartemen sendiri. Di sini kami rasakan begitu banyak perbedaan dari Paris. Kota ini sangat kecil, sangat sepi. Kami berdua yang telah terbiasa dengan hiruk-pikuk kota besar, merasa aneh tinggal dikota seperti ini, mungkin seperti misalnya, orang dari Jakarta pindah ke Cianjur. Sekeliling kota hanya ladang, peternakan dan pegunungan.Kami merencanakan untuk pindah ke Annecy setelah memperoleh info dari rekan-rekan kerja suami. Kami kemudian memperoleh bantuan seorang ibu dari agen relokasi yang biasa mengurusi perpindahan orang asing ke perancis yang disewakan dari kantor tempat suami bekerja, untuk membantu kami mencarikan apartemen di sana.Kami langsung tertarik saat mengunjungi kota tersebut, memang agak jauh jaraknya dari kantor suami dibanding Ferney-Voltaire, tetapi rasanya lebih nyaman tinggal disana. Kami sangat bersemangat saat pertama berkunjung, hari itu kami ada beberapa janji dengan agen apartemen untuk melihat lokasi-lokasi yang ditawarkan. Lokasi yang pertama kami datangi, tidak terlalu istimewa. Lokasi ini dipilih karena dekat dengan autoroute (jalan tol) dan pusat belanja, supermarket carrefour yang menurut salah seorang teman, cabang inilah asal mulanya supermarket carrefour yang kemudian berkembang menjadi besar sekarang, hingga ada beberapa cabang pula di Indonesia. Tetapi kami malah tertarik dengan lokasi yang kedua, letaknya tepat di seberang danau Annecy yang indah dikelilingi taman-taman luas dan pegunungan. Saat itu musim semi. Nampaknya, kami cenderung pindah ke suatu tempat bertepatan dengan musim ini, walaupun tanpa di sengaja.Berbeda dengan Paris, di Annecy dengan harga yang sama kami memperoleh apartemen yang jauh lebih luas. Kami di perbolehkan menempati tempat itu mulai tanggal 1 April 2000. Masalah utama yang harus cepat di tanggulangi di sini adalah soal transportasi, tidak seperti Paris, kemana-mana kami biasa naik métro. Bis bisa mudah ditemukan di Annecy namun untuk pergi ke kantor sangat tidak mungkin naik bis, karena letak kantor suami di lain kota yang mana harus menyebrangi Swiss juga.Jarak tempuh dari Annecy ke kantor suami mungkin kira-kira seperti Jakarta ke Bogor, dan walaupun ada bis antar kota, hal itu tidak praktis di lakukan karena jadwal keberangkatan yang tidak sesuai dengan jam masuk kantor, selain juga akan memakan waktu lebih lama. Jika terlewat dan ketinggalan bis bisa repot. Bukan hanya kehilangan waktu yang sangat berarti bagi para pegawai di kantor, pasti juga setiap hari akan sangat lelah baik secara mental dan fisik. Memiliki mobil pribadi, di sini bukan lagi hal mewah, sudah lumrah dan merupakan hal yang biasa dan perlu. Para petani saja memiliki mobil-mobil keluaran baru disini. Kami berencana membeli mobil, bukan karena untuk gengsi atau kemewahan, hal ini adalah kebutuhan yang penting bagi kami untuk tinggal di daerah ini. Masalah lainnya, SIM atau ijin mengemudi dari Indonesia yang berlaku internasional di Perancis hanya berlaku selama satu tahun pertama kedatangan di negeri ini, setelah itu kami di wajibkan mengikuti tes kembali untuk memperoleh permis de conduire atau SIM perancis. Lain hal jika ada perjanjian antara kedua negara, dimana hanya diperlukan penukaran SIM, seperti misalnya warga negara asal Eropa, Jepang dan sebagainya. Hal-hal tersebut diatas, kami jadikan prioritas paling utama. Untuk membeli mobil, kami tidaklah punya dananya, satu-satunya jalan meminta kredit dari bank. Beruntung, bank yang kami pilih adalah juga bank yang menangani banyak pegawai dari kantor suami, dan dengan adanya kontrak kerja tetap suami, kami memperoleh kredit tanpa hambatan. Hari itu juga kredit disetujui.Mulailah setiap ada kesempatan, biasanya di akhir pekan atau saat makan siang, kami berkeliling kota ke tempat penjualan mobil-mobil bekas. Kami tidak memiliki banyak waktu, begitu kami pindah bulan depan ke Annecy, mobil harus sudah ada. Selama di kota kecil ini, kami di pinjami mobil dari kantor.Suami tertarik dengan sebuah sedan buatan perancis, tahun 1995. Menurut banyak referensi dari rekan-rekan kantornya, merek yang satu ini bisa diandalkan mutu mesinnya. Bengkelnyapun lebih mudah di temukan dimana-mana. Maka, inilah mobil pertama kami. Tinggallah masalah SIM, rencananya secepat mungkin suami mendaftar ke auto école atau sekolah mengemudi.Benturan berikutnya, lagi-lagi masalah bahasa. Tes yang akan dilalui untuk memperoleh SIM ini adalah tes teori dan tes praktek, normal, seperti juga dilakukan di negara manapun. Hanya saja, semuanya dilaksanankan dalam bahasa perancis. Tes teori dilaksanakan dengan sistem online dengan menekan tombol-tombol A,B,C atau D di mesin yang mirip remote control. Keseluruhan pertanyaan ada 40 buah, satu pertanyaan hanya diberi waktu menjawab selama 20 detik, tes dinyatakan berhasil jika kesalahan keseluruhannya maksimal 5 buah.Suami berpikir, bagaimana menjawab pertanyaan, jika pertanyaannya saja tidak paham?. Persiapan mulai di lakukannya, di pelajarinya pertanyaan-pertanyaan dari buku dan cd rom. Latihan di lakukannya setiap malam dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan di komputer. Akhir pekannya ikut latihan di sekolah mengemudi.Tiba saat tes, saya hanya bisa berharap semua berjalan lancar. Pulang dengan wajah kuyu, ia dinyatakan gagal. Total kesalahannya ada 7 dari maksimal 5 buah. Tidak ada cara lain selain mendaftar dan mengulang kembali. Minggu berikutnya, ditempat yang sama ia berhasil ! kesalahannya hanya 3, malah ada rekan satu tempat kursus dengannya, yang orang perancis, gagal dengan kesalahan 10.Tes berikutnya, adalah praktek mengemudi, ini pun ia harus mengulang dua kali. Ceritanya saat itu, lampu merah yang tadinya hijau saat dilewati mendadak berubah kuning, tidak bisa dihindari suami kebablasan. Jika bukan saat tes, mungkin banyak orang melanggar, namun entahlah, nasibnya saat itu mungkin kurang beruntung. Katanya saat itu, “mungkin lagi ada setan lewat ya?”. Sebenarnya, okelah, entah lampu itu memang bikin sial atau tidak, dia bisa menerima kegagalan tes yang pertama ini. Dia menggerutu, karena tahu rekannya yang lain nyaris menabrak orang menyebrang di luluskan!. Mulailah ia menyimpulkan, ini tidak fair, apa karena saya orang asing di perlakukan tidak adil?, begitu pikirnya. Wallahualam. Kami bersyukur tesnya yang kedua lulus gemilang.Memang masalah tes mengemudi ini susah-susah gampang. Banyak rekan-rekan saya yang tes teorinya sekali lulus, tapi tes mengemudinya bisa mengulang sampai dua-tiga kali.Saya menyempatkan mengikuti ujian untuk memperoleh SIM perancis ini saat sedang hamil, waktu itu rasanya berat juga sehingga untuk tes teori saya salah 6 dari maksimal 5 kesalahan. Saya harus sedikit “ngebut” untuk ikut ujian sebelum saatnya melahirkan, mungkin ini juga yang menambah nervous.Di kota ini juga saya meneruskan kursus bahasa lagi, dengan tujuan memperlancar percakapan dan mencari teman-teman baru. Hal pertama yang saya lakukan adalah datang ke kantor walikota atau Mairie, disana kita bisa menayakan dan mendapat informasi mengenai apa saja. Saya ingin kursus di tempat yang di selenggarakan oleh pemerintah karena biasanya biayanya tidak mahal.Dari Mairie saya memperoleh satu alamat tempat kursus yang di rekomendasikan untuk mempercepat proses integrasi antara pendatang di perancis juga bagi para pencari kerja yang belum mahir berbahasa perancis.. Nama asosiasinya adalah A.L.A.P ( Allocation Logement Acueill et Promotion). Keesokan harinya saya menelepon kantornya dan minta agar nama saya didaftar untuk kelas yang dimulai bulan Oktober mendatang. Di tempat ini, dilakukan banyak kursus bagi yang ingin mengembangkan diri dan siap memasuki dunia kerja, kursus seperti ini mereka sebut formation, ada formation bahasa, matematika dan lain sebagainya.Pesertanya juga bermacam-macam bangsa dengan tujuan yang beragam pula. Misalnya, para siswa dari negara-negara seperti Algeria (Aljazair), Tunisia, Maroko yang ingin menetap di perancis dan biasanya untuk mempermudah mencari pekerjaan.Pembayaran dilakukan sangat fleksibel, boleh dicicil beberapa kali tergantung kondisi keuangan masing-masing, setahun ongkosnya 3000 franc. Beberapa peserta malah boleh mengikuti secara cuma-cuma. Untuk yang bekerja, kursus dilakukan malam hari dari pukul 5 sore hingga 8 malam. Kursus yang saya ikuti tadinya pagi hari, dari pukul 8.45 hingga 11.15, kemudian berubah menjadi sore hari pukul 14.45 hingga16.15, dua kali dalam seminggu. Jika kita mau, boleh pula mengikuti course d’écrit atau kursus menulis dipagi hari, jika masih merasa kurang diperbolehkan juga datang kursus malam hari tanpa harus membayar uang ekstra lagi.Alangkah senangnya saya memperoleh apa yang saya inginkan. Teman-teman di sinipun rata-rata memiliki tujuan yang sama. Kami menjadi cepat akrab, walaupun kami sekelas terdiri dari berbagai suku bangsa. Kami dapat berbagi pengalaman, baik yang menyenangkan maupun tidak. Mencari solusi atas kesulitan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari dengan masyarakat lokal dan saling membesarkan hati jika terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.Beberapa diantara kamipun sering saling berkunjung atau mengadakan acara makan malam secara bergantian untuk lebih mengenal keluarga masing-masing.Ada pula beberapa teman yang akhirnya dapat memperoleh pekerjaan, Mohammed misalnya asal Aljazair, ia kini bekerja sebagai petugas pemadam kebakaran. Nonna, dari Rusia sementara bekerja sebagai penjahit untuk butik-butik dan departemen store. Sebelum datang ke Perancis, banyak diantara rekan-rekan ini yang di negaranya memiliki profesi dan karir yang baik, namun karena berbagai alasan mereka harus pindah ke Perancis.Nonna, awalnya adalah seorang ahli kimia yang kemudian berganti profesi menjadi ahli batu-batuan dan permata disebuah toko perhiasan di Rusia, karena ternyata ia alergi terhadap beberapa zat kimia. Di Perancis ia bekerja sebagai penjahit.Marybell asal Meksiko adalah ahli biologi molekuler, ia menikah dengan orang perancis dan dapat memperoleh dua kewarga-negaraan. Untuk izin bekerja, ia memperolehnya dengan mudah, hanya saja di sini ijasahnya harus di setarakan dengan standar Perancis, untuk itu ia harus mengikuti beberapa ujian dan untuk mengikuti ujian, jelas bahasa perancisnya haruslah baik dan benar dahulu.Ada lagi, Maya asal Georgia, Rusia, yang dulunya berprofesi sebagai dokter anak, kini ia sedang sibuk mengikuti kerja praktek di rumah-sakit dan ujian-ujian untuk dapat berpraktek sebagai dokter anak. Ia rela bekerja di rumah sakit tanpa bayaran, sedangkan para stagiere (peserta kerja praktek) asal Perancis mendapat imbalan, jangan tanya mengapa ini di bedakan, memang begitulah aturannya. Tidak mudah bekerja sebagai orang yang kewarganegaraannya bukan perancis, apalagi bekerja di bidang yang keahliannya banyak di miliki orang perancis.Kemudian Mayumi, teman berasal dari Jepang, ia tadinya seorang perawat, meskipun ia menikah dengan orang perancis, ia tidak ingin merubah kewarga-negaraannya. Menurut peraturan pemerintah Jepang, tidak diperkenankan mempunyai dua kewarganegaraan, seperti juga Indonesia. Mayumi tidak ingin melepaskan kewarganegaraan jepangnya. Dengan status warga asing, ia sulit mendapat pekerjaan sesuai profesinya sebagai perawat, sehingga ia rela bekerja sebagai femme de menage atau house-keeper.Sedangkan saya sendiri, di tanah air bekerja di bidang yang sama dengan suami, walaupun di sini profesi di bidang sistem informasi dan komputer masih di butuhkan, namun profesi ini sudah lebih tiga tahun saya tinggalkan, sedangkan perkembangan di bidang ini sangat cepat, banyak hal yang tertinggal sehingga pengalaman saya kurang up-to-date lagi. Namun, saya tetap akan berusaha, untuk sementara saya bekerja sebagai volunteer (sukarelawan) di Unicef cabang Annecy. Secara materi, hasilnya tidaklah seberapa, namun saya memperoleh banyak pengalaman.Sedikit demi sedikit kami menjalani dan menata kehidupan di Perancis, rasanya kini tidak lagi sesulit awal-awal tiba dahulu. Kami mulai dapat merencanakan masa depan, merencanakan punya momongan dan akhirnya dapat memperoleh carte de résident (KTP) Perancis yang masa berlakunya sepuluh tahunan.
Asal muasal tinggal di Perancis
Annecy, April 2001
Pembaca mungkin bertanya-tanya, setelah sekian cerita dibaca mungkin akan timbul pertanyaan seperti: bagaimana mulanya kami bisa tinggal di Perancis? Mengapa memilih Perancis? dan sebagainya. Jawabannya mungkin sedikit akan saya coba ceritakan dibagian ini.Kami berdua adalah teman sekelas sewaktu kuliah dulu. Usia kami hanya berbeda enam bulan, suami saya lahir bulan oktober 1969 dan saya sendiri April 1970. Kami berdua dahulu kuliah di Depok, di STMIK Gunadarma yang sekarang sudah berubah menjadi Universitas Gunadarma.Selepas kuliah, kami sama-sama meniti karir dijalur teknologi informasi dan komputer sesuai ijasah kami. Setelah kurang lebih empat tahun meniti karir, kami memutuskan menikah pada bulan September 1997. Saat itu tepat sebelum krisis ekonomi melanda Asia, Indonesia khususnya. Seperti kita ketahui bersama tahun 1998 di Indonesia terjadi pergantian kekuasaan, keadaan ditanah air saat itu makin hari tidak menentu di tambah dengan krisis ekonomi yang berkepanjangan. Tetapi bukan hal tersebut yang sebetulnya memacu kami untuk mencoba nasib di negeri orang, sebenarnya hal tersebut sudah menjadi cita-cita kami semenjak dulu. Selain untuk mencari pengalaman, memperkaya wawasan dan tentu juga untuk memperbaiki kondisi ekonomi.Suami sangat terdorong untuk mencari pengalaman bekerja di luar-negeri, beruntung perusahaan tempatnya bekerja dulu mendapat proyek diseputar Asia-tenggara. Berawal dari pengalaman inilah ia merasa mampu dan cukup bekal untuk menembus pasar tenaga kerja lebih luas. Kebetulan, tahun-tahun itu banyak lowongan kerja untuk para profesional di bidang teknologi informasi dan komputer di luar negeri, Amerika, Australia, Singapore dan Eropa merupakan beberapa negara yang menawarkan peluang tersebut.Saat itu juga sedang gencar-gencarnya orang membicarakan pergantian abad dan beredarnya kekhawatiran akan adanya millenium bugs. Sejak pertengahan tahun 1998, suami sudah mulai gencar mengirim CV setiap ada iklan lowongan bekerja diluar negeri. Wawancara sudah banyak dilakukannya, melalui telepon jarak jauh atau wawancara dengan perwakilan kantor tersebut di Jakarta. Tawaran pertama yang kami terima adalah untuk bekerja di Amerika serikat, saat itu visa kerja suami sudah siap, begitu pula visa untuk saya sebagai istrinya. Namun, disaat-saat terakhir kami mendapat kabar bahwa perusahaan yang akan merekrut suami saya tersebut kurang baik manajemennya dan banyak email berdatangan dari rekan-rekan yang sudah lebih dahulu berangkat bercerita mengenai hal tersebut. Kami menjadi ragu-ragu untuk pergi, karena tekad kami jika berangkat ingin lebih berhasil di negeri orang, jangan sampai malah konyol disana. Ditengah kegalauan itu datang tawaran lain untuk bekerja di Perancis. Tanpa banyak menimbang-nimbang berangkatlah kami ke Perancis dan terdamparlah kami di Paris ini.Awalnya, memang sulit untuk tinggal jauh dan serba asing pula, layaknya kami harus memulai kehidupan baru lagi. Mendapat kenalan dan teman-teman baru juga. Teman-teman ini kadang lebih seperti saudara sendiri. Lama kelamaan kami dapat juga menyesuaikan diri, namun kami tetap berhati-hati dalam bersosialisasi dengan masyarakat, karena banyak juga hal-hal yang tidak dapat diterapkan dalam kehidupan kami yang masih menjunjung adat ketimuran ini.
Rindu merayakan hari-hari besar
Annecy, April 2001
Ada beberapa acara yang biasa kami tunggu-tunggu yaitu hari-hari besar dimana kami biasa merayakan juga di tanah-air, seperti Hari Raya, Tahun Baru dan bulan Ramadhan.Mengapa?, setelah kami tinggal disini, barulah kami merasakan nikmatnya merayakan hari-hari itu bersama teman-teman dan sanak saudara semasa tinggal di tanah air. Di Paris kami dapat juga merayakan hari-hari tersebut bersama masyarakat Indonesia di Perancis, biasanya di acara-acara tersebut di langsungkan di KBRI atau wisma duta dan biasanya juga dihidangkan berbagai masakan khas tanah-air yang sangat kami rindukan.Di bulan puasa misalnya, di sini bukanlah merupakan bulan istimewa bagi kebanyakan masyarakat perancis. Hanya kaum muslimin dan muslimat yang menjalankannya saja yang dapat merasakan istimewanya. Jauh berbeda jika kami mengingat bulan puasa di tanah-air, yang di seluruh pelosok dikumandangkan adzan maghrib tanda berbuka, dan sahur bersama sanak-saudara. Perasaan seperti itu yang kadang membuat kami rindu.Di Paris acara berbuka dan shalat tarawih bersama masyarakat Indonesia biasanya di adakan di aula KBRI. Ada pula shalat tarawih di mesjid besar Paris sepanjang bulan suci ini. Masyarakat Perancis beragama Islam biasanya keturunan Arab atau Afrika, bersama merekalah biasanya suami menjalankan pula ibadah shalat hari jum’at atau “jum’atan”.Ramadhan di negeri orang memang berat rasanya, di mana-mana terlihat orang makan dan minum, merokok dan sebagainya. Namun waktu berpuasa kami, jika di musim dingin sangat pendek jika dibandingkan berpuasa di tanah-air. Saat ini subuh sekitar pukul 7 pagi dan maghrib sekitar pukul 5 sore.Lain hal jika bertepatan dengan musim panas, waktu berpuasa kami akan sangat panjang, karena matahari terbenam kira-kira pada pukul 10 malam.Pemandangan lain yang kami rindukan, adalah saat berbuka puasa. Selama di Jakarta dulu, menjelang saat berbuka, dimana-mana sudah berjejer orang menjajakan berbagai macam bubur dan makanan ringan untuk berbuka di jalan. Jalanan-jalanan yang macet disekitar pusat perkantoran dan perbelanjaan di sana menjadikan kita jarang sekali bisa berbuka di rumah masing-masing. Belum lagi, kerjaan yang mungkin masih harus di lanjutkan selepas berbuka.Disinipun biasanya saya lebih sering berbuka sendiri, karena suami bekerja hingga pukul 7 malam dan biasanya dia berbuka di kantor dengan membeli kopi atau coklat di mesin otomatis yang ada. Barulah, berbuka atau makan malam di rumah.Kemudian, acara tahun baru. Di sini biasanya di ramaikan oleh pesta kembang api dan parade sepanjang Champs Elysées. Pesta kembang api berpusat di Eiffel tower dan Troccadero. Acara ini juga lazim diadakan saat hari kemerdekaan perancis tanggal 14 Juli. Biasanya sejak sore hari calon penonton sudah berkumpul di sepanjang sungai Seine menunggu acara dimulai sembari menggelar acara piknik di rerumputan pinggir sungai. Sedangkan hari kemerdekaan RI biasanya di rayakan di KBRI Paris, umumnya acara yang di tunggu-tunggu warga Indonesia adalah jika di adakan jamuan makan siang. Demikian pula saat pergantian tahun dan hari besar agama. Kami sempat hadir saat wisma Indonesia mengadakan acara open house di Hari Raya Idul Fitri. Malah dengar-dengar ada rekan-rekan yang sengaja berkeliling untuk menghadiri acara open house ini, biasanya dubes kita untuk Unesco juga membuka pintunya bagi masyarakat Indonesia untuk bersilaturahmi. Kita lihat cukup banyak juga ternyata warga Indonesia di Perancis jika sedang berkumpul demikian, dimana ada gula disitu ada semut, dimana ada acara makan gratis di situlah masyarakat kita berkumpul.....
Apartemen kami
Penulis: Srie Candrawati
Annecy, April 2001
Seperti telah saya ceritakan di awal tulisan ini, kami berniat pindah apartemen. Ingin tinggal di apartemen sendiri tidak harus berbagi tempat dengan orang lain. Di apartemen kami sebelumnya, ada dua kamar tidur, satu kamar mandi, satu dapur dan ruang tamu yang cukup besar. Sebetulnya tidak buruk untuk tinggal disini, namun kami ingin adanya privasi. Di sini teman menyewa kamar lainnya. Salah satu hal yang harus sangat dihargai jika berbagi apartemen dengan orang lain adalah masalah toleransi dan rasa memiliki tempat sewaan tersebut. Sayangnya, seminggu saja kami disitu rasa tidak nyaman mulai menghinggapi.Hal yang paling mendasar adalah masalah kebersihan. Apakah tidak merasa jengkel jika kita sudah rajin membersihkan apartemen, eh, orang lain rajin pula mengotori?. Di sini bukanlah Indonesia, dimana kita bisa menyewa jasa pembantu dengan biaya tidak terlalu mahal.Bagitulah awalnya mengapa kami ingin pindah. Kami mulai “bergerilya” menelusuri kolom demi kolom harian yang di terbitkan khusus bagi pencari apartemen di Paris. Harian khusus tersebut terbit setiap hari kamis, dan biasanya pula begitu kami datang ke lokasi, kami sudah menjadi calon penyewa yang kesekian, karena siapa cepat dialah yang dapat.Biasanya kami membuat janji dengan pemiliknya untuk berkunjung di akhir pekan. Namun setelah berminggu-minggu di tengah rasa kecewa dan badan yang penat setiap akhir pekan berburu mencari apartemen, belum juga kami temukan apartemen yang sesuai, ya budgetnya, ya lokasinya juga kondisinya. Kebetulan suami menemukan sebuah majalah yang diterbitkan khusus untuk orang asing di Paris. Majalah tersebut terbit 2 kali sebulan dan gratis. Di rubrik “housing and apartement” kami menemukan satu lokasi yang menarik, letaknya ada di daerah Paris XV - untuk diketahui, kota Paris ini di bagi menjadi XX wilayah yang disebut arrondissement. Paris XV, kata orang termasuk daerah yang bagus, quartier chic menurut orang sini. Memang sangat strategis, dekat Eiffel Tower, dekat pusat-pusat kebudayaan dan kedutaan-kedutaan besar. Daerah ini juga merupakan daerah yang favorit di kunjungi turis.Kami beruntung mendapatkan janji untuk berkunjung. Begitu berada di depan gedungnya, rasanya sulit dipercaya, daerahnya tenang dan nyaman, gedungnya lumayan baru dan bersih. Bagi kami ini sangat menentukan, karena terus terang saja saya tidak begitu suka dengan bangunan tua, walaupun tetap terawat dan antik berseni kok rasanya tidak nyaman tinggal di bangunan kuno, spooky istilah baratnya. Tetapi kami sudah tahu sebelumnya bahwa apartemen yang kami incar ini tipe studio, jauh lebih mungil dari yang kami bayangkan. Mengingat budget kami untuk apartemen yang hanya 3000 franc, akanlah sulit mendapatkan apartemen sesuai angan-angan didaerah sebagus ini, jika mau ya inilah adanya. Kami minta waktu untuk memutuskannya beberapa hari kemudian dan mohon dijadikan calon penyewa yang pertama. Soal pencarian apartemen ini, sebenarnya sudah beberapa lokasi yang kami kunjungi setiap akhir pekan. Dalam memilih daerah, memang kami sangat hati-hati mengingat ada daerah-daerah tertentu di Paris yang dikategorikan rawan kejahatan.Salah satu apartemen yang kami kunjungi terletak di Paris V, adalah apartemen yang dibangun diabad ke XVIII, saat kami memasuki bangunannya, hanya disediakan tangga tidak ada lift. Letaknyapun dilantai 4, saat kami menaiki tangga, terdengar bunyi yang menandakan tangga sudah tua dan reot. Kami jadi tidak terlalu antusias saat memasuki ruangannya, walaupun bersih dan habis di renovasi. Ada lagi lokasi didaerah Bastille, daerah yang menurut orang cool and funky, karena disana berkumpul tempat-tempat hiburan buat anak muda. Tetapi di sana kami hanya diurutan ke 5 sebagai calon penyewa dan akhirnya kami harus kecewa saat mengetahui apartemen sudah diserahkan pada penyewa lain.Pada hari yang sudah di janjikan, kami memutuskan untuk menyetujui dan menandatangani kontrak apartemen yang didekat Eiffel itu. Biar mungil, lokasi itu adalah yang terbaik dari yang telah kami kunjungi. Bersiap-siaplah kami untuk pindah, rasanya bahagia sekali dan yang lebih membanggakan adalah kepuasan mendapat apartemen atas usaha sendiri. Disini, orang biasanya meminjam tenaga agen apartemen yang disebut agence immobilier untuk bantuan mencarikan apartemen. Tentunya dengan embel-embel komisi yang tidaklah kecil jumlahnya. Untuk menghindari itulah kami rela bersusah payah mencari sendiri.Tetapi kerepotan ini bukan hanya sampai disitu, karena apartemen tersebut kosong hanya disediakan kompor kecil dan kulkas. Pertanyaan berikut yang muncul, kami akan tidur dimana? dilantai?, walaupun berkarpet, pasti tidak mungkin karena kondisi cuaca sangat dingin. Walau ada pemanas dalam ruangan, bukan berarti lantainya hangat kan?.Saat mencari tempat tidur ini, kami lakukan dengan cara meneliti satu persatu kolom iklan mini di majalah bagian iklan barang-barang bekas, atau istilah kerennya second hand. Jika ada yang menarik, kami akan hubungi lewat telepon. Berhari-hari ini kami lakukan, menelepon pun kami lakukan bergantian. Biasanya malam-malam setelah suami pulang kerja dan makan malam, kami keluar mencari telepon umum. Maklum saja, telepon di apartemen kami hanya dapat di pakai untuk menerima, mungkin pemiliknya berpikir ini akan lebih mudah saat menghitung tagihan bulanan kami. Setelah di temukan tempat tidur yang harga dan spesifikasinya mendekati keinginan kami, kami langsung membuat janji berkunjung malam itu juga, masalahnya waktu pindahan semakin dekat, sedangkan barang belum juga di tangan.Beruntung kami menemukan sebuah alamat yang menawarkan tempat tidur bekas dalam kondisi yang masih prima, pemiliknya seorang wanita inggris. Dia membeli tempat tidur tersebut belum lama dan hampir tidak pernah dipakai karena dia pindah tinggal dengan pacarnya. Dengannya, kami mendapatkan harga yang sesuai dengan kantong kami saat itu. Jika harus membeli baru ditoko, harga untuk model yang serupa bisa tiga kali lipatnya. Hal-hal seperti ini kami rasakan sangat perlu, kami harus pandai-pandai berhemat, jika ingin selamat. Kami langsung membayar uang muka dan berjanji akan melunasi saat barang diambil nanti.Lalu timbul masalah berikutnya, bagaimana cara mengangkut tempat tidur tersebut ke lokasi apartemen baru kami. Walau letak lokasi tidak terlalu jauh, kami tetap harus mencari mobil untuk mengangkutnya. Sangat tidak mungkin kami bawa berdua naik métro. Tempat tidur ini cukup besar dan spring bed nya berat pula. Si pemilik tempat tidur ini sangat mengerti kondisi kami, maka ia bantu kami bernegosiasi dengan supir taksi yang mangkal di seputar apartemennya. Adalah seorang supir taksi tua yang baik hati, yang menyanggupi mengangkut barang tersebut dua kali jalan pulang-pergi dan membantu kami mengikat beberapa perlatan diatas taksinya. Beruntung tempat tidur ini bisa dipisah-pisahkan dan laci-laci dibawahnya bisa di angkut belakangan.Pada hari yang sudah di tentukan, saat itu hari jum’at sore, kami berjanji akan mengambil tempat tidur tersebut dan melunasi sisa uangnya. Seperti kebiasaan masyarakat kota, jum’at malam adalah waktu untuk melepas ketegangan selama seminggu sibuk bekerja, demikian pula dengan pasangan pemilik tempat tidur ini, mereka rencananya akan keluar kota untuk berakhir pekan. Maka, saat kami tiba sore itu, mereka langsung minta maaf tidak dapat membatu kami, karena mereka harus segera pergi. Okelah, sudah beruntung mereka mau ikut menggotong tempat tidur hingga ke lantai dasar (lagi-lagi apartemennya ini tidak ada lift, untungnya letaknya hanya dilantai dua).Setelah taksi di dapat, kami langsung berusaha mengangkut tempat tidur ini, berhubung cukup besar, ada bagian yang harus di letakkan di atas taksi.Si supir tua tadi dengan suami bergotong-royong mengikat dengan tali yang hanya alakadarnya, untung talinya cukup panjang dan kuat. Saya kebagian menunggui sisanya yang tidak terangkut, berupa 4 laci besar dan spring bed. Saya menunggu diluar apartemen. Setelah semua terangkut, kami membayar ongkos taksi beserta tipsnya sekitar 250 franc, sedangkan jika menyewa jasa transport untuk trayek sedekat itu bisa dua kali lipatnya. Ah, tenang sudah rasanya. Kamipun menunggu-nunggu saat kami dapat menempati apartemen kami diawal bulan.Di tengah-tengah rasa puas dan lega, ada satu hal yang masih menyangkut di pikiran, yaitu asuransi apartemen. Seperti kebiasaan penyewa disini, kami harus membayar asuransi untuk tempat yang kami sewa. Kami sempat terlambat menyerahkan copy sertifikat asuransi kepada pemilik apartemen, berhubung sibuk membandingkan harga premi asuransi sesuai budget kami. Untungnya si pemilik ini cukup ramah, baik hati dan sopan. Walaupun kami mendapat teguran tetapi tidak sampai dia marah-marah. Setelah asuransi kami urus, selesailah sudah masalah apartemen ini. Kini barulah kami dapat bernapas lebih lega.
Kesulitan bahasa
Annecy, April 2001
Mungkin pembaca sudah sering mendengar atau membaca cerita tentang suka duka hidup di luar negri, karena saya pun gemar membaca kisah bagaimana seseorang hidup di luar negeri atau mendengar pengalaman orang lain yang sudah terlebih dahulu mengalaminya.Akan tetapi, setelah saya rasakan sendiri, masih banyak rasanya hal-hal baru yang saya temukan disini. Hidup di Eropa, khususnya Perancis akan lain ceritanya jika dibandingkan dengan di Amerika misalnya. Di Eropa, khususnya Perancis salah satu masalah yang harus cepat di tanggulangi adalah bahasa. Di sini masalah tersebut masih sangat dominan. Pemikiran saya yang tergolong naif tentang negeri ini membuat saya terheran-heran mengapa tidak ada seorangpun yang mau diajak berbahasa Inggris?, karena saya pikir bahasa Inggris sudah sangat mendunia, kemanapun orang bisa mengandalkan bahasa yang satu ini.Bulan-bulan pertama saya dinegeri ini, saya melihat sepertinya orang perancis “alergi” terhadap bahasa Inggris, yang sayapun hingga kini masih kurang paham mengapa. Apakah karena sejarah masa-masa yang silam antara orang perancis dan orang inggris dahulu yang tidak akur dan selalu saling meledek satu sama lainnya, saya tidak tahu pasti. Yang kami tahu dan kami rasakan adalah kesulitan yang kami hadapi misalnya, saat mencari apartemen sendiri. Kesulitan pertama adalah membaca iklan apartemen yang ditawarkan, sudah bahasanya kurang paham, disingkat-singkat pula. Lalu, tahap berikutnya menghubungi pemilik apartemen yang kami incar tersebut, segala buku pelajaran berbahasa perancis kami pelajari untuk mendapatkan kata yang rasanya paling tepat untuk menyatakan maksud kami, itupun masih harus bergulat dengan aksen yang banyak berbeda dengan bahasa kita, maupun bahasa Inggris yang lebih dulu kami kenal. Belum lagi ternyata pilihan kata dimaksud ternyata kurang tepat.Jika ingin berbelanja keperluan sehari-hari tidaklah terlalu memusingkan kepala, karena kita tidak perlu banyak berbicara, jika berbelanja di supermarket atau mini market kita cukup melihat harga yang tertera dan membayarnya di kasir, untuk permulaan sudahlah cukup, tidak menimbulkan masalah. Tetapi jika tinggal lebih lama disini, pastilah tidak semudah itu. Salah satu cara, kemanapun kami tidak pernah lupa membawa kamus. Pasar tradisional sebenarnya ada juga, tetapi biasanya tempat dan waktunya sudah di tentukan. Pasar-pasar ini biasanya diadakan dari jam delapan pagi hingga sekitar jam dua siang. Setelah itu pasar bubar dan petugas kebersihan membersihkan tempat tersebut.Kata pepatah mengatakan malu bertanya sesat di jalan, rasanya saat itu kurang tepat bagi kami, karena apa yang kami rasakan bukannya malu untuk bertanya namun kesulitan berbahasa. Ini mungkin yang akan menimbulkan rasa segan bertanya, tapi janganlah sampai kami sesat di jalan. Apapun hambatannya harus di usahakan jalan keluarnya. Soal bahasa perancis sendiri, sebenarnya sudah pernah saya pelajari saat berada di tanah-air dulu selama 4 bulan intensif, namun begitu sampai di Paris apa yang saya pelajari rasanya sangatlah minim untuk dapat di terapkan dalam percakapan sehari-harinya. Belum lagi orang perancis di Paris yang bicaranya cepat ditambah banyak kata-kata “sleng”, sangatlah sulit ditangkap apa maksud pembicaraannya. Untuk pendatang baru, contohnya suami saya jika di kantor, biasanya orang-orang masih bisa menerima bahasa Inggris, namun lama kelamaan sedikit-sedikit mereka menganjurkan kami untuk berbahasa perancis. Dulu, saat saya belajar bahasa ini suami malah tertawa-tawa meledek karena pengucapan “R” di bahasa perancis sangat unik, seperti orang yang sakit tenggorokan dan ingin mengeluarkan apa yg tersumbat dalam tenggorokannya (kasarnya, seperti orang ingin buang riak). Huruf yang satu ini memang banyak jadi penghambat bagi orang yang baru belajar bahasa ini, diucapkan bukan akibat getaran lidah dan langit-langit seperti layaknya “R” dalam bahasa kita, tetapi atas tekanan pangkal lidah ke tenggorokan. Kini dia kena batunya.Lucunya, orang perancis jarang melafalkan huruf “H”, walaupun huruf ini termasuk dalam alphabet mereka, namun tidak untuk diucapkan. Misalnya Hôtel, mereka baca “otel”, dan ini mereka terapkan dalam bahasa asing lain, seperti contohnya bila berbicara bahasa inggris. Akan tetapi sebaliknya, mereka suka menambahkan huruf ini pada tempat yg tidak seharusnya, contohnya: mereka ingin mengatakan “I am ill” mereka katakan “I am hill”. Ini bukan lelucon, memang yang kami amati demikian walaupun tidak semua orang perancis begitu. Orang perancis yang bahasa inggrisnya baik dan benar juga ada, tapi jarang yang kami jumpai. Saya minta maaf sebelumnya, bukannya saya ingin meledek orang perancis, saya hanya ingin berbagi pengamatan, seperti juga bangsa lain ada yang mungkin sulit mengucapkan “R”. Saya rasa ini hanya masalah perbedaan bahasa saja. Seperti halnya masalah logat, masing-masing suku bangsa berbeda-beda.Kelihatannya saya banyak mengeluh mengenai bahasa?, ya karena memang inilah hambatan pertama yang harus di tanggulangi karena komunikasi sangatlah penting dalam kehidupan sehari-hari bagi semua orang tentunya.
PARIS, Kami datang...
Annecy, April 2001
Kami menginjakkan kaki di Paris tepat tanggal 1 April 1999 kira-kira jam 6 pagi waktu setempat. Setelah di ingat-ingat lagi ternyata orang bilang, april mop (april fool), akan tetapi kami sama sekali tidak ada niatan ber-april fool dengan siapapun, karena akhirnya kami benar-benar berada di Paris hari itu. Untuk suami saya, ini bukan kali pertama karenasebelumnya dia sudah tinggal selama satu setengah bulan di Paris, sebelum kemudian pulang dulu ke tanah air untuk menjemput saya dan memperoleh visa “long séjour” atau visa untuk menetap lebih lama.Kesan pertama yang saya peroleh adalah cuaca yang sangat dingin, padahal saat itu sedang musim semi namun udaranya relatif masih sangat sejuk bagi kita yang terbiasa dengan hangatnya udara tropikal. Kami naik bis dari bandara hingga Place de l’Opéra. Sepanjang perjalanan yang saya perhatikan adalah bangunan-bangunan yang nampak kuno dengan dindingnya yang kehitaman, sama sekali bukan bayangan kota metropolitan seperti yang ada dibenak saya selama ini. Ternyata Paris bukanlah seperti Singapore misalnya, yang penuh gedung-gedung menjulang tinggi dan moderen. Kesan pertama saya Paris adalah kota tua yang penuh bangunan antik.Setelah tinggal cukup lama, barulah saya mengerti mengapa Perancis dan hampir semua negara di Eropa lainnya sengaja mengabadikan bangunan-bangunan kunonya yang antik. Di Paris sendiri ada larangan membangun gedung-gedung tinggi didalam kota. Saya perhatikan memang benar, bangunan-bangunan tinggi umumnya dibangun dipinggir kota atau mereka menyebutnya “banlieu”.Dari Place de l’Opera kami naik Taxi sampai ke apartemen, karena barang bawaan kami cukup banyak, 1 koper besar, 2 koper kecil plus “titipan” untuk teman-teman dari sanak saudaranya di tanah air. Sampai di kompleks apartemen kami, saya berhenti sejenak memandang sekeliling seperti kebiasaan saya jika datang kesuatu tempat baru, biasanya saya ingin bisa merasakan nyaman atau tidaknya tempat tersebut. Sejauh ini, rasanya kok dan nyaman dan aman-aman saja. Alhamdulillah, saya batin dalam hati, semoga perasaan saya benar adanya.Apartemen kami terletak di lantai dua. Kompleks ini cukup luas dengan bangunan serupa di sekitarnya, tamannya hijau dan terawat. Saya juga mendengar teriakan anak-anak kecil, yang ternyata berasal dari sekolah taman kanak-kanak yang letaknya bersampingan dengan kompleks apartemen ini.Sesampainya di dalam apartemen, saya langsung berkeliling, sekedar ingin melihat kondisinya. Lumayan, begitu batin saya saat itu. Tapi sayangnya, kita saat itu masih harus berbagi apartemen dengan penyewa lain yang kebetulan orang perancis keturunan Afrika. Bukan saya bermaksud membeda-bedakan orang dari suku bangsa atau warna kulitnya, tapi lebih karena kami ingin tinggal di apartemen sendiri, tidak apa lebih kecil asal ada privacy karena ini menurutkami sangat penting. Tidak mudah untuk tinggal bersama orang lain apalagi yang belum kami kenal. Dari perbedaan cara atau kebiasaan saja bisa lama kelamaan dapat timbul konflik, dan biasanya dari konflik yang kecil-kecil jika di kumpulkan setiap hari lama-kelamaan menjadi besar. Itu yang selalu ingin kami hindari. Sebetulnya suami sudah memberi tahu bahwa sementara kami akan tinggal di apartemen bersama dengan orang lain, namun ia pun berjanji secepatnya akanmencari apartemen sendiri.Tiba-tiba rasa lelah tak terhindarkan, barulah terasa penatnya setelah menempuh perjalanan jauh berjam-jam dari tanah-air, rasa kantukpun menyergap. Kami beristirahat sejenak, sebelum akhirnya bangun untuk makan siang dan rasanya tidak sabar untuk langsung melihat-lihat kota yang kata orang romantis ini.Tempat pertama yang di perkenalkan suami kepada saya adalah Les Hales dan Châtelet . Kenapa kemari? karena nampaknya inilah daerah pertama yang sangat dikenalnya. Mengapa? ya, bukan lain karena setiap hari melalui rute inilah perjalanannya ke kantor. Pikir saya saat itu, ya beginilah uniknya suami saya, jika sudah kenal suatu tempat akan kesanalah dia setiap kalinya. Begitu pula jika melalui suatu jalan, ia cenderung menempuh jalan yang sama, dari pada susah mencari jalan tembus lainnya. Berbeda dengan saya, yang selalu ingin menemukan dan mencoba tempat-tempat baru, namun saya akui rasa ingin tau dan keinginan menjelajahi kota kadang sedikit menyerempet bahaya, apalagi sebagai perempuan asing dikota yang asing pula. Tapi entah mengapa, saat itu saya benar-benar tidak punya rasa takut dan alhamdulillah saya selamat dan baik-baik saja selama tinggal disana. Padahal jika saya ingat kembali, Paris bukanlah kota aman yang bebas dari bermacam-ragam tindak kejahatan, di Paris juga banyak copet!, malah ada seorang teman dari tanah air yang pada hari pertama keluar berjalan-jalan di Paris kecopetan di dalam métro (kereta bawah tanah). Saat itu yang ada di pikiran saya, di sini jika kita tidak mencari tahu sendiri mana ada orang yang mau memberi tahu. Dari beragam pengalaman yang kami temukan itulah kami belajar bagaimana hidup di sini. Syukurlah, kami tidak sempat mengalami hal-hal yang tidak diinginkan.Setelah mengabadikan beberapa tempat yang kami anggap menarik, kami menerusakan perjalanan naik métro, yang jaringannya di kota ini sangat banyak, jika lihat peta métro bagai melihat sarang laba-laba. Hari itu sekaligus merupakan hari “training” naik métro, karena suami saya bilang jika sudah mahir membaca peta métro, mau kemanapun kita bisa sampai dengan cepat dan praktis di Paris ini.Melalui lorong-lorong métro kami sampai di daerah yang disebut Cluny-Sorbonne, ya ditempat inilah adanya Universitas Sorbonne yang kondang itu. Daerah tersebut cukup ramai dikunjungi turis manca negara, karena dekat ke Jardin de Luxembourg dan gereja Notre Damme de Paris yang terkenal. Daerah ini sering juga disebut Rive gauche, karena terletak disamping kiri sungai Seine. Didaerah ini pula ramai dengan restoran dan cafénya, segala macam restoran, mulai dari makanan jepang, Yunani, vietnam, cina dan tentunya masakan perancis, juga kemudian kami tahu ada restoran Indonesia pula disana.Kami merasa perjalanan hari ini cukup melelahkan dan memutuskan pulang dan tentunya akan menerusakan acara jalan-jalan ini saat akhir pekan. Sebelum sampai di apartemen kami menyempatkan berbelanja keperluan makan malam di supermarket dekat kompleks apartemen dan menyiapkan makan malam pertama kami di Paris.