Sunday, March 19, 2006

Sekolah Dasar

Penulis: Srie Candrawati.
Geneve, 19 Maret 2006.

Perbedaan sistem pendidikan dasar di Perancis dan Swiss sebetulnya tidak banyak, hanya jika anak-anak Perancis mulai masuk sekolah dasar wajib (obligatoire) usia 3 tahun, di Swiss usia 4 tahun. Di Perancis sekolah dasar untuk anak2 usia 3-5 tahun disebut Maternelle (petit-moyen & grand) baru kemudian Primaire. Di Swiss (bagian french speaking canton) anak2 usia 4-5 tahun bersekolah di Ecole enfantine (1 & 2). Jadi, walaupun usia masuk sekolah berbeda 1 tahun, selesai tahap dasar (kanak-kanak) sama saja, karena di Perancis dilalui 3 tahun, di Swiss hanya 2 tahun sebelum masuk Primaire (Primary School).

Anak kami, kebetulan lahir bulan November 2001, baru bisa mendaftar tahun ini (2006) yang seharusnya usianya mencapai 4 tahun ditahun lalu (2005). Mengapa? karena ketentuannya, anak2 tahun ajaran 2005-2006 adalah yg sudah berusia 4 tahun paling lambat kelahiran 31 Oktober 2001. Ya, jadi anak kami "lewat" sebulan.. tidak bisa diterima, harus menunggu tahun berikutnya.

Tidak apa, bagi kami sebetulnya yang paling penting adalah kesiapan anak itu sendiri. Kesiapan secara mental dan kebiasaan beraktifitas di institusi lain selain di rumah. Untuk itu, kami sudah mulai membiasakan anak kami, Annisa Francelina, masuk pre-school (Garderie Educative) dekat tempat tinggal kami, sejak tahun ajaran 2004-2005 lalu, 2 kali seminggu pagi hari. Lalu sesuai dengan kesiapannya, ditahun ajaran 2005-2006 menjadi 4 kali seminggu pagi hari. Jam buka garderie "Le Petit Prince" dimana anak kami bersekolah adalah jam 8.30-11.30 pagi saja. Jam tersebut masih bersifat fleksibel, anak bisa masuk sekolah jam 9 pagi dan pulang jam 12 siang, jadi ada 30 menit toleransi.

Banyak manfaat yang didapat anak kami selama bersekolah disini. Antara lain, kemandirian, rasa percaya diri, berteman, berbagi, mengikuti aturan (tidak seenaknya sendiri) dan disiplin (contoh, sehabis bermain, membereskan mainannya; sehabis makan, cuci tangan dan mulut dsb). Juga kesempatan merayakan hari-hari perayaan seperti Halloween, Escalade (perayaan khas Genevois) dlsb dimana anak-anak memakai kostum kesekolah, hal yang tidak pernah kami rayakan dirumah.

Di akhir tahun ajaran, biasanya sekitar akhir bulan Juni, garderie Le Petit Prince mengadakan pertunjukan panggung, dimana anak-anak sebagai pemainnya (disamping para pengasuh TK nya juga). Kami, orang tua sebagai penonton. Anak-anak benar-benar bangga berada dipanggung, dan acara ini kemudian terkenang, teringat dan sangat berkesan dihati kami semua.

Bulan Agustus 2006 nanti, anak kami akan mulai bersekolah di Ecole Enfantine, yang letaknya hanya diseberang kompleks apartemen kami. Memang, peraturannya diminta mendaftar disekolah terdekat. Sekolah publik terdekat, maksudnya. Dan sekolah publik disini GRATIS! suami saya terheran-heran saat selesai pendaftaran. Bayangannya, pendaftaran sekolah akan seperti umumnya dijumpai dinegara kami.. riuh rendah, semrawut, pusing (pusing bisa karena: pengapnya udara panas, banyaknya calon orangtua murid yang mendaftarkan anaknya, pusing biaya pendaftaran PLUS biasanya.. uang gedung, POMG dlsb lah...).

Jadi tatkala pendaftaran disini berlangsung, tenang, tertib, dan tidak dipungut biaya apapun... suami saya takjub!... berceritalah dia dengan semangat saat sampai dirumah, bagaimana perbedaan negara maju dan berkembang. Hal-hal penting, seperti sekolah dan pendidikan kan sebaiknya dimudahkan, bukan malah dipersulit. Katanya negara kita ingin "mencerdaskan bangsa".. mulailah dengan mencerdaskan rakyatnya untuk semua lapisan masyarakat pendidikan bermutu dan cuma-cuma.. seperti contohnya dinegara-negara maju.

Thursday, August 18, 2005

Nonante (baca: Nonong)


Penulis/pengarang: Srie Candrawati (Geneve, 29 Mei 2004.)

Ini bukan istilah dari bahasa jawa yang biasa didengar ("bathuke nonong") atau terjemahan bebasnya: jidat agak menonjol sedikit. Nonong disini diambil dari 'nonante' atau 90 kalau orang Swiss romand yang berbicara angka sembilan puluh. Menurut bpbb (bahasa perancis yang baik dan benar) 90 disebut quatre-vingt-dix (baca: katre-vang-dis). Penyebutan angka dalam bahasa perancis memang susah-susah gampang. Susah mungkin, bagi pemula yang baru mau akan belajar bahasa perancis, gampang buat yang sudah terbiasa... walau belum mahir benar.

Sedikit saya coba beri contoh, angka 1 hingga 69 masih terbilang mudah untuk dihapalkan, mulai 70 sudah meningkat tingkat kesulitannya. 70 dalam bahasa perancis adalah soixante-dix yang didapat dari 60+10 (soixante = 60 dan dix = sepuluh). Lalu tingkat kesulitannya bertambah saat angka mencapai 80 (quatre-vingt) yang didapat dari 4X20 (quatre = 4 dan vingt = 20), kemudian itu tadi 90 (quatre-vingt-dix) yaitu 4X20+10....

Boleh mengomel, jika pembaca ingin protes silahkan saja. Entah mengapa penciptaan angka-angka bahasa perancis begitu 'njelimet', mungkin dari asal-usulnya memang orang prancis suka yang 'njelimet-njelimet' maka terciptalah cara penomoran seperti diatas tadi. Mungkin itu pulalah tetangganya, Swiss yang letak secara geografis dekat dengan perancis atau disebut Swiss romand (karena ada Swiss Allemand/German dan Swiss Itali) lebih memilih cara yang lebih mudah. Mereka menyebut 70 bukan soixante-dix tetapi 'septante' (dibaca:septong) lalu 80 disebut huitante (baca:witong) dan 90 adalah 'nonante' (baca:nonong).

Mulanya saat baru pindah dari perancis ke swiss saya terbengong-bengong juga mendengar orang menyebut septante-sept (77) yang biasanya saya dengar soixante-dix-sept. Biasanya pula jikalau angka sudah mendekati 100 saya selalu siap-siap berhitung. Coba saja yang 77 tadi, biasanya saya mulai mencerna: 60+10+7 jadinya soixante-dix-sept, nah.. paham saya. Ketika saya dengar septante-sept dan kemudian tahu equivalennya, saya bernapas lega ternyata ini jauh lebih mudah.. tidak perlu perkalian,penjumlahan seperti diSD lagi. Ini baru masalah angka yang berbeda, masih banyak bahasa 'sleng' yang hingga kini saya tidak tahu maksudnya, mungkin suami saya lebih jago kalo ditanya bahasa 'sleng' nampaknya karena sehari-harinya lebih sering dipakai dalam percakapan dikantor.



Saturday, June 18, 2005

Tetangga bermacam bangsa


Penulis: Srie Candrawati

Geneva, Agustus 2003

Semasa di Annecy dulu, tetangga yang tinggal satu gedung dengan kami tidak terlalu beragam,rata-rata orang perancis atau satu-dua orang asal negara eropa lainnya. Kami satu-satunya warga Asia atau sebutlah warga kulit berwarna. Ini hanya kebetulan saja, jika tinggal digedung lain bisa saja berjumpa penyewa lain yang lebih bervariasi.Di Geneva tentulah sangat bervariasi.

Tetangga dilantai tepat dibawah kami adalah sekelompok pelajar asal RRC, awalnya saya pikir mereka satu keluarga, tetapi lama-lama kami amati yang tinggal disitu barganti-ganti, menurut nama dikotak pos kira-kira ada 6 orang dengan family name berbeda. Kok saya ini “reseh” amat memperhatikan hingga ke kotak pos segala ya? masalahnya, dihari pertama kami menempati apartemen, suami sudah mengomel karena mereka ngobrol dengan suara keras hingga lewat tengah malam. Hari-hari berikutnya mereka sedikit mereda setelah suami “menegur” karena merasa terganggu. Anehnya, kami perhatikan kira-kira mulai pukul11 malam nampaknya mereka sibuk memasak, memang harum masakannya kemana-mana apalagi musim panas begini jendela-jendela semua terbuka hingga wangi masakan bisa tercium. Jika soal ini,suami tidak “protes” malah sibuk mengira-ngira masakan apa yang sedang dimasak. Suatu hari ia berkata “nampaknya mereka sedang masak bakso nih” seraya meminta saya membuatkan bakso keesokan harinya. Saya katakan saja, yang mereka masak itu bakso babi (maaf bagi yang non-muslim), agar suami saya tidak terlalu “ngiler”.

Suatu ketika kami berpapasan dengan rombongan mereka dimalam hari siap dengan bungkusan-bungkusan besar ditangan mereka. Kami baru saja pulang, mereka baru akan pergi. Saya langsung katakan pada suami, jangan-jangan mereka ini karyawan restoran,tidaklah mengherankan jika setiap malam tercium bau masakan & setiap malam mereka membawa bungkusan-bungkusan besar.Di hari-hari tertentu wangi masakan berganti dengan wangi dupa, nampaknya mereka sedang sembahyang. Kadang dari balkon terdengar irama lagu dengan penyanyi berbahasa mandarin.

Lucu juga kami pikir-pikir jika memperhatikan tetangga yang ini.Tetangga-tetangga lain, kebanyakan berasal dari Spanyol, Portugal atau Eropa timur. Ada juga yang asli Swiss, tapi sulit membedakan yang mana. Bahasa dan logat yang kami dengar sehari-hari sangatberagam.

Beradaptasi ditempat baru

Penulis: Srie Candrawati

Geneva, Agustus 2003

Semenjak kami tinggal di Geneva bulan April tahun 2003, banyak hal baru yang kami temui disini. Dari mulai yg menyenangkan hingga menyebalkan. Selain cerita tentang sulitnya berburu apartemen, hal lain selanjutnya yang sedikit merepotkan adalan instalasi telepon & kompor. Aneh bukan? apanya yang sulit tinggal colok pasti jalan, mudah saja. Tidak begitu ternyata. Kami harus membeli cukup banyak adaptor supaya alat-alat elektronik kami yang sebagian besar dibawa dari perancis bisa dipakai. Kemudian, masalah kompor. Rata-rata di apartemen orang menggunakan listrik bukan lagi gas, ada juga kompor gas namun belum tentu oleh pemilik gedung diperbolehkan. Saya juga agak khawatir jika memakai kompor gas dalam apartemen, entah mengapa saya rasa agak berbahaya apalagi jika musim dingin & umumnya jendela-jendela tertutup karena tidak ingin udara dingin masuk. Jika gasnya bocor akan berbahaya sekali. Mungkin ini hanya kekhawatiran yang tidak beralasan, tetapi biarlah kali ini kami memilih kompor listrik vitroceramic selain mudah dibersihkan juga modelnya tidak terlalu ketinggalan jaman.

Kendala berikutnya adalah masalah kabel & electrical plug nya. Dimanapun toko yang menjual kompor, mereka tidak mengikut sertakan kabel, menurut mereka ada 2 macam plug berbeda tergantung model mana yang ada digedung apartemen tempat tinggal kami, dan ini urusannya dengan electrician. Jadilah kami harus mencari electrician dulu yang akan memasang plug ditembok, lalu kami harus membeli kabel, barulah kompor bisa dipasang. Ini juga tidak selancar itu perjalanannya. Kami baru bisa mendapat kepastian dan tanggal si tukang listrik datang setelah melalui proses panjang & telepon kesana kemari. Ada yang menganjurkan menghubungi pihak SIG ( PLN nya ), ada yang menyarankan menghubungi teknisi gedung dan sebagainya.

Lalu, soal mesin cuci umum yang berada di basement, juga ada peraturannya sendiri jika ingin menggunakannya. Kunci menuju ruang cuci hanya ada satu, jadi dibutuhkan koordinasi yang baik dari para pemakai dan pemelihara gedung (consièrge). Tiap pemakai diberi jadwal mencuci seminggu sekali. Kebetulan kami dapat jadwal setiap hari selasa antara jam 12 siang hingga 17 sore. Kami akan mendapatkan kunci ruang cuci dalam kotak pos kami sebelum waktu mencuci. Setelah itu kami wajib memasukkan kunci ruang cuci kedalam kotak pos orang yang mendapat giliran mencuci setelah kami. Menggunakan mesin cuci harus pula membeli kartu mencuci seharga 14 SFr. yang bisa dipakai kira-kira 8 kali cuci. Jadi tidak menggunakan koin seperti yang biasa digunakan di mesin umum.

Lama-lama kami terbiasa juga dengan banyaknya peraturan dinegeri ini, dari soal sepele sehari-harinya hingga peraturan yang leih serius lainnya. Hal-hal yang menyenangkan sudah barang tentu seimbang pula banyaknya, seperti senangnya suami saat menemukan gulai kepala ikan di meja makan. Suatu hari saya lihat di supermarket dijual kepala ikan salmon dan “tetelan”nya, saya teringat kegemaran suami makan kepala ikan entah itu digulai atau digoreng, jika makan kepala ikan bisa sampai “bersih” hingga saya sering meledeknya kalau ia berebut makan ikan dengan kucing pastilah kucingnya menangis karena tidak kebagian apa-apa kecuali duri & tulang-tulang.

Musim panas tahun 2003 ini katanya adalah yang terpanas di Eropa sepanjang jaman. Memang betul nampaknya begitu. Siang hari bisa hingga 40°C sedangkan summer biasanya matahari terbenam sekitar pukul 10 malam, jadi malam haripun terasa amat panas, angka termometer tidak turun dari 30°C. Sudah menjadi berita sehari-hari jika terjadi kebakaran hutan baik yang terjadi di perancis atau portugal. Banyak orang-orang tua yang masuk rumah sakit karena tidak tahan panas & banyak pula yang meninggal. Kami amat bersyukur Allah memberi kami kesehatan & ketahanan fisik yang baik selama musim kering ini. Anak kamipun yang baru berusia 20 bulan syukur alhamdulillah tidak pernah sakit, hanya kali ini saat gigi taring atas & bawahnya tumbuh, jadi memang dia agak susah makan. Tetapi saya tetap memberinya asupan-asupan lain yang bergizi dan disukainya. Saya juga tidak pernah absen memberinya minum supaya ia tidak dehidrasi, juga memandikannya lebih dari 3 kali dalam sehari. Alhamdulillah sejauh ini kami bertiga baik-baik saja ditengah musim yang sedang tidak bersahabat ini. Banyak teman mengeluhkan bayinya yang jatuh sakit akibat musim panas yang sangat panas ini.

Suatu malam kami merasa bosan dan kepanasan dalam apartemen, lalu iseng-iseng kami jalan-jalan naik trem sekedar putar-putar kota, Anak kami tentu amat senang karena ia pikir kok “tumben” malam-malam begini tidak disuruh tidur malah diajak jalan-jalan.

Pindah ke Geneva

Penulis: Srie Candrawati

Genève, 11 Juli 2003

Pindah lagi? bathin saya, walaupun hal ini sudah diperkirakan jauh hari semenjak kami tiba di Annecy, tapi mengingat kami sudah 3 tahun di Annecy, sudah kerasan, sudah banyak teman dan sudah dibilang tahu seluk-beluk kehidupan disini, kok harus pindah ketempat baru (baca: negara baru) lagi. Untungnya Geneva sudah tidak begitu asing bagi kami, apalagi untuk suami yang sudah lebih dulu bekerja disana sebelum kami pindah dari Perancis.

Geneva tidak jauh dari tempat dimana kami tinggal sekarang, hanya kira-kira 45 menit perjalanan mobil kalau tidak macet atau ada halangan ditengah perjalanan. Akhir pekan kami juga sering mengunjungi kota ini. Soal bahasa, Geneva termasuk bagian dari Swiss yang berbahasa perancis, jadi kami tidak harus adaptasi bahasa lagi. Bahasa Inggris juga umum “diterima” karena Geneva pusat kantor PBB yang sudah pasti banyak diantara penduduknya yang orang asing. Tetapi, bukan berarti semua penduduk di Geneva bisa berbahasa Inggris, ini sudah dialami sepupu saya yang tinggal di Amerika. Saat berkunjung ke Geneva dan berkeliling kota naik bis, ia kesulitan saat harus bertanya dimana stasiun bis yang seharusnya dituju, karena saat itu dia sedikit “nyasar”. Ya, apa boleh buat harus berkomunikasi dengan bahasa “tarzan”.

Perpindahan kami ke Geneva ini sudah barang tentu dikarenakan pekerjaan suami. Kantor pusatnya ada di Geneva dan suami ditawari pindah kesana, bersamaan dengan dipromosikannya kejabatan yang lebih baik. Suatu hal yang baik bagi kami, tetapi kenaikan jabatan ini bukannya mulus-mulus saja.

Ceritanya, sudah lama suami saya tidak cocok bekerja dengan bosnya, sebetulnya dari awal ia ditugaskan bekerja dengan atasan yang ini ia sudah melihat gejalanya, namun atas saran dan dorongan mantan atasannya dulu ia mau juga mencoba bekerja dengan bos yang satu ini. Waktu membuktikan bahwa ketidak-cocokan yang ia rasakan sejak awal semakin lama semakin besar dan tawaran pindah ke Geneva ini dianggapnya merupakan momentum yang baik untuk melepaskan diri dari bosnya yang otoriter itu.

Singkat kata atasannya ini sakit hati dan selalu mencari gara-gara, bahkan hingga tulisan ini saya ketik “ketegangan” di kantor suami belum mereda malahan bertambah panas saja. Sudah barang tentu, sebenarnya kami mengharapkan semua menjadi lebih baik ditempat yang baru, untuk Annisa anak kami, kami sangat senang jika ia dapat bersekolah di Swiss dan untuk suami peluang akan lebih lebar jika ia bekerja di Geneva. Kalau keadaan dikantor tidak juga membaik, kemungkinan untuk mencari pekerjaan baru insya Allah lebih terbuka.

Mulai awal Januari 2003 kami sudah mulai menyiapkan kepindahan kami yang direncanakan pada akhir bulan Maret 2003. Saya sudah mulai mengetik surat-surat pemberitahuan pindah kepada instansi-instansi penting di Perancis seperti pemilik apartemen, asuransi, jawatan listrik, telepon, pajak dan lain-lain. Menurut peraturan, pemberitahuan harus dilakukan 3 bulan sebelum kami pindah. Ada satu hal yang cukup menjengkelkan saat kami mengirim surat pindah kepemilik apartemen, kebetulan pemiliknya bukan perorangan namun perusahaan properti. Sebelumnya suami sudah menelepon untuk mengabari rencana kepindahan kami, lalu saya menulis surat resminya. Seminggu kemudian datang surat pemberitahuan bahwa kami diharuskan mengirim ulang surat kami dengan pos tercatat sesuai hukum yang berlaku dan tidak dengan surat biasa seperti yang telah kami lakukan. Ada-ada saja memang. Instansi yang lain tidak ada yang rewel seperti ini. Surat sudah diterima kok masih minta lagi surat tercatat. Tapi sudahlah, kami turuti saja apa maunya asalkan kami bisa keluar akhir bulan Maret.

Bulan Pebruari kami sudah mulai gencar mencari apartemen baru di Geneva, hampir tiap akhir pekan kami berputar-putar melihat-lihat apartemen sembari mencatat nama agen yang menyewakannya beserta orang yang bertanggung jawab memelihara apartemen yang dimaksud, disini disebut service d’immeuble. Hari Senin biasanya suami langsung menghubungi, jika sedang beruntung ada apartemen yg disewakan ia langsung datang melihat kemudian menceritakannya pada saya. Beberapa aprtemen yang ditawarkan kurang berkenan dihati saya, yang jadi pertimbangan biasanya selain lokasi, kondisi gedung dan liftnya, juga masalah ruangan-ruangannya. Saya menginginkan gedung yang tidak tua, yang tidak kelihatan kumuh juga liftnya harus cukup besar karena pertimbangan kereta bayi haruslah bisa leluasa keluar-masuk. Seperti juga di Paris, gedung-gedung apartemen tua bisanya hanya disediakan lift alakadarnya, kecil dan sempit. Ini dikarenakan gedung-gedung tua yang dibangun pada abad ke 19 atau 18 pasti tidak ada liftnya, hanya ada tangga. Itu sebabnya lift yang dipasang di gedung-gedung semacam ini umumnya kecil-kecil saja.

Mendekati akhir Pebruari kami masih berharap-harap cemas untuk mendapatkan apartemen yang diidamkan. Mendekati akhir Maret kami mendapat berita baik, kami dapat apartemen. Walaupun hati kecil agak kurang ‘sreg’ tapi karena waktu sudah mepet apa boleh buat kami ambil. Keesokan harinya kami sangat terkejut dan kecewa karena tiba-tiba saja agen apartemen membatalkan janjinya, apartemen tersebut diberikan pada orang lain. Memang belum ada kontrak tertulis, namun kemarin secara lisan pihak agen sudah konfirmasi bahwa apartemen tersebut untuk kita. Setelah kami hubungi berulang kali pihak agen selalu berkelit, akhirnya manajernya mau berbicara juga. Ia mohon maaf, tetapi kami tetap kehilangan apartemen ini. Alasannya kami tidak mengambil parkir dan ini suatu keharusan. Kami menganggap alasan ini terlalu dibuat-buat, mengapa tidak diberitahukan terdahulu bahwa wajib mengambil tempat parkir? kalau memang harus akan kami ambil. Tetapi percuma saja berperang dengan agen apartemen disini, tetap saja kami yang kalah. Karena kami sudah harus keluar dari apartemen lama di Annecy dan belum mendapatkan alamat baru di Geneva, akhirnya suami minta kesediaan manajernya untuk membantu dan kami diperbolehkan menempati sementara apartemen dari kantor hingga kami mendapat apartemen sendiri.

Bulan Juni barulah kami mendapat apartemen, itupun baru bisa ditempati awal Juli, apartemen ini tadinya tidak untuk kami namun kami percaya ini semua sudah diatur oleh Allah SWT, calon penyewanya membatalkan niat menempati apartemen ini. Puji syukur kehadirat Allah SWT atas kemudahan yang diberikan oleh Nya setelah berbulan-bulan tanpa henti kami berusaha mencari apartemen. Tidak mudah mendapatkannya di Geneva, jangankan kami orang asing, warga Swiss sendiri kesulitan. Ada yang menunggu hingga setahun malahan.

Setelah direnungkan kembali memang ini yang terbaik bagi kami, apartemen ini dekat dengan tempat suami bekerja, tenang (tidak seperti apartemen yang batal itu, yang letaknya ditengah kota), transportasi umum dekat, sekolahan juga hanya diseberang gedung kami. Tidak sabar kami menunggu tanggal 1 Juli, ingin rasanya cepat-cepat menempati apartemen sendiri. Setelah waktunya tiba, tinggal siap-siap enerji untuk membereskan apartemen, membuka kardu-kardus berisi barang-barang kami yang selama ini disimpan digudang sebuah perusahaan jasa pengangkutan, apalagi dengan adanya ‘batita’ kami yang lagaknya ingin turut membantu tetapi akibatnya malah kami jadi dua kali repot ....

Jumpa artis

Penulis: Srie Candrawati

Annecy, Juli 2002

Suatu hari dimusim panas tahun 2002 kami jalan-jalan ke Geneva, Switzerland. Sebetulnya ini sudah menjadi kebiasaan jika week-end kami main kesana, karena jaraknya dengan tempat tinggal kami di Perancis tidak begitu jauh. Tiap haripun suami berangkat dan pulang kerja melewati Geneva, sehingga ia sudah hafal betul rutenya istilahnya sembari merem juga sampai.

Hari itu ia mengambil cuti seminggu. Di Perancis, seorang pegawai mendapat hak cuti tahunan selama 5 minggu. Biasanya banyak yang memilih cuti di musim panas, karena bertepatan pula dengan libur panjang sekolah di akhir masa belajar-mengajar. Seingat saya sewaktu dulu bekerja di Jakarta, hak cuti tahunan seorang pegawai paling-paling 10 hingga 12 hari, kecuali cuti hamil yang bisa sampai 3 bulan. Masa cuti hamil di Perancis biasanya 4 bulan, bisa sampai 6 bulan jika melahirkan anak kedua (mungkin pemerintah memperhitungkan betapa repotnya saat-saat kelahiran bayi baru). Malah pegawai mempunyai hak meminta cuti khusus selama beberapa tahun jika ingin mengasuh sendiri anaknya hingga ia siap kembali bekerja, cuti ini disebut congé parental, namun tentu saja cuti yang ini tidak di gaji.

Hari itu kami bertiga, saya, suami dan bayi kami yg saat itu berusia 8 bulan pergi setelah makan siang dirumah. Sebelum ke Geneva, suami mampir dulu ke kantornya untuk suatu keperluan. Setibanya di Geneva, seperti kebiasaan kami mampir ke salah satu departemen store lalu minum juice disana. Setelah itu kami berjalan-jalan seputar daerah pertokoan ditengah kota, sekadar cuci mata. Saat jalan-jalan itu, saya melihat seseorang yang wajahnya mirip sekali dengan seorang artis Indonesia, sebut saja inisialnya GS. Tapi berhubung cukup lama juga kami tidak mengikuti perkembangan dunia celebrities di tanah air dan juga tidak pernah menonton TV Indonesia, maka saya sedikit ragu-ragu apa betul ini dia. Apalagi wajahnya agak sedikit berbeda dari yang saya ingat dulu, mungkin saja bukan dia, mungkin saja orang Asia yang wajahnya mirip. Iseng-iseng saya sapa dengan bahasa perancis, takut salah orang, kan berabe juga. Eh, ternyata benar! kamipun segera bertegur sapa dengan bahasa indonesia. Ternyata ia sedang berlibur ikut suaminya yang sedang ada kerjaan di Eropa. Saya menanyakan bagaimana keadaan di tanah air? yang di jawabnya sedang “panas” berhubung banyak mantan pejabat yang diadili. Saya membathin dalam hati, jika saya bertemu artis ini di tanah air, mungkin pembicaraan tidak akan seperti ini, malah mungkin saya tidak akan menegur duluan, takut dikira sok akrab. Tetapi disini rasanya sah-sah saja melakukan hal ini tanpa menjadi perhatian orang banyak.

GS ternyata baik, suaminya juga. Mereka sama sekali tidak sombong seperti yang awalnya saya ragukan. Setelah kami berpisah, suami kemudian bertanya “teman dimana Wat?” saya memandangnya keheranan “lho, teman apa? itu kan artis Indonesia GS, masak kamu nggak tahu?”. Eh, ternyata memang suami saya tidak tahu, pernah dengar namanya saja dulu tapi tidak ingat wajahnya, jadi ya maklum saja kalau dipikirnya GS itu teman SMA saya.

Paris pas cher

Penulis: Srie Candrawati

Annecy, Juni 2002

Ini sebetulnya judul buku panduan bagi masyarakat yang tinggal di Paris atau pendatang yang baru kali pertama menginjakkan kakinya di Paris. Buku panduan ini - seperti juga judulnya, berisi alamat toko-toko, salon, restoran atau apa saja dengan harga yang tidak mahal (pas cher). Jelas sudah buku ini di tujukan bagi mereka yang kantongnya tidak terlalu “tebal” atau bagi yang ingin hidup lebih “ngirit” di Paris, karena setahu kita Paris sudah terlanjur tersohor dengan glamour-nya, dengan boutique-boutique mahalnya yang pasti juga banyak menyedot minat para jet-set dan pelancong dari berbagai penjuru dunia.

Jika sekarang saya mengingat kembali hari-hari semasa kami tinggal di Paris, rasanya tidak percaya kok kita dapat juga hidup dan enjoy tinggal di Paris yang terkenal sebagai “kota mahal” dengan pendapatan yang bisa dibilang pas-pasan. Entahlah, yang jelas kami masih sanggup menyisihkan sedikit dana untuk “entertainment” seperti nonton film di bioskop atau makan di restoran. Kami sedikit-sedikit bisa menabung dan sekali waktu kami bisa jalan-jalan liburan seputar Eropa. Mungkin ini akibat getolnya kami mencari tempat-tempat yang harganya sedikit “miring”. Apakah dana ekstra ini akibat buku panduan tadi? tidak juga. Beli buku itu saja tidak, cuma pernah sekilas melihat buku milik teman. Kini saya berpikir, mengapa saya tidak memiliki buku itu saja, daripada harus bersusah payah membanding-bandingkan harga barang-barang dengan “toko sebelah”. Tetapi ya begitulah, mungkin karena memang saya hobi window shopping dan suka membanding-bandingkan harga dahulu sebelum membeli segala sesuatu. Untuk berbelanja makanan, sudah barang tentu tujuan saya ke “china town” di Paris XIII selain harganya murah juga tersedia berbagai sayur-mayur, bumbu dapur, buah-buahan asal asia yang umumnya kita dapatkan juga di tanah air dan tidak selalu ada di supermarket atau pasar biasa disini. Makanan dan restoran juga tidak mahal disana.

Untuk urusan sandang atau pakaian ada beberapa tempat yang murah-meriah salah satunya di daerah Passy, tempatnya dekat tempat tinggal kami hanya sekali stop stasiun métro. Passy sebenarnya daerah cukup elit, namun saya berhasil menemukan beberapa toko dengan harga miring. Toko yang menjual barang-barang dengan harga banting di antaranya adalah eurodif dan Tati (yang terakhir ini kualitasnya lebih masal dan kurang bagus) atau selain kedua tadi ada pula H&M, C&A yang modelnya trendi dan harganya tidak mahal. Tetapi kalau urusan pakaian, untungnya kami berdua tidak terlalu “gila merk” asal bagus kualitasnya dan pantas, serasi di kenakan sudahlah cukup. Jadi tidak masalah jika berasal dari toko-toko yang saya sebutkan tadi, yang penting bagaimana kita memilih, menyesuaikan dan percaya diri saja. Alhasil, orang sering tidak percaya jika kami katakan berapa harga sweater yang kami kenakan. Untuk pakaian anak-anak beberapa toko di antaranya ialah H&M, C&A, tout compte fait, orchestra dan du parail au même yang harganya tidak begitu mahal. Seperti biasa, jika benar-benar menginginkan suatu barang yang agak mahal, kami biasanya menunggu saat sale, di sini sale besar-besaran biasanya dua kali dalam setahun yaitu winter sale (soldes d’hiver) dan summer sale (soldes d’été) . Harga barang-barang tersebut benar-benar turun, di potong dengan sangat fantastik, tidak heran jika sale itu di tunggu semua orang, bahkan banyak yang rela antri sebelum tokonya di buka.

Ada pula daerah yang terkenal dengan harga barang-barang yang murah, juga tersedia bagian yang menjual barang-barang loak, mungkin seperti pasar uler kalau di Jakarta, nama daerahnya porte de clinagncourt. Namun, selama tinggal di Paris, hanya sekali kami ke sana, sekadar penasaran ingin tahu, karena dengar-dengar daerahnya kurang aman. Toko-toko di daerah gare du nord juga katanya murah-murah, daerah tersebut di kenal juga sebagai pemukiman pendatang asal india, pakistan. Banyak toko-toko bahan, juga kedai-kedai atau mini market yang menjual bahan-bahan makanan serta rempah-rempah asal asia.Tempat lain lagi yang menjanjikan barang-barang bermerk dengan harga banting biasanya disebut magasin d’usine atau barang-barang sisa pabrik, kalau di tanah air mungkin biasanya disebut toko “sisa ekspor”. Begitulah kira-kira beberapa tempat-tempat murah yang kami temukan di Paris, rasanya tidak jauh berbeda dengan isi buku Paris pas cher yang saya sebut tadi.

Tetangga kami

Penulis: Srie Candrawati

Annecy, April 2001

Sejak kami tinggal di Annecy ini, kami sempat mengenal beberapa tetangga yang kebetulan tinggal di satu gedung apartemen dengan kami. Salah satunya ada pasangan dari Inggris, Christine & Tony. Pasangan ini usianya jauh lebih tua dari kami, namun mereka sangat baik dan kami saling menghormati satu sama lain. Sayangnya kami tidak berapa lama bertetangga, mereka kemudian harus kembali ke Inggris karena pekerjaan Tony sudah selesai di Annecy. Tony di percaya oleh perusahaannya di Inggris untuk menyiapkan kantor cabang di Perancis dan membereskan masalah-masalah yang berkaitan dengan hukum ketenaga-kerjaan di sini. Setelah tugasnya selesai, ia harus kembali ke negaranya. Tidak lama setelah Christine & Tony pergi, kebetulan saya bertemu dengan seorang tetangga yang tinggal satu lantai dengan kami, saat bertemu pertama kali kebetulan kok sama-sama sedang hamil, sehingga tiap kali bertemu saling menanyakan perkembangan kehamilan masing-masing yang kebetulan pula hanya berbeda satu bulan. Armide - begitu nama tetangga kami ini, tidak lama kemudian melahirkan bayi laki-laki bernama Antoine, sedang saya kemudian melahirkan bayi perempuan.

Armide dan suaminya ternyata pernah pula berkunjung ke Indonesia, tepatnya ke Jawa dan Bali, ia menyukai nasi goreng. Ia pernah menanyakan apakah saya menyukai Annecy dan betah tinggal di sini? bagi saya terus terang saja Annecy terlalu kecil, walaupun saya akui saya sangat menyukainya. Annecy sangat tenang, indah pemandangannya, bersih udaranya. Akan tetapi bagaimanapun juga saya dan suami memang sejak dulu terbiasa hidup di kota besar, sehingga tinggal di sini rasanya seperti berlibur panjang saja. Mungkin kota ini lebih cocok bagi para pensiunan.

Sebenarnya kota ini sangat dekat dengan Geneva, Swiss, jadi tidak begitu masalah bagi kami tinggal di sini, toh hanya satu jam perjalanan sudah sampai di Geneva. Kemudian ada lagi seorang tetangga yang setelah mengetahui bayi kami lahir, langsung menawarkan jasanya sebagai apoteker, katanya jika kami butuh sesuatu ia ada di lantai 6. Lalu ada seorang ibu tengah baya yang hanya tinggal dengan anjing kecilnya. Mulanya saya pikir ibu ini arogan, sehingga saya hanya menyapa sebatas “bonjour” dan “au revoir” saja. Eh, ternyata ibu ini sangat baik dan perhatian sekali setelah tahu saya hamil dan kemudian melahirkan Annisa, anak kami. Dia tanya apakah Annisa tidak rewel? wah, namanya juga bayi pasti ada saat-saatnya dia rewel. Saya juga bertemu seorang wanita perancis yang baik saat mengikuti kursus kehamilan di klinik, namanya Isabelle. Setiap kali bertemu ia mengajak saya mampir ke rumahnya. Ia bersama suaminya menyempatkan menjenguk saya saat kami sama-sama berada di klinik bersalin, bayi saya lahir hanya berbeda sehari dengan bayinya yang di beri nama India.

Tetapi ada juga seorang tetangga kami yang sangat menyebalkan, tiap bertemu di lift ada saja kata-katanya yang tidak enak di dengar, kadang saya pikir mungkin bapak yang satu ini memang “bermasalah”. Pernah suatu hari saya satu lift hanya berdua dengannya, tiba-tiba ia berkata “vous n’êtes pas peur toute seule comme ça dans l’assenseur avec un homme?” yang kira-kira artinya “apakah kamu tidak takut sendirian dalam lift bersama seorang pria?” wah, gawat nih saya pikir dia mau macam-macam. Saya berusaha tetap tenang dan tidak terpancing, saya jawab saja kenapa takut?, kamu kan tetangga di sini, kalau terjadi sesuatu saya bisa lapor polisi. Eh, bukannya berhenti dia malah menambahkan “mais, attention! le plus vieux le plus malade” yang maksudnya “hati-hati, makin tua orang makin sakit” dengan kata lain makin tua makin menggila....

Lain waktu saya bersama suami bertemu dalam satu lift dengannya lagi, seperti biasa ada saja kata-kata “aneh” yang ia lontarkan pada kami. Dia bertanya pada suami saya “est-ce qu’elle est gentile avec vous?” dia menanyakan apakah saya, istrinya berkelakuan baik pada suami saya?. Suami saya nampak terkejut dengan pertanyaan seperti itu dan ia menjawab keras “tentu saja!”. Namun yang sangat menyinggung perasaan kami adalah waktu suatu hari saya dan Annisa turun ke bawah untuk mengambil surat-surat di kotak pos, saat naik kembali di dalam lift ada beberapa orang, yang tentu saja salah satunya bapak gila ini. Tiba-tiba ia berkata pada semua orang “regard qu’est-qu’on produit en France” ia membicarakan bayi saya, dengan kata lain ia berkata lihat apa yang kita buat di Perancis. Mengapa saya tersinggung? bukan lain karena saya akhirnya berkesimpulan bahwa dia nampaknya tidak menyukai kami yang orang asing, bukan kulit putih pula, tinggal di Perancis. Apalagi saat itu sedang hangat-hangatnya pemilu yang calon kuat selain Jacques Chirac adalah Jean-Marie Le Pen, yang nota bene pendiri sekaligus pemimpin partai ekstrim kanan yang sangat menentang adanya imigran di Perancis. Kenyataan bahwa banyaknya warga Perancis yang memilihnya menandakan adanya rasa kebencian yang terpendam selama ini. Termasuk juga mungkin bapak tua tetangga kami ini. Saya sangat tersinggung, di tambah lagi ia mengatakan hal tersebut di depan semua orang dalam lift, dan saya yang sedang menggendong Annisa tidak dapat membalas sepatah katapun karena selain shock juga mulut rasanya terkunci karena amarah yang tertahan. Tempat saya mengadu hanya pada suami, saya ceritakan semuanya.

Hari itu saya sedikit beruntung kebetulan ada teman yang mampir ke apartemen kami dan saya dapat sedikit lega setelah menceritakan kejadian yang baru saya alami tadi, ia pun mengalami banyak hal yang jika di kategorikan termasuk tindakan rasial, teman saya ini berasal dari Zimbabwe, dia berkata bahwa apa yang dia alami lebih parah lagi sebagai bangsa kulit hitam.Begitulah, walaupun sakit hati namun saya selalu menjaga agar jangan sampai bermasalah dengan tetangga. Jika sebatas serangan secara verbal seperti yang kami alami semoga kami masih dapat tahan dan tidak terpancing, namun jika hal tersebut berlanjut saya tidak akan segan melaporkan hal ini pada yang berwajib atau di sini ada pula tempat pengaduan yang di sebut S.O.S racisme.

Kami sadar sebenarnya dimanapun kita tinggal, baik di negara sendiri atau di negara orang, kita tentu menemui sebagian orang-orang yang baik, ramah, sopan dan mau menolong sesamanya, begitu pula kelompok yang bersikap sebaliknya. Walau begitu, tak dapat di pungkiri kalau sempat beberapa kali kami alami ketidak setaraan perlakuan yang kami terima, seperti misalnya beberapa kejadian yang di alami suami. Ia pernah beberapa kali mengeluhkan kejadian yang menimpanya. Seperti contohnya, ada beberapa petugas perbatasan yang disebut douane atau bea cukai, yang seringkali bersikap tidak simpatik terhadap kami, khususnya warga asing non-kulit putih. Setiap harinya, suami pergi dan pulang kantor melewati perbatasan Swiss-Perancis, karena dengan melewati Geneva rute yang ditempuhnya lebih singkat. Dengan bea cukai di bagian Swiss justru tidak pernah ada masalah, sebaliknya dibagian Perancislah kami sering “di periksa”, padahal jelas-jelas kami bermukim di Perancis. Jelas terlihat dari plat mobil kami, kami tinggal di kota mana. Suami pun setiap hari melewati posko bea cukai ini pergi dan pulang dari kantornya.Kami pernah bepergian dengan dua rekan dari Singapore, pengalaman ini sangat berkesan pada kami berempat, karena kami di periksa sepertinya kami ini imigran gelap saja. Saya dan suami tidak terlalu kaget menghadapi hal ini, ya sudah ikuti saja apa maunya, toh kami tidak bersalah dan tidak menyembunyikan apapun yang ilegal. Nah, dua rekan Singapore tadi yang sewot luar biasa. Kami maklum, karena sebelumnya kami sudah paham betul bahwa warga Singapore jarang mendapat perlakuan seperti itu. Soal visa misalnya, lain hukum yang berlaku bagi kami sebagai WNI dan mereka yang WNS (Warga Negara Singapore). Untuk ke Inggris atau Amerika, misalnya mereka tidak perlu repot-repot mengurus visa untuk kunjungan biasa. Singkatnya, sebagai orang Singapore, mereka lebih “dipercaya” di mata internasional. Mungkin ini salah satu keuntungan masyarakat yang berasal dari negara makmur. Belum lagi, kami ini sering mendengar kata-kata yang menyinggung perasaan, entahlah, mungkin kami terlalu perasa jadi semuanya dimasukkan betul ke hati.

Suami pernah setengah mengadu, katanya “saya tidak apa-apa jika orang berkata kasar atau membentak, saya hanya tidak tahan pada kata-kata yang “tajam”, apalagi kata-kata itu keluar dari mulut seorang laki-laki. Lebih baik dia membentak dari pada menyindir tajam seperti itu”.Lagi-lagi kami hanya dapat menerima dan mencoba memahami, mungkin cara orang lain-lain dan mungkin kata-kata tersebut lazim di ucapkan, hanya kami saja yang tidak biasa dengan caranya. Contohnya, saat suami mengikuti tes mengemudi, berhubung saat itu bahasa perancisnya masih sangat minim dan menyedihkan, ia diam saja saat ditanya instrukturnya. Dengan kesal si instruktur berkata “vous n’avez pas de langue?” atau maksudnya: kamu punya lidah atau tidak?.

Lain kali, giliran saya yang merasa tersinggung saat ada seseorang tiba-tiba bertanya, dari mana asal saya, saya jawab dari Indonesia. Pertanyaan berikutnya seperti sudah hafal diluar kepala karena pertanyaan tersebut selalu terlontar, “apa yang kamu lakukan di perancis, belajar?, bekerja atau apa?” dan jawaban saya selalu “oh, tidak, saya ikut suami saya kemari, ia bekerja disini” kemudian sambungnya “suami kamu orang perancis ya?” saya jawab “tidak, orang Indonesia juga”. Ada yang stop bertanya hingga di situ, ada pula yang melanjutkan dengan pertanyaan “vous avez les papiers sûr vous?” yang maksudnya apakah saya memiliki surat-surat resmi untuk tinggal disini. Apakah mereka pikir kami ini pendatang gelap?. Oh, beginilah anggapan orang terhadap warga Indonesia, biasanya mereka melanjutkan obrolan dengan menanyakan keadaan Indonesia yang setahunya sedang kurang menguntungkan berdasarkan berita-berita yang didengarnya. Dan, saya biasanya hanya berkata “sekarang keadaan sudah lebih baik” dan langsung ngeloyor pergi saja.

Memang, kejadian seperti itu tidak terjadi setiap hari dan tidak seluruh masyarakat disini berburuk sangka terhadap kami. Hanya, kami jadi lebih berjaga-jaga dalam menghadapi situasi seperti ini, bukan apa... karena tidak ingin sakit hati saja.Ternyata, hal-hal diatas bukan hanya kami yang mengalami. Setelah kami menetap di Annecy, banyak rekan-rekan satu tempat kursus bahasa, yang pastinya juga orang asing seperti kami mengeluhkan hal yang sama.Seperti seorang rekan dari Meksiko yang mengeluh salah satu tetangganya selalu mencari masalah dengannya hanya karena ia étranger atau orang asing. Belum lagi, seorang rekan asal Ukrania yang mendengar pernyataan sangat menyakitkan dari seorang petugas kependudukan bahwa menurutnya banyak wanita dari Ukrania yang berprofesi pelacur di Perancis dan si petugas berharap ia tidak melakukan hal yang sama. Hebatnya, hal tersebut diucapkan didepan suami rekan saya tadi.

Sulit dimengerti, mengapa kadang tidak ada rasa saling menghormati dan toleransi dari beberapa masyarakat di negara yang katanya menjunjung tinggi kesamaan hak asasi manusia ini. Namun, inilah kenyataan yang kami perhatikan, dan kadang kami masih merasa bersyukur bahwa perlakuan terhadap kami tidaklah seburuk yang dialami rekan-rekan tadi.

Pengalaman menjadi orangtua baru

Penulis: Srie Candrawati

Annecy, Maret 2002

Sejak bayi kami lahir bulan november 2001, banyak hal yang telah kami lalui sebagai orangtua baru. Pengalaman ini sangat berharga bagi kami & kami merasa bahagia dapat melaluinya dengan baik walaupun bisa dikatakan tanpa bantuan siapa-siapa seperti jika berada di tanah air. Beberapa kenalan yang kebetulan melahirkan jauh dari tanah air biasanya mendatangkan “bala bantuan” entah itu ibunya atau saudara-saudaranya. Malahan tidak jarang seorang ibu yang melahirkan ditanah air begitu waktunya kembali keluar negeri mengikut sertakan ibunya pula.

Memang, memiliki bayi sedikit merepotkan, apalagi bagi yang baru pertama kali. Saya melahirkan di clinique générale d’Annecy dikota dimana kami tinggal. Ketika masih berada di klinik, para staf baik bidan, suster dan dokter sedikit banyak membekali kami dengan cara-cara merawat bayi. Mulai dengan cara memandikan, menyusui, mengganti popok dan lain sebagainya.Soal menangis?, nah ini yang harus kami temukan sendiri jawabannya. Memang saya akui bahwa seminggu pertama berada di klinik saya nyaris putus asa dan stress menghadapi makhluk mungil kami. Namun berkat kesabaran dan kesungguhan semua pihak, baik dari kami ibu-bapak si bayi juga para staf di klinik, semua nyaris dapat teratasi.

Saya ingat betul hari-hari itu, dimana saya masih kelelelahan sehabis melahirkan dan baru tahu bagaimana mekanisme keluarnya ASI apalagi buat ibu yang baru pertama ini menyusui bayinya. Benar-benar butuh kesabaran, keteguhan hati dan keuletan bagi yang baru pertama kali menyusui bayi. Suster mengatakan berulang-ulang bahwa tiga hari pertama si ibu baru memproduksi kolostrum, yaitu cairan bening yang berisi zat-zat antibodi bagi bayi, ini penting sekali didapat oleh bayi untuk memperkuat daya tahan tubuhnya. Baru setelah itu air susu ibu akan keluar, itupun dengan bantuan bayi, makin sering bayi menyusu, payudara ibu akan terstimulasi untuk memproduksi dan mengeluarkan ASI bagi si bayi. Jadi kedua belah pihak, baik ibu maupun bayinya harus saling kerjasama.

Saya nyaris berkecil-hati karena saya berpikir bayi saya menangis karena lapar, berat badannya tiga hari pertama itu turun. Semua suster berkata hal itu wajar, semua bayi akan turun beratnya dihari-hari pertamanya, karena banyak cairan yang terbuang, ia juga mengatakan bahwa akan saya temukan kotoran pertamanya yg berwarna kehitaman, itu semua normal, memang begitulah mekanismenya.Tetapi, pada hari keempat saya tidak kuasa menahan rasa sedih dan bingung, saya nyaris putus asa karena bayi kami tiap jam menangis, seolah tiada lagi waktu bagi saya beristirahat.

Kesabaran kami benar-benar di uji olehnya. Hari itu saya sempat menangis sendiri, saat saya menangis itu bertepatan dengan kunjungan keliling dokter. Dokter menanyakan apa yang menyebabkan saya menangis? saya hanya menjawab bahwa berat bayi saya turun, sedangkan saya tidak tahu harus berbuat apa selain menyusuinya. Dokter itu berkata bahwa semua butuh waktu, nanti juga ibu akan memproduksi ASI yang cukup. Namun nampaknya dokter tersebut diam-diam menyarankan agar suster memberi saya pil anti-depresan. Saya heran hari itu banyak suster menjenguk dan mengajak saya ngobrol sembari mengatakan kalau wajar jika ibu sedikit depresi, itu dikenal dengan baby-blues kata mereka.

Saya sudah mengetahui dan mengantisipasi masalah baby-blues ini, karena banyak saya baca di artikel-artikel di majalah. Akan tetapi saat hal itu menghinggapi saya, saya tidak kuasa menahannya. Sebenarnya yang mengakibatkan saya menangis hari itu, setelah saya kaji kembali kini, adalah akibat perasaan sepi dan keseorang-dirian bersama bayi yang baru lahir, tanpa ada petunjuk, bantuan serta uluran tangan seperti yang didapat teman-teman saya umumnya ditanah-air.

Rasa lelah setelah melahirkan di tambah tidak sempat beristirahat, menimbulkan perasaan menjadi sangat rapuh. Dukungan moril hanya saya dapatkan dari suami yang menunggui saya setiap malam sepulangnya dari kantor. Perjuangan suami saya akui sangat besar, saya tahu kalau dia lebih merasakan stress dan lelah dari pada saya. Paginya ia ke kantor, bekerja seharian, sepulangnya langsung menuju klinik dan menginap bersama saya dan bayi kami yang menangis tak kenal waktu. Saat itu bertepatan pula dengan bulan ramadhan, sehingga sahurnya dilakukan di klinik.

Sekembalinya dari klinik rasanya kami lebih tenang berada di apartemen kami lagi. Kami bebas menentukan jadwal bagi bayi kami, sayapun lebih bebas menyusui dimana dan kapan saja. Beruntungnya kami di perancis ini, suami di perbolehkan mengambil cuti sebulan! hal ini sangatlah membantu saya, dimana bulan pertama adalah masa-masa penyesuaian bagi kami dan si bayi, masa-masa yang paling berat menurut kami. Hal lain yang menguntungkan adalah kami tidak perlu mengeluarkan biaya apapun jika ingin menimbang dan memeriksakan bayi ke dokter di PMI (Protection Maternelle et Infantile) - yaitu pelayanan kesehatan bagi anak usia 0 hingga 6 tahun, bahkan saat minggu pertama sepulangnya dari klinik, bidan dari PMI datang menjenguk bayi kami dirumah, menimbangnya dan memberikan nasehat-nasehat berharga bagi kami orangtuanya. Salah satu nasehatnya agar kami tidak menyalakan pemanas ruangan berlebihan, maklum saat itu musim dingin dan kami terlalu takut bayi kami kedinginan.

Kini, jika kami mengenang kembali masa-masa tersebut, kami dapat tersenyum dan bersyukur hingga kini bayi kami sehat, cerdik dan aktif. Sayapun tidak lagi merasa iri dengan teman-teman lain yang dikelilingi keluarganya saat baru melahirkan bayi, bahkan merasa puas dengan apa yang berhasil kami lakukan sendiri. Saya tidak perlu kebingungan dengan macam-macam nasehat dari sana-sini yang belum tentu sesuai dengan kemauan kita, kebiasaan-kebiasaan orangtua kita umumnya yang kadang malah membebani pikiran dan tenaga kami sebagai orangtua baru, seperti misalnya kebiasaan menggendong dan menina bobokkan hingga bayi tidur dan lain sebagainya. Disini kami merasa tenang dan bebas menentukan yang terbaik bagi kami dan tentu saja bagi bayi kami tercinta. Disini kami mengambil hal-hal baik yang dapat kami terapkan, misalnya sejak usia 3 bulan bayi kami tidak lagi tidur bersama kami dan sejak usia 6 bulan kami pisah kamar dengan bayi kami. Hal ini ternyata banyak sekali manfaatnya baik bagi kami maupun bagi bayinya.

Jalan-jalan seputar Eropa

Penulis: Srie Candrawati

Annecy, Agustus 2001


Selagi kami tinggal di Perancis, tidak ada salahnya jika kami menyempatkan diri mengunjungi negara-negara Eropa lainnya jika ada waktu dan dananya. Istilahnya mumpung. Apalagi adanya perjanjian bebas visa dari beberapa negara-negara anggota uni eropa.Di Jerman, kebetulan ada teman SMA yang sudah bermukim lama di sana, semenjak lulus SMA hingga kini ia menetap disana. Kami sempat mengunjunginya pada tahun 1999, ia sudah menikah dan memiliki seorang putra, kami sempat menginap tiga malam di apartemennya. Kemudian tahun 2000 kakak perempuan saya pindah ke Jerman pula, sehingga kami berkesempatan mengujungi kakak dan suaminya di Bremen pada musim panas 2001. Berkunjung ke kota-kota lain di Eropa ini selain menambah wawasan juga kita dapat amati perbedaan kultur dan kebiasaan masyarakatnya. Biasanya, kami berpergian menggunakan jasa kereta api. Walaupun agak lebih lama di bandingkan jika naik pesawat, namun lebih ekonomis. Apalagi jika menggunakan tiket Eurorail, satu tiket untuk kemana-mana.Saat mengunjungi kakak, kami berkesempatan singgah ke Belanda, tepatnya ke Amsterdam. Kata orang, kebanyakan warga Indonesia ingin ke sana, karena di sana memang di temukan banyak hal yang mengingatkan kita pada tanah air. Selain banyaknya restoran Indonesia, baik yang di miliki orang Indonesia, ataupun yang hanya “meminjam” nama Indonesia, juga mudah di temukan produk buatan Indonesia. Produk makanan seperti tempe, bumbu-bumbu, kecap dan mie instan buatan Indonesia selalu tersedia di supermarket cina di Nieuw Markt. Kota Amsterdam ramai sekali penuh sesak dengan manusia bermacam bangsa. Soal lalu lintas, seperti kota besar pada umumnya, agak semrawut, kami perhatikan banyak pengendara yang seenaknya berbalik arah, atau melanggar rambu lalu lintas. Soal rawan, sama juga, hati-hati banyak copet dan penipu. Bahkan baru saja sampai di stasiun kereta api, kami sudah di “pepet” tukang minta-minta yang minta uangnya agak memaksa, sudah di katakan kami tidak ada gulden kami cuma ada franc atau deutch mark tetap saja memaksa. Saat itu kebetulan mata uang euro belum lagi berlaku.Lain hal saat kami di Jerman, rasanya masyarakat di sana lebih disiplin dan serba teratur. Masalah persampahan saja, sudah di atur sedemikian rupa, hingga seluruh warga terbiasa memisah-misahkan sampah rumah-tangganya. Ada bagian khusus sampah organik, sampah kertas, plastik, alumunium ataupun botol. Untuk botol terbuat dari kaca pun di pisahkan yang berwarna dan yang tidak.Di Perancis pun hal ini sudah mulai di jalankan, hanya saja tidak sebegitu banyak aturannya, sampah botol kaca dan koran atau majalah bekas misalnya, di sediakan tempat tersendiri di pinggir jalan. Juga ada tempat khusus menampung pakaian bekas dan baterai bekas di sekitar supermarket.Saya sempat berpikir, jika masyarakat sudah pandai memilah-milah sampahnya, apa masih ada profesi pemulung di Eropa ini?, rasanya tidak. Tukang sampah di sini tinggal mengangkut isi kotak-kotak sampah yang berjejer sepanjang jalan dan perumahan. Dengan menggunakan truk sampah setiap paginya, para pekerja ini hanya menaikkan bak-bak sampah secara otomatis sampah di tuang dalam truk. Yang saya perhatikan juga, banyak pekerja kasar di negara ini berasal dari negara-negara Eropa timur, Arab atau Afrika. Dengan kata lain buruh kasar rata-rata adalah pendatang.Saya teringat suatu ketika suami pernah bercerita pengalamannya sewaktu di pesawat duduk bersebelahan dengan orang Indonesia juga namun kebetulan mereka berbeda tujuan. Mereka sepesawat sejak dari Jakarta. Bapak itu sempat menanyakan tujuan suami ke Perancis, dan di jawab untuk bekerja, bapak itu santai saja bertanya “oh, kerja di restoran ya?” suami hanya tersenyum kecut.Saat itu, mungkin banyak orang belum paham mengenai profesi di bidang komputer, banyak orang bahkan saudara dekat yang masih awam tentang pekerjaan ini. Anggapannya ilmu komputer itu gampang saja, kursus tiga bulan juga bisa pakai komputer. Benar, jika hanya ingin jadi juru ketik komputer, namun yang selama kuliah kami pelajari kan jelas bukan mengetik tetapi teknologi informasinya, pemrograman dan lain-lain. Agaknya bapak tadi termasuk satu di antara masyarakat yang kurang paham dengan profesi yang masih dianggap “baru” ini.Suatu saat ada seorang ibu yang bertemu suami saya bertanya “anda bekerja di sini?, di Embassy ya?” mungkin pikir ibu itu, suami saya termasuk salah satu kader dari Deplu yang sedang tugas di Perancis. Mungkin, dulu umumnya anak muda Indonesia yang berada di luar negeri dan bekerja biasanya pelajar, mahasiswa yang di kirim tugas belajar, pegawai dari salah satu departemen pemerintah atau sekalian perantau, yang mana biasanya mungkin bekerja di restoran seperti yang di utarakan bapak tadi.

Menanti kehadiran si buah hati

Penulis: Srie Candrawati

Annecy, 25 November 2001

Di bulan Maret 2001 dokter mengkonfirmasikan bahwa saya telah hamil sekitar 7 minggu, berita baik ini jelas sangat kami harapkan mengingat keguguran yang baru saja saya alami akhir Desember yang lalu. Kabar gembira ini langsung kami siarkan ke keluarga dekat, terutama ibu saya yang sangat mengkhawatirkan keadaan kami. Ibu tentu saja gembira mendapat kabar ini dan berpesan agar kali ini saya benar-benar menjaga kesehatan dan janin yang ada di kandungan. Saat itu, ibu masih dalam pemulihan kesehatan setelah menjalani perawatan dan kemoterapi di RS. Saya mulai rajin membaca dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber mengenai tahap-tahap kehamilan dan perubahan apa saja yang kelak saya alami. Saya juga rajin berkonsultasi ke dokter kandungan sebulan sekali, sesuai ketentuan yang berlaku di sini. Tepat sebelum bulan ke empat, dokter memberi saya formulir yang menerangkan bahwa saya hamil dan berhak mengajukan permohonan tunjangan dari pemerintah Perancis. Formulir tersebut harus saya kirimkan ke CAF ( Caisse Allocation Familiale ) setempat. Bulan kelima kehamilan, saya mulai mendapat tunjangan untuk bayi yang disebut Allocation pour jeune enfant ( alokasi dana untuk anak ) yang akan saya terima setiap bulan hingga anak berusia 3 tahun. Jumlahnya, lumayan juga untuk membantu kami mempersiapkan segala sesuatu bagi si kecil.Apa yang saya rasakan saat hamil kali ini jauh berbeda dengan sebelumnya. Pada kehamilan yang lalu saya tidak terlalu perduli akan kondisi tubuh, apalagi saat itu saya sedang berkunjung ke tanah air. Saat itu saya tetap kesana-kemari dengan kendaraan umum di cuaca Jakarta yang panas dan pengap, saya juga makan dan minum apa saja yang di perbolehkan tanpa memperdulikan pengaruhnya bagi janin yang saya kandung, yang pedas-pedas, asam dan sebagainya. Hasilnya, saat berada di tanah air saya terserang diare, hingga saya perlu konsultasi ke dokter. Dokter menganjurkan agar menghentikan dulu konsumsi makanan pedas dan asam. Memang saya agak kelewatan saat berada di Indonesia, itu saya akui, karena saya rindu sekali masakan Indonesia, hampir semua jajanan favorit saya makan, gado-gado, siomay, empek-empek, ketoprak dan tentunya nasi padang yang pedas itu!. Minumnya, tiada lain yang amat saya sukai yaitu: teh botol.Saya beruntung setiap kali hamil tidak pernah merasakan mual atau morning sick seperti umumnya ibu hamil, hingga mungkin ini yang mengakibatkan saya kurang waspada akan bahaya suatu makanan/minuman tertentu.Saat saya hamil dan berada di Perancis lagi, saya tidak akan temui jajanan kesukaan seperti yang saya sebut tadi. Semua makanan yang masuk sebagian besar hasil olahan sendiri, yang tentunya lebih terjaga kebersihannya. Saya juga mendapat masukan bahwa kafein tidak baik bagi perkembangan janin, saya pun membatasi minum teh/kopi atau minuman ringan yang mengandung kafein. Saya juga minta tolong agar suami menghindari merokok dekat saya, kalau bisa merokok di balkon apartemen saja. Untungnya ia mau menuruti, walaupun cuaca dingin ia merokok diluar, tentunya dengan melengkapi diri dengan jaket yang tebal. Pikir saya, demi merokok dia kok mau-maunya bersusah payah dan kedinginan, biar saja.Saya tetap aktif bergerak dan hingga kehamilan lima bulan saya masih naik sepeda kemana-mana. Dokter tidak melarang, malah menganjurkan agar rajin bergerak. Jalan kaki juga saya lakukan hampir setiap hari. Mungkin karena cuaca pegunungan yang bersih dan sejuk dimana kami tinggal, saya tidak merasa pengap dan tubuh saya rasanya malah tambah segar, selain pikiran pun jauh lebih tenang.Namun, saat saya hamil tiga bulan, ibu meninggal dunia. Perasaan saya sebenarnya betul-betul sedih dan menyesal, ibu tidak sempat melihat cucu pertama yang ia nanti-nantikan. Kali ini saya pun tidak dapat pulang ke tanah air karena takut terulang lagi keguguran yang pernah saya alami saat bapak meninggal dulu.Kali ini saya harus bisa mengusir kesedihan dan kegalauan dalam hati, demi kesehatan janin yang sedang saya kandung. Perasaan saya sebenarnya ingin sekali menghadiri pemakaman ibu, melihat wajah ibu untuk terakhir kalinya, mengucap do’a dan salam perpisahan di depan jasadnya, namun semua hanya saya tahan dan pendam dalam hati. Saya selalu mendo’akan bapak dan ibu walau jarak kami berjauhan dan kini saya tetap akan mendo’akan agar bapak dan ibu diberi tempat yang terbaik di sisi Nya serta di mudahkan jalannya, amien.Suami menanyakan apakah saya ingin pulang ke Indonesia?, saya tahu ia sungguh-sungguh berusaha membesarkan hati saya, namun tawarannya dengan berat hati harus saya tolak, karena saya harus dapat menentukan mana yang terbaik.Mulai bulan ketujuh, kami mulai mempersiapkan peralatan untuk si kecil. Dari hasil USG kami telah mengetahui jenis kelamin bayi kami perempuan, sehingga lebih mudah bagi kami untuk memutuskan apa saja yang perlu disiapkan.Mulai bulan ini juga saya mengikuti kursus kehamilan di klinik tempat di mana saya merencanakan untuk melahirkan nanti. Dalam kelas prenatal ini ada 6 orang ibu hamil, termasuk saya. Saya jelas satu-satunya wanita asing di sana, namun ini tidak menjadi masalah, karena seluruh staf klinik dan sesama ibu hamil saling mendukung satu sama lain. Kami juga bertukar informasi mengenai proses kelahiran, menyusui dll, kebetulan ada beberapa ibu yang akan melahirkan anak ke-sekiannya, jadi kami mendapat masukan juga darinya. Kami pun beruntung mendapat beberapa peralatan dan baju-baju bayi dari teman-teman di sini, bahkan seorang sahabat dari tanah air mengirim buku pedoman kehamilan dan cara merawat bayi.Pada bulan ke sembilan perasaan saya mulai gundah, jadwal saya bertemu dokter kandungan untuk pemeriksaan bulan ke-9 jatuh pada tgl 1 Desember 2001, namun entah mengapa saya ingin merubah janji dengan dokter, kalau bisa dapat di periksa lebih awal. Saya mendapatkan janji untuk periksa hari kamis tanggal 22 November siang. Hari itu, seperti biasa suami mengambil ijin dari kantor untuk mengantar saya ke dokter kandungan, saat di periksa dokter berkata bahwa saya sudah mengalami kontraksi dan jalan lahir sudah terbuka 2 cm. Alangkah kagetnya saya dan tentu juga suami, sama sekali kami tidak menyangka akan mendengar hal ini dari dokter, karena menurut perkiraan bayi kami lahir sekitar 6 Desember. Saya masih menolak saat dokter berkata kami sebaiknya bersiap-siap dan datang ke klinik nanti malam, hingga dokter berkata seraya meyakinkan kami bahwa jika saya melahirkan di bulan Desember, ia akan berganti profesi!. Kami pulang dan sesuai saran dokter saya menyiapkan segala sesuatunya sedangkan suami kembali ke kantor dengan perasaan gundah.Malamnya kami sempat makan malam dahulu baru pergi ke klinik, saat di periksa bidan menyatakan belum saatnya, tidak ada kontraksi. Kami benar-benar bingung di buatnya, dokter datang menjenguk dan menyatakan kami boleh pulang. Entah mengapa lega sekali rasanya di perbolehkan pulang. Keesokan harinya, hari jum’at saya masih pergi ke tempat kursus bahasa perancis, sabtunya kami masih jalan-jalan ke week-end market sembari mencari selimut untuk bayi. Selimut bayi yg kami inginkan tidak kami dapat, saat jalan rasanya saya capai sekali. Kami sempat bertemu teman yg lalu menjanjikan akan ikut mencarikan selimut yang kami maksud. Sabtu malam itu kami sama-sama mencari artikel mengenai kontraksi, sebab saya sama sekali tidak tahu jika pinggang terasa pegal dan perut mengencang itu juga tanda kontraksi. Setahu saya, yang saya lihat di film-film juga, kontraksi ibu hamil itu mulas, sakit perut hebat sampai nafas ngos-ngosan, padahal saya sama sekali tidak mengalami hal tersebut.Jadi kami mulai menghitung jeda waktu saat perut saya mengeras & punggung saya pegal, kira-kira masih berselang 1/2 jam tiap-tiap kalinya. Malam itu kami tidur dengan nyenyak.Keesokan harinya, hari minggu tanggal 25 November 2001 sekitar jam 11 siang saya merasakan air ketuban mulai keluar, hingga kami memutuskan untuk ke klinik setelah sempat minum susu dan makan sekadarnya. Setibanya di klinik, sekali lagi saya di periksa dan kali ini ternyata benar saya akan segera melahirkan.Kami mendapat kamar saat itu juga dan saya bersiap-siap menantikan saat yang mendebarkan ini. Waktu itu tepat bulan ramadhan, walaupun saya tidak berpuasa, suami tetap menjalankan ibadah puasa seperti biasa. Kira-kira pukul 2 siang saya masuk ruang bersalin, karena pembukaan masih kecil saya diminta menunggu hingga jalan lahir cukup lebar untuk bayinya. Hingga saat berbuka (waktu itu sekitar pukul 5 sore) tanda-tanda bayi saya akan lahir belum juga ada, sehingga suami minta ijin keluar ruang untuk berbuka dahulu. Sekitar pukul 7 malam dokter mengkonfirmasi bahwa saat melahirkan telah tiba. Pukul 7.28 malam bayi kami lahir dengan sempurna, rasa sakit saat melahirkan tidak saya pedulikan lagi, walaupun kaki masih bergetar saya ingin sekali mendekap bayi kami. Setelah dibersihkan dan diberi pakaian yang hangat, bayi di serahkan ke suami dan kemudian kepada saya untuk di susui, alangkah hangat tubuh mungilnya saya rasakan di pelukan.Bayi ini kami beri nama Annisa Francelina, suami segera memperdengarkan azzan ke telinganya, semoga Allah memberkahi kami semua dan Annisa kelak menjadi anak yang baik, amien.....

Kunjungan singkat

Penulis: Srie Candrawati

Annecy, Juli 2002

Alangkah langkanya kesempatan kami untuk bertemu teman lama ataupun saudara semenjak kami tinggal di Annecy. Jika ada teman atau saudara yang berkunjung bukan main senangnya hati ini. Rindu sekali rasanya bisa ngobrol dengan bahasa kita, bercanda dan bercerita tentang bermacam hal.Dulu sewaktu kami masih tinggal di Paris, beberapa kali kami bertemu teman-teman yang kebetulan sedang berlibur atau mendapat tugas training dari kantor. Paris memang menjadi pilihan banyak orang, jika ke Perancis tentulah mampir di Paris. Nah, di Annecy ini teman-teman ataupun saudara harus berbulat tekad dan diniati benar jika hendak bertemu kami. Biasanya mereka dari Paris lalu naik kereta api ke Annecy. Tahun 1999 seorang teman sekantor dulu di Jakarta kebetulan tugas training di Paris. Ini juga karena perusahaan tempat saya bekerja dulu itu adalah distributor tunggal salah satu produk mewah dari Perancis. Ada kebijaksanaan dari perusahaan untuk memberi kesempatan para manager atau mereka yang sudah lebih sepuluh tahun bekerja di perusahaan tersebut untuk training di Paris.Walau hanya sempat bertemu sekali, bukan main senangnya. Banyak sekali cerita yang ingin saya dengar tentang teman-teman, juga perkembangan usaha ini di tanah air, yang ternyata makin maju walau negara kita tengah dilanda “krismon” waktu itu. Teman ini berkata kalau di Indonesia banyak kalangan tertentu yang tidak terpengaruh krismon, malah makin jor-joran istilahnya, atau berlomba-lomba memamerkan kekayaannya. Katanya pula, biasanya mereka ini yang punya simpanan dollar amerika. Tidaklah heran, jika makin merosot rupiah kita, mereka justru beruntung.Di lain hari ada teman sekerja suami dulu sewaktu ia di tugaskan di Bangkok berkunjung bersama adik dan ibunya. Di Thailand mereka memang punya usaha ekspor-impor selain juga perusahaan asuransi. Mereka ke Paris untuk menghadiri pameran industri sekalian plesiran dan tidak lupa shoping.Thailand saat itu tidak jauh kondisinya dengan negara kita sehabis dilanda krisis ekonomi, namun keluarga Thailand ini nampaknya tidak terimbas krisis. Buktinya, saya yang kebagian mengantar kesana-sini dan mereka benar-benar niat berbelanja. Bukan main belanjaannya, segala macam butik di kawasan Champs Elysées kami masuki, belanjaannya sarat dengan barang-barang mewah mulai dari tas hingga kriistal!.Tapi yang paling mengesankan ialah kunjungan teman sekantor dulu ke tempat kami di Annecy. Lain dengan suasana Paris yang serba hiruk-pikuk, kota kami lebih cenderung tenang, nyaman dan asri. Cocok untuk berlibur, menenangkan pikiran dan lebih cocok lagi bagi para pensiunan. Sesampainya di kota kami, rekan saya ini langsung bisa merasakan perbedaannya, malah begitu pagi harinya ia pinjam sepeda untuk berkeliling kota.Memang, jika ingin shoping lebih banyak pilihan di kota-kota besar, namun jika ingin melihat keseharian orang perancis ya, disini lebih cocok. Tidak terasa habis sudah satu roll film di kameranya, banyak sekali obyek menarik yang layak di abadikan, mulai dari danau yang di kelilingi pegunungan hingga kota tua yang masih melestarikan château (puri) nya. Rekan ini sempat menginap selama kurang lebih tiga hari di Annecy, ia hanya mengambil cuti sepuluh hari dan hari-hari pertamanya di habiskan di Paris. Menurutnya, baru tiga hari di Paris rasanya sudah bosan, apalagi jika tidak bertemu dengan saya, ia mulai mblenger dengan makanannya. Untung saat bertemu saya, langsung saya ajak makan di china town di Paris. Puaslah dia bisa menghirup kuah bakso lagi. Bagaimanapun juga, lidah kita tetap rindu makanan dari asia, nasi, lauk-pauk dan sambal.Sebetulnya banyak juga teman-teman dari Jakarta yang berkesempatan ke Perancis, namun tidak semuanya sempat kami temui karena berbagai sebab. Misalnya, kunjungannya mendadak, kemudian saya dan suami sudah punya rencana lain. Kecewa juga rasanya, tapi biasanya kami masih sempat bicara di telepon.Herannya, justru sejak anak pertama kami lahir, kami makin sering mendapat kunjungan dari teman-teman dan saudara. Pertama, sepupu saya yang tinggal di San Diego datang dan menginap, ia bersikukuh ingin keliling Eropa selagi masih single katanya. Lalu teman-teman yang dulu kami kenal semasa tinggal di Paris juga berdatangan ke Annecy, tak lupa kakak yang tinggal di Jerman turut menyempatkan diri menjenguk kami bersama suaminya. Wah, alangkah senangnya kami mendapat kunjungan, yang biarpun singkat namun berkesan..

Berita duka dari tanah-air

Penulis: Srie Candrawati

Annecy, Juni 2001

Sejak awal tahun 2000 ibu saya mulai mengeluh sakit dan akhirnya seringkali ke dokter, lalu keluar-masuk rumah-sakit. Dugaan ibu awalnya, mungkin keseleo, salah urat, kok nyeri di punggung tidak hilang-hilang. Memang saat sebelum berangkat ke Paris dulu, kami sempat pergi berbelanja berdua ke pusat perbelanjaan di Jakarta. Saat itu ibu ingin mencoba sandal yang kebetulan berada di rak paling bawah, saat itulah, katanya ibu keseleo. Maklum saja, ibu saat itu sudah berusia cukup lanjut. Mungkin tulang-tulangnya tidak sekuat orang muda lagi, apalagi setelah ibu juga pernah di diagnosis menderita osteoporosis atau kerapuhan tulang. Semenjak itu ibu sudah rajin minum susu, namun pencegahan osteoporosis seharusnya sudah dilakukan semenjak dini, sejak masih usia kanak-kanak. Jadi nampaknya usaha ibu kurang berarti. Apa lagi ibu penganut vegetarian.Bapak, dilain pihak, juga sudah lama menderita sakit jantung. Saat tahun 1998 seharusnya bapak menjalani operasi jantung, karena menurut dokter ada klep yang bocor. Usia bapak berbeda 9 tahun lebih tua dari ibu, kondisinya pun saat itu sudah lemah. Maka, operasi yang disarankan oleh dokter rasanya tidak sanggup lagi dijalani bapak.Sulit dibayangkan, bapak yang selama ini kuat dan selalu bersemangat, makin hari bertambah lemah fisiknya. Saya masih terbayang, ditahun 1997 saat berusia 72 tahun bapak masih pergi ke kantor di daerah Cimanggis. Bapak masih sangat bersemangat mengelola BPR yang dijalankan bersama teman-temannya. Semenjak diagnosis dokter, bapak mulai langganan jadi pasien rumah sakit dan memutuskan pensiun total. Sebetulnya, bapak sudah pensiun sejak kami masih duduk di bangku sekolah, tahun 1983. Tetapi karena tanggung-jawabnya yang sangat besar terhadap keluarga dan kelangsungan studi kami semua, bapak terus bekerja hingga beberapa kali pindah tempat kerja sampai akhirnya mengelola BPR tahun 1998 itu.Saat saya dan suami tinggal di luar negeri kami secara rutin menelepon untuk mendapat kabar dan perkembangan kondisi orangtua kami, kami selalu berharap kondisi keduanya membaik. Kebetulan kakak pertama saya perempuan dan hampir disaat yang bersamaan kami pindah ke luar negeri mengikuti suami masing-masing. Sebelumnya, kakak tinggal di Beijing selama setahun lalu kemudian pindah ke Jerman disaat yang hampir bersamaan saya dan suami pindah ke Annecy. Kakak lebih sering pulang ke tanah-air saat masih di Beijing, dia sering mengabari bagaimana kondisi orang-tua kami. Kami ada 4 bersaudara, kakak saya ini yang pertama, lalu kakak laki-laki saya di Jakarta, saya dan kemudian adik laki-laki juga berada di Jakarta. Jadi kedua anak laki-laki yang berada di tanah airlah yang lebih sering menunggui kedua orang-tua kami.Menurut kabar, ibu khususnya sangat rindu dengan anak-anak perempuannya. Hal ini dapat dimaklumi, karena bagaimanapun biasanya ibu lebih merasa nyaman jika ditemani anak-anaknya yang perempuan. Kami menyadari akan hal ini, namun kami tidak bisa berbuat banyak kecuali sering mengirim kabar dan menanyakan kabar ibu. Kami sedang menata kehidupan kami di negeri orang, rasa rindupun kami rasakan, walau kami berusaha kuat untuk tidak terlalu larut di dalamnya. Lain hal dengan ibu, nampaknya rasa rindu yang sangat hebat menyebabkan ibu sakit. Dari diagnosis-diagnosis yang di jalankan diperoleh kepastian ibu menderita kanker stadium II. Tumor ganas ini ditemukan dibelakang kuping dan payudara sebelah kiri. Ibu langsung mendapat perawatan intensif di rumah-sakit. Operasi pengambilan tumor di lakukan, dan ibu harus rutin menjalani kemoterapi.Bulan Oktober 2000, kondisi ibu semakin lemah. Kelihatannya ibu tidak kuat menahan rasa mual akibat efek kemoterapi. Ibu tidak bisa makan secara normal dan harus mendapat bantuan infus. Tubuhnya makin hari makin lemah dan kurus. Ibu tetap bersikukuh tidak ingin merepotkan kami yang berada jauh dibenua Eropa untuk pulang, jika kami telepon ke bapak pun, bapak hanya berkata “ya, kalau bisa pulang lebih baik”. Berita ini tentu saja membuat kami panik dan sedih, kakak saya langsung pulang ke tanah air, sedangkan saya dan suami rencananya pulang bulan depannya, kebetulan suami ada tugas kerja ke Singapore dan Malaysia, jadi saya bisa ikut “nebeng” pulang ke RI.Dari berita yang kami peroleh, semenjak kakak perempuan saya pulang, ibu sedikit demi sedikit pulih selera makannya karena disuapi oleh kakak. Dia rajin datang dan menghibur ibu di rumah-sakit. Kemudian pihak rumah sakit memberi ibu izin “cuti”, jika akhir-pekan diperbolehkan pulang ke rumah dan masuk rumah-sakit kembali hari seninnya.Alangkah senangnya ibu, yang sejak tiga bulan berada di rumah-sakit, diperbolehkan menginap di rumah sendiri. Hal ini, kemudian menjadikan ibu tidak mau kembali lagi ke rumah-sakit. Ibu bersikukuh menjalankan rawat jalan dan tinggal di rumah saja. Kenyataan ini awalnya membuat kami kalang-kabut, banyak peralatan dan obat-obatan yang harus disiapkan, termasuk tabung gas, kursi roda, pampers untuk orang tua dan sebagainya yang selama ini disediakan dari rumah-sakit. Kakak perempuan saya awalnya yang kebagian menjadi “perawat” dadakan. Selama sebulan ia merawat ibu, seperti saat ibu merawat kami selagi bayi dulu. Namun hal ini tidak dapat berlangsung lama, karena bagaimanapun kakak saya harus kembali ke Jerman. Diputuskanlah untuk menyewa jasa suster untuk merawat ibu sehari-hari di rumah. Tiba saatnya saya dan suami pulang ke tanah-air, dan kakak kembali ke Jerman. Ibu kelihatan sangat kehilangan dan sedih melepas kakak.Saat saya dan suami berada di Jakarta, bapak kembali harus masuk rumah sakit. Bagi kami hal ini sudah terjadi rutin, dan biasanya setelah kurang lebih 4 atau 5 hari bapak diperbolehkan pulang. Keluhan bapak biasanya sesak napas dan hilang napsu makannya. Kami sempat menengok bapak di rumah-sakit, nampaknya bapak sudah lebih segar dan ceria. Jalannya walau perlahan-lahan namun tidak memerlukan bantuan untuk berjalan seputar kamarnya, dan bisa pergi sendiri ke kamar mandi. Bapak terlihat senang mendengar kabar bahwa saya positif hamil saat itu, hal tersebut selalu di tunggu dan di tanyakan olehnya dan ibu pada kami. Mereka selalu bertanya, mengapa kami harus terus menunda-nunda.Kami hanya dapat tinggal di Jakarta selama seminggu, karena pekerjaan suami sudah menunggu dan cuti yang kami ambil hanya seminggu. Kami kembali ke Perancis akhir-pekan itu. Pekan berikutnya kami mendapat telepon pagi-pagi sekali pukul 4 waktu Perancis. Saat itu di Jakarta kira-kira pukul 10 pagi. Kakak mengabari berita duka, bapak telah pulang kehadirat Nya. Bapak meninggal saat masih berada di rumah sakit. Walaupun kami langsung memesan tiket pulang ke tanah-air, kami tidak sempat lagi melihat bapak untuk terakhir kalinya. Menurut agama kami, bapak harus secepatnya di kebumikan. Sedangkan perjalanan kami dari Eropa ke Asia Tenggara memakan waktu cukup lama. Lama kami merenungkan hal ini, sepanjang perjalanan pulang kembali ke Jakarta, hanya ada rasa sedih dan sesal yang menyesakkan dada. Timbul pertanyaan “mengapa?”, bapak kelihatannya segar dan membaik saat kami tinggalkan. Jika saja kami tahu, kami tidak akan pulang ke Perancis secepat itu. Namun saya sadar, pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan merubah apa-apa. Banyak pertanyaan yang ingin rasanya saya ajukan ke bapak, rasanya belum cukup waktu kita bertemu. Dan, pertanyaan-pertanyaan itu tetap tidak akan ada jawabnya.Ada teman baik yang pernah berkata, jika memang jodoh perasaan suami-istri biasanya dapat saling berkomunikasi walau hanya dalam bathin, apa yang di bathin biasanya sama. Mungkin karena itu jugalah, ibu yang di tinggal bapak tidak lama kemudian meninggal dunia. Seperti saya utarakan diawal bab ini, ibu sudah sejak lama sakit. Saat bapak meninggal, ibu baru kira-kira sebulan keluar dari rumah sakit setelah tiga bulan lebih dirawat dan menjalani kemoterapi. Menurut kami, kondisi ibu yang belum stabil baik secara lahiriah maupun bathiniah banyak mempengaruhi kondisi kesehatan ibu selanjutnya.Saat itu, penyakit ibu berawal dari flu dan batuk, menurut ibu saat itu memang sedang musim sakit flu dan seluruh anggota keluarga di rumah juga sakit flu dan batuk, jelas saja ibu yang kondisinya paling lemah cepat ketularan. Namun, ternyata sakit flu dan batuk ibu tidak kunjung sembuh, setiap kami menelepon ke tanah air, ibu masih juga sakit dan suaranyapun lemah. Ibu sudah berobat ke dokter dan sudah pula minum obat sesuai petunjuk dokter, tetapi tetap kondisi tidak juga membaik. Seminggu terakhir sebelum opname, ibu tidak bisa makan, susah menelan keluhannya, ibu menduga riak batuk ibu tidak mau keluar dan menyumbat tenggorokan. Ibu juga enggan diajak berobat kali ini, katanya badannya lemas buat pergi walaupun ada kakak dan adik yang siap mengantar.Karena hanya minum jus buah-buahan dan sedikit sekali makanan yang ibu makan, akhirnya kondisi ibu memburuk dan harus langsung dibawa ke rumah sakit bagian ICCU. Selama kurang lebih empat hari dirawat kondisi ibu masih belum membaik, malahan pada hari Senin 18 Juni 2001 sempat jantung ibu berhenti berfungsi dan pihak rumah sakit harus menggunakan alat pacu jantung. Pada pagi hari sekitar pukul 8.00 WIB tanggal 20 Juni 2001 ibu pergi untuk selamanya. Saat mendapat kabar dari tanah air, kami langsung mendoakan agar Allah SWT menerima semua amal kebaikan ibu selama hidupnya dan dilapangkan jalannya. Kami tidak dapat pulang ke tanah air karena saat itu saya sedang mengandung. Kami hanya dapat mendoakan dan mengikhlaskan kepergian ibu dan selalu mengenang segala kebaikannya.

Sekilas tentang izin tinggal

Penulis: Srie Candrawati

Annecy, April 2001

Untuk dapat tinggal dan bekerja di Perancis, hukumnya cukup ketat, walaupun ada saja orang yang rela melakukan apa saja untuk dapat bekerja tanpa izin atau ilegal. Hal ini jelas sangat kami hindari, karena kami tidak ingin berseteru dengan hukum, apalagi di negara orang.Jika ingin mendapat ijin bekerja, untuk orang asing seperti kami berdua umumnya harus mengurus saat masih berada di tanah-air. Jika ingin bekerja, harus ada sponsor dari perusahaan atau orang yang akan merekrut kita. Jika sudah berada di Perancis dan ingin merubah status visa, bisa saja, namun juga ada aturannya. Soal hukum disini tidak bisa main-main, walaupun orang perancis sendiri mengatakan hukum di perancis adalah untuk di langgar, namun itu hanya lelucon mereka saja. Kami ini yang orang asing tidaklah bisa main-main dengan hukum, salah-salah bisa di deportasi.Lain halnya jika salah satu dari suami atau istri yang berkebangsaan perancis, soal bekerja bukan masalah, karena pasangannya dapat mengajukan permohonan carte d’identité français atau KTP perancis dan mereka di izinkan bekerja. Jika mau bersabar, kami juga dapat memperoleh KTP Perancis yang di sebut carte de résident. Kartu ini bisa di peroleh setelah menetap selama 3 tahun berturut-turut di Perancis dengan memperlihatkan bukti-bukti dan persyaratan yang di minta, salah satunya slip gaji dan bukti membayar pajak.Selama 3 tahun pertama di Perancis kami memperoleh apa yang disebut carte de séjour, yaitu izin tinggal yang selama tiga tahun pertama harus diperpanjang tiap-tiap tahunnya. Setelah tiga tahun berturut-turut menetap di perancis, barulah diperbolehkan mengajukan permohonan carte de résident yang masa berlakunya sepuluh tahun. Carte de séjour temporaire yang tahunan ditempelkan pada pasport seperti layaknya visa, sedang carte de résident berupa kartu seperti KTP di Indonesia. Saat pertama suami bekerja di perancis, ia menggunakan carte de séjour tipe travaiil témporaire atau pekerja temporer, yang menurut peraturan harus diperpanjang setiap sembilan bulanan, setelah dua kali sembilan bulan menurut peraturan yang berlaku, si pemilik visa diminta pulang dulu ke tanah-air dan mengajukan permohonan yang baru. Di sini pegawai semacam ini disebut détaché.Sebelum habis masa sembilan bulan, kebetulan suami mendapat tawaran bekerja dari perusahaan lain yang bersedia mensponsori visa salarié, yaitu visa bekerja tipe lain yang tidak diperpanjang setiap sembilan bulan, dan perusahaan ini menawarinya memperoleh kontrak bekerja tipe CDI ( Contrat Durée Indeterminé), yaitu tipe kontrak untuk pegawai tetap disuatu perusahaan. Kontrak kerja di sini ada 2 tipe CDI dan CDD (Contrat Durée Déterminé) atau kontrak kerja yang masa berlakunya sementara sesuai waktu yang di tentukan.Jika sudah mengantongi kontrak CDI, pegawai memiliki kekuatan secara hukum, misalnya, tidak mudah bagi perusahaan untuk memutuskan hubungan kerja (PHK) dengan pegawainya. Menurut ketentuan ketenaga-kerjaan di perancis, tidak mudah bagi perusahaan untuk mem-PHK-kan pegawainya. Jika sampai terjadi PHK perusahaan tersebut harus membayar ganti rugi yang besar dan pemerintah mengeluarkan alokasi dana bagi chômage atau pengangguran, dengan besar dan jangka waktu sesuai lamanya masa bekerja. Tentunya sistem ini dapat berjalan, karena tiap bulan para pegawai wajib mengeluarkan iuran kontribusi sosial kepada berbagai lembaga yang sudah di tentukan pemerintah. Dari iuran inilah para pegawai mendapat fasilitas-fasilitas dari pemerintah, fasilitas-fasilitas ini sangat penting sebenarnya bagi tiap-tiap orang bekerja. Misalnya adanya jaminan kesehatan, asuransi jiwa, tunjangan hari tua atau seperti yang tadi saya sebutkan, jika terpaksa harus menganggurpun ada jaminan alokasi dananya. Di Perancis ada satu hal yang amat kami syukuri yaitu adanya hak cuti selama 8 minggu tiap tahun bagi pegawai seperti suami. Di tambah lagi sejak 1 Januari 2002 di terapkan cuti buat “calon bapak” yang anaknya lahir sejak 1 januari 2002 ini. Cuti diperbolehkan selama 4 minggu! yang disebut congé patérnité. Selama ini hukum ketenaga kerjaan hanya memberi cuti bagi si ibu saja atau di sebut congé maternité. Seperti umumnya di tiap-tiap negara, di Perancispun ada jawatan yang khusus mengurusi masalah-masalah pengangguran, pensiunan, orang cacat dan orang jompo. Juga ada jawatan yang menawarkan pekerjaan bagi para pencari kerja yaitu ANPE (Agence Nationale Pour Emploi). Jika menganggur, mendaftar saja ke ANPE dan biasanya mereka mebiayai kita untuk mengambil kursus (formation) di bidang yang sesuai dengan keahlian kita.Di sini yang sempat jadi perhatian saya adalah orang-orang tua pensiunan yang jika kita lihat di negara sendiri umumnya tidak lagi aktif bekerja atau bersosialisasi. Di sini orang-orang tua banyak yang masih aktif berolah raga, berorganisasi bahkan saya lihat banyak nenek-nenek yang masih rajin ke salon. Umumnya disini para kakek-nenek tidak tinggal lagi dengan keluarga, mereka banyak yang memilih tinggal di panti jompo. Mereka tidak ingin bergantung pada orang lain, mereka lebih bahagia berada di antara rekan-rekan sebaya, mungkin jadi ada teman mengobrol yang omongannya “nyambung”. Mereka masih belanja ke supermarket sendiri, jika sudah payah tidak sanggup berjalan mereka ada yang menggunakan kursi jalan, seperti motor tetapi tinggal tekan tombol saja, kursi otomatis bergerak. Namun banyak juga di antara mereka yang hidup menyendiri, hingga kadang kami bertemu dengan kakek atau nenek yang suka ngomong sendiri sembari berjalan, atau yang omongannya “ngelantur” entah apa maksudnya. Pernah di dalam bis ada nenek-nenek yang tiba-tiba saja mengeluh ke saya karena tidak di perbolehkan menggunakan toilet disebuah restoran, atau pernah juga saat sedang minum kopi dengan kakak di Jerman, ada nenek-nenek yang terus saja “nyerocos” ke saya tentang penyakit diabetesnya, sedang saya tidak mengerti bahasa Jerman, kakak sayalah yang jadi penerjemahnya.

Rumput tetangga biasanya nampak lebih hijau....

Penulis: Srie Candrawati

Annecy, Agustus 2001

Tiap-tiap orang tentu punya pendapat dan pandangan yang berbeda-beda terhadap suatu permasalahan. Begitu pula dengan teman-teman setanah air yang kebetulan bertemu di sini, tidak semuanya senang tinggal di luar negeri. Tidak semua ingin menetap lama di sini. Ada seorang teman, yang menikah dengan pria perancis dan tinggal di daerah Bourgogne, awalnya, mungkin ia menyangka menikah dengan orang “bule” dan tinggal di perancis adalah pilihan tepat. Seperti juga rata-rata pasangan yang baru menikah, tentunya di sertai berbagai impian yang indah-indah akan masa depan yang akan di lalui bersama. Mereka kemudian memiliki bayi perempuan, tentulah rasa bahagia berlipat ganda. Segudang cita-cita tertanam di hati termasuk keinginan untuk dapat menyekolahkan si kecil nanti di luar negeri.Kami bertemu pasangan ini kira-kira saat kami pindah ke Annecy tahun 2000. Kami juga kadang saling bertelepon dan bertemu, walau jarak tempat tinggal agak berjauhan. Setahun kemudian saya mulai mendengar keluhan sang istri, teman kami ini mengeluhkan sulitnya hidup di Perancis. Ia sempat berkata “jika kita yang di tanah air hidup kekurangan, tentulah hidup di sini bagai di surga. Tetapi jika di tanah air sudah berkecukupan, hidup di sini seperti neraka”. Saya hanya manggut-manggut saja mendengarkannya. Apa iya sih demikian, pikir saya saat itu, wallahualam. Memang nampaknya dia di tanah air terbiasa punya pembantu, punya supir pribadi pendek kata hidup berkecukupanlah. Ia berceritera bahwa bisnis suaminya sedang dalam kondisi yang tidak menguntungkan. Ia pun tidak betah hanya tinggal di rumah saja, ia ingin pula bekerja. Dengan demikian, anak semata wayangnya harus ia titipkan pada pengasuh atau ibu mertua selama ia bekerja. Hal ini kemudian ia sesali, karena anaknya yang mulai pandai meniru, mengeluarkan kata-kata kasar yang tidak pernah ia ucapkan apalagi mengajari.Beberapa saat kemudian, perusahaan dimana ia dan suaminya bekerja kesulitan dana. Untuk membayar pajak dan gaji pegawaipun sulit, hingga di putuskan untuk di tutup saja. Rekan ini memilih untuk pulang ke tanah air, ia berhasil meyakinkan suaminya bahwa di tanah air keadaan akan lebih baik dan mudah untuk berusaha. Saya akui, rekan saya ini orangnya memang ulet, saya percaya jika ia mengatakan akan berbisnis di Indonesia dia akan sangat bersungguh-sungguh menjalankannya. Lain lagi dengan rekan saya lainnya, ia juga sama-sama menikah dengan orang perancis dan menetap di sini. Nampaknya rekan yang satu ini sangat kerasan tinggal di Perancis, bangganya bukan main hidup di sini. Malahan ia mengatakan merasa tidak aman dan tidak nyaman jika berada di Indonesia.Ia memiliki seorang putri, putrinya sudah bersekolah di TK. Kelihatannya ia tidak memiliki kesulitan seperti teman yang satu tadi. Teman ini malah bercerita, saat ada kesempatan pulang ke tanah air, ia enggan pergi kemana-mana. Hanya sesekali pergi keluar dan itupun tidak jauh-jauh dari hotel tempat ia menginap. Alasannya ya itu tadi, tidak merasa aman. Apalagi katanya, jika bepergian dengan suaminya yang “bule” itu, ia takut terjadi apa-apa.Berbeda dengan rekan yang pertama saya sebutkan tadi, ia justru senang berkeliling ke pelosok-pelosok kota di pulau Jawa dan Bali bersama suami, anak dan saudara-saudara lainnya. Bahkan, sering pula ia bertindak selaku tour guide buat rekan-rekan dan saudara-saudara suaminya dari perancis hingga ke pulau komodo. Pengetahuannya tentang pariwisata di Indonesia sangat baik, orangnyapun supel bergaul, cuek dan sederhana. Di mana-mana ia dapat bernegosiasi dengan pihak hotel, losmen, angkutan, restoran dan sebagainya untuk mendapatkan harga spesial rombongan. Orang-orang “bule” yang di ajaknya tentu senang bukan main dan merasa kangen mengunjungi Indonesia lagi, sama sekali tidak ada rasa takut.Berbagai macam tipe manusia, begitu pula tingkah lakunya. Beberapa teman di Paris dulu ada pula yang menikah dengan orang perancis. Ada yang tetap menjadi dirinya sendiri, yaitu orang Indonesia asli, yang makannya juga nasi. Ada pula yang tiba-tiba kagok berbahasa Indonesia, seolah sudah lupa akan bahasa nenek moyang kita ini, padahal baru tinggal setahun di Paris. Mungkin ini ya, yang di sebut “culture shock” itu?. Kadang saya geli sendiri melihat tingkah polah kenalan-kenalan di sini. Bagi saya, yang bersuamikan orang Indonesia juga, mungkin tidak terlalu banyak perbedaan yang harus saya sesuaikan. Kami menjalani hidup disini tidak banyak berbeda dengan saat di tanah air. Kami menikmatinya, tetapi kami tetap mempertahankan jati diri kami sebagai orang Indonesia.Jikalau kami harus beradaptasi dan menerapkan kebiasaan-kebiasaan disini, alangkah baiknya jika kita memilah-milah dan menyaringnya terlebih dahulu dan tidak menelan bulat-bulat semuanya. Misalnya hal-hal yang patut kami tiru adalah soal disiplinnya, soal ketepatan waktu, kebersihan dan sebagainya. Karena tidak semua hal dari negara barat selalu baik. Banyak kenalan di tanah air yang menganggap segala sesuatu yang berasal dari negara maju itu selalu oke, keren, baik dan benar, padahal tidak juga.Pernah suatu saat kami datang ke KBRI untuk memperpanjang paspor sekalian mencantumkan anak kami dalam paspor RI. Saat sedang “ngantre” secara tidak sengaja saya jadi ikut mendengarkan keluh kesah seorang wanita Indonesia yang di antar sepasang rekannya yang orang Perancis. Awalnya ia minta “petunjuk” pada seorang ibu pegawai KBRI dibagian visa untuk memecahkan persoalan visa tinggal di Perancisnya yang sudah lewat waktu alias overstay. Lalu, ia berkisah bahwa ia mempunyai anak dengan pria Perancis, tetapi belum menikah, ia bertanya apakah ia bisa mendapatkan ijin tinggal lebih lama di Perancis?. Menurut KBRI sesuai prosedur hukum di Perancis, sebaiknya “calon” suaminya mengurus ke préfécture de police untuk mendapat carte de séjour yaitu ijin tinggal yang umumnya berlaku setahun. Kemudian ibu tadi bertanya apakah anak mereka sudah mendapat akte kelahiran di Perancis yang biasanya di dapat dari mairie setempat. Untuk mendapatkannya, apakah bapak si anak mengakui anaknya dan lain sebagainya. Wanita ini nampaknya makin bingung dengan pertanyaan yang saling berkait ini, mau tidak mau ia harus menceritakan semua permasalahannya. Barulah diketahui bahwa bapak si anak ini sudah lama tidak bekerja, menganggur istilahnya di tambah lagi menumpang hidup pula di rumah sepasang rekan Perancis yang kebetulan hari itu mengantar wanita Indonesia yang malang ini. Yang lebih menyedihkan lagi adalah kondisi anaknya yang masih bayi itu agak terbelakang, katanya anaknya sedang mengikuti terapi di Perancis ini, karena dahulu pernah jatuh saat mereka berada di tanah air dan patah tulang. Jatuhnya anak ini akibat ulah bapaknya, katanya. Saya kemudian melirik ke seorang bayi laki-laki yang sedari tadi di gendong oleh teman wanita ini. Permasalahannya jadi lebih rumit karena nampaknya bapak si bayi tidak ingin menikahi ibunya. Kelihatannya pria itu terserang depresi berat juga, sehingga sehari-harinya tidak melakukan apa-apa, tidak berusaha mencari pekerjaan, tidak mengurus ijin tinggal pasangannya, bahkan mengantar ke KBRI saja ia tidak mau. Nah, rekannya yang di “tumpangi” ini lama-lama habis juga kesabarannya, sehingga hari itu ia turut mengantar wanita Indonesia ini memperoleh sedikit kepastian dan berharap ada pertolongan atau setidaknya penjelasan dari KBRI. Akhirnya, pihak KBRI berbicara dengan dua orang perancis ini dan menjelaskan langkah apa saja yang sebaiknya di lakukan, salah satunya ya, si pria itu di minta datang untuk menjelaskan sendiri persoalannya. Sebenarnya jika wanita ini ingin pulang saja ke tanah air bisa, karena anaknya tercantum dalam paspor RI nya, tetapi karena sudah terlalu lama overstay ya, konsekuensinya saat di airport harus bayar denda. Tidak jelas bagaimana kemudian kelanjutan kisahnya, karena paspor yang saya tunggu-tunggu ternyata sudah jadi dan tidak ada alasan untuk berlama-lama “nguping” apalagi Annisa, anak kami sudah mulai rewel karena kecapekan.Seorang teman di Paris yang bersuamikan orang Indonesia juga, pernah berkata bahwa sebetulnya mau kawin dengan orang bule atau tidak, namanya perkawinan pasti ada susah senangnya, ada pasang surutnya, sama saja. Ia pikir sebelumnya, menikah dengan orang asing kelihatannya lebih terjamin, lebih makmur, lebih bahagia. Ternyata menurutnya, “rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri”. Sebenarnya soal “rumput” ini kan bagaimana kita merawat dan memeliharanya saja?. Demikian halnya juga dalam kehidupan dan perkawinan, bukan begitu?.

Kesejahteraan masyarakat

Penulis: Srie Candrawati

Annecy, Juli 2001.

Salah satu hal yang kami perhatikan, kami alami dan kami rasakan berbeda dengan tanah air kita adalah masalah soasial dan kesejahteraan masyarakat di Perancis. Sering dalam hati kami berharap seraya mendo’akan agar negara kita tidak jauh perbedaannya dengan negara-negara maju dan segera tercipta masyarakat yang adil dan makmur seperti yang di cita-citakan sejak dahulu. Mungkin, perbedaan ini di awali dari sistem yang di terapkan di suatu negara. Sistem yang ada di Perancis ini sudah dapat berjalan dengan baik. Suatu sistem yang di tetapkan oleh pemerintah, sungguh-sungguh di aplikasikan untuk kebaikan bersama.Saya sangat mensyukuri tetapi juga sedikit iri akan adanya jaminan sosial yang sangat baik bagi semua lapisan masyarakat di sini. Dengan adanya social security ini rakyat akan hidup lebih tenang, manfaatnya juga benar-benar terasa. Misalnya dalam menangani masalah kesehatan masyarakat, contohnya, hak untuk ibu hamil untuk memperoleh tunjangan dari pemerintah. Saat saya hamil, setelah trimester pertama kehamilan saya memperoleh formulir dari dokter kandungan yang gunanya untuk mendeklarasikan kehamilan saya pada instansi yang tersangkut, yaitu ke Caisse Allocation Familiale dan Sécurité Social. Sedangkan kewajiban saya hanyalah rutin memeriksakan diri ke dokter, dan tiap-tiap kali periksa mengirim buktinya kepada kedua instansi tersebut. Ada sekitar tujuh kali pemeriksaan wajib ke dokter dan laboratorium yaitu saat trimester pertama disertai dengan échographie (USG) pertama sekitar minggu ke 12 kehamilan lalu tiap-tiap bulan berikutnya sekali sebulan.USG yang wajib di jalankan hanya tiga kali, sekitar minggu ke 12 kehamilan, lalu antara minggu ke 18 - 24 dan sekitar minggu ke 28 kehamilan.Bukti-bukti tersebut di perlukan untuk mendapatkan apa yang di sebut A.P.J.E. - allocation pour jeune enfant (alokasi dana untuk anak) yang saya peroleh sejak bulan ke lima kehamilan hingga usia anak tiga tahun. Besarnya sudah di tetapkan dan di kalkulasi oleh pemerintah melalui data-data gaji dan pajak. Dana di transfer ke rekening kami setiap bulannya. Bagi kami dana yang di peroleh lumayan untuk membantu mempersiapkan kehadiran si buah hati.Sedangkan untuk keperluan dokter anak, jika anak kita sakit, kita bisa memilih pergi ke dokter umum atau spesialis anak yang di sebut pédiatre, tetapi pemerintah juga menyediakan tempat periksa cuma-cuma yang di sebut P.M.I. bukan palang merah Indonesia, melainkan Protection Maternelle et Infantile. Di sana ada perawat dan dokter anak yang tentu ijasahnya di setujui oleh pemerintah. Tempat ini khusus bagi anak usia 0 - 6 tahun. Saat seseorang hamil, ia boleh menanyakan apa saja yang berhubungan dengan kelahiran dan perawatan anak, juga dapat mengikuti kursus kehamilan secara cuma-cuma sebanyak delapan kali di P.M.I. ini. Melahirkan pun dapat dikatakan gratis. Jika melahirkan di rumah sakit, otomatis biaya di tanggung oleh sécurité social.Hal-hal seperti kami rasa sangat berguna. Alangkah baiknya jika suatu saat negara kita dapat menerapkan sistem-sistem semacam demi kesejahteraan masyarakat seperti ini. Semoga harapan ini suatu saat dapat menjadi kenyataan, sehingga seluruh lapisan masyarakat dapat menikmati pelayanan kesehatan yang baik, mendapatkan pendidikan yang baik pula walaupun mereka berasal dari kondisi ekonomi yang berbeda. Jadi misalnya ada pasien dari kalangan yang kurang mampu tetap mendapat tempat yang baik di rumah sakit, tanpa harus kebingungan mencari cara untuk membayar ongkosnya. Anak-anak tetap dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Masalah pendidikan di negara-negara maju umumnya sudah menjadi hak dan kewajiban setiap anak.Tetapi, jelas saja semua ini dapat berjalan karena ada imbangannya. Di Perancis, hal yang agak memberatkan adalah masalah perpajakan. di sini kami harus mendeklarasikan pendapatan kami ke jawatan pajak, dan setiap tahun wajib membayar pajak tahunan yang lumayan juga jumlahnya. Pajak ini ada yang di sebut pajak pendapatan dan ada pajak tinggal (habitation). Jumlahnya berbeda untuk setiap orang, tergantung dari kondisi keluarga dan tempat dimana ia tinggal bagi pajak habitation. Misalkan untuk pajak pendapatan, seorang pegawai yang masih lajang, pajaknya bisa lebih besar dari seseorang yang telah menikah dan memiliki anak. Seseorang yang telah menikahpun, kondisinya bisa berbeda dan hitungan pajaknyapun berbeda pula. Misal, statusnya menikah kemudian suami dan istri dua-duanya bekerja, pajaknya lebih besar daripada jika hanya salah satu yang bekerja. Yang memiliki anakpun demikian halnya, makin besar jumlah anaknya, makin kecil pajaknya. Contohnya ada rekan kerja suami yang memiliki lima orang anak, hitungan pajaknya malahan minus, sehingga pemerintah harus membayar alokasi dana kepadanya. Memang jika di lihat sekilas, banyak anak bisa jadi tidak bayar pajak, namun jika di hitung lebih jauh lagi, konsekuensi dan biaya yang harus dikeluarkan sehari-harinya kan akan lebih besar pula, dibanding misalnya hanya dua atau tiga anak. Sebenarnya, bukan tidak ada sebagian orang-orang yang mencoba “akal-akalan” dengan perpajakan ini, namun banyak juga masyarakat yang taat pajak. Salah satu perbedaan yang kami rasakan antara negara maju dan negara berkembang yaitu mental masyarakat yang mau disiplin taat pada peraturan. Mereka taat karena tahu bahwa hukum yang ada benar-benar diterapkan, sehingga sistem dapat berjalan dengan baik. Singkatnya, di sini hukum berwibawa, walaupun kata orang, masyarakat perancis tidak se-taat masyarakat di negara eropa lainnya, misalnya di banding dengan masyarakat Jerman atau Inggris.Soal “kucing-kucingan” dengan petugas pajak ini saya dengar dari teman yang terpaksa menitipkan anaknya pada baby-sitter karena mereka suami-istri bekerja, kebetulan ia mempekerjakan seorang wanita yang minta agar uang gajinya tidak dideklarasikan, agar dia dapat terbebas dari kewajiban membayar pajak. Karena ia berpikir gajinya yang tidak seberapa besar harus pula dipotong pajak, berapa uang yang ia peroleh?. Sebenarnya, saya sering mendengar keluhan dari teman-teman yang orang perancis, bahwa mereka sendiri keberatan dengan besarnya pajak yang harus mereka bayar setiap tahun, belum lagi uang kontribusi sosial yang diambil dari pendapatan mereka setiap bulannya. Terlalu banyak “potongan” kata mereka. Seolah-olah, mereka tidak diperbolehkan menikmati hasil jerih payah mereka sendiri, harus berbagi dengan orang lain yang tidak bekerja, yang hanya mendapat upah minimum atau pemerintah malah memberi bantuan pada para refugee.Namun, jika kita dapat berpikir dengan lebih jernih dan ikhlas, dan ini juga berdasarkan hasil diskusi dengan rekan-rekan tadi, memang dari situlah asalnya pemerataan pendapatan dan memperkecil adanya jurang antara si kaya dan si miskin. Sesuai dengan semboyan mereka, Libérté, Egalité, Fraternité yang kira-kira maksudnya adalah kebebasan, persamaan hak dan persaudaraan.

Berita kehilangan istri

Penulis: Srie Candrawati

Annecy, Juli 2001

Suatu hari disaat saya sedang asyik di hadapan komputer di rumah dan melanjutkan tulisan ini, tiba-tiba saja telepon berdering. Biasanya, suami menelepon dari kantor atau teman-teman yang mengajak jalan-jalan atau bersepeda sekitar danau.Kali ini ternyata dugaan saya meleset, di seberang sana terdengar suara pria perancis yang menanyakan suami saya. Setelah saya tanyakan dari mana, dia jawab “je suis le mari de Nirwana” atau saya suaminya Nirwana (sebut saja demikian namanya). Nirwana ini orang indonesia juga. Saya katakan saya tidak mengenal nama itu, dan dia bilang suami saya mungkin tahu. Pikir saya, oh, mungkin ini teman suami, sambil membatin juga, kok saya bisa tidak kenal ya?, suami kenalan di mana nih?.Tetapi tanpa pikir panjang saya katakan suami saya berada di kantor, dan saya berikan nomor teleponnya. Tidak lama, saya penasaran juga dan saya hubungi suami di kantor, dia langsung bercerita baru saja mendapat telepon “aneh” dari suami orang.Katanya, orang tadi mengetahui nomor telepon rumah dan alamat kami dari internet, melalui alamat email yang kami punya. Dia juga bercerita bahwa istrinya - si Nirwana itu minggat dari rumah dengan meninggalkan alamat email ini. Bagaimana bisa? kami pikir hal ini sangat janggal, namun pria ini nampaknya hampir putus asa mencari istrinya yang tiba-tiba menghilang. Dia katakan, dia tidak akan memarahi istrinya, jika memang ingin berpisah ia inginkan dengan cara yang baik-baik, karena banyak hal yang harus di urusnya, ia sebenarnya khawatir jika ada kejadian yg tidak di inginkan yg di alami istrinya, mungkin di culik atau apa. Wah, bapak ini kebanyakan menonton film, kami pikir. Makin bingunglah suami saya mendengar pengakuan pria yang kehilangan istri ini. Suami saya katakan, ia tidak tahu-menahu mengenai masalah ini, kenal saja tidak dengan Nirwana. Kamipun tidak menyembunyikan siapa-siapa di rumah, kecuali bayi yang masih bersembunyi dalam perut saya. Pria ini akhirnya mau mengerti dan menutup pembicaraannya.Mendengar berita ini, saya berpikir, cerita macam begini biasanya hanya kami saksikan di TV atau kami baca di novel. Namun, ini benar-benar terjadi. Rasanya aneh juga buat kami berdua, kehidupan sedang tenang tiba-tiba heboh oleh telepon dari orang yang tak di kenal, mencari istri yang hilang lagi.Malam hari saat kami selesai makan malam dan sedang asyik duduk di depan TV, telepon genggam suami kembali berbunyi. Pria ini lagi. Kali ini, suami saya dengan sabar mendengarkan kisahnya. Di kisahkannya bahwa ia dan istrinya itu punya problem empat bulan yang lalu, lalu ia menyarankan agar istrinya merenungkan kembali kelanjutan pernikahan mereka dan menganjurkan agar istrinya pulang dulu ke Ujung Pandang (kampung halamannya) selama tiga bulan. Jika ia ingin melanjutkan kehidupan mereka bersama di Perancis, kembalilah. Jika tidak ya, tidak perlu kembali lagi dan Pria ini - sebut saja Michel - akan mengurus perceraian mereka.Kenyataannya, setelah sebulan di tanah air, Nirwana kembali ke pangkuannya, mereka melewati hari-hari indah bersama dan sempat berlibur pula di musim panas ke pantai. Ia pikir semua sudah beres, apalagi Nirwana mengatakan bahwa ia kini dapat menerima kehidupannya di Perancis bersama Michel, sebagai suaminya. Alangkah bahagianya Michel mendengar ini.Mereka kembali dari liburan musim panas di hari minggu, dan hari senin nya seperti biasa Michel pergi ke kantor. Sepulangnya dari kantor, ia mendapati istrinya telah pergi membawa seluruh milik pribadinya, tidak ada selembar pakaian istrinya lagi yang tertinggal. Ia hanya mendapatkan secarik surat, yang menyatakan istrinya meninggalkannya dan bahwa istrinya menemukan “orang lain”. Di surat itulah, ia cantumkan jika ada keperluan hubungi alamat email ini. Alamat email inilah sumber ketersangkut-pautnya kami dengan masalah Michel-Nirwana.Entah dari mana si Nirwana ini bisa menyebutkan alamat email ini, sedangkan menurut suaminya sendiri ia kurang pandai menggunakan komputer. Inilah yang menjadikan tanda tanya besar baginya.Bagi kami, masalah email ini bukan cara memecahkan permasalahan, kini Michel sudah tahu bahwa kami tidak terlibat apapun dengan istrinya. Kami menganjurkan untuk menghubungi KBRI dan melaporkan berita kehilangan ini, atau jika perlu hubungi polisi untuk bantuannya melacak jejak istrinya.Ia masih ragu-ragu, karena menurutnya ini adalah masalah personal, tetapi ia berjanji akan menghubungi kenalannya di KBRI.Keesokan harinya, giliran saya mendapat telepon dari KBRI. Seorang wanita di seberang sana menanyakan hal-hal yang sama mengenai hilangnya Nirwana dari rumah Michel. Saya jawab dengan jawaban yang sama pula, bahwa kami tidak kenal dan tidak ada sangkut-pautnya dengan masalah ini. Wanita ini, sebut saja Brenda, adalah kenalan Michel dan ia bekerja di KBRI. Ia mengatakan terima kasih atas keterangan saya dan mengundang saya datang ke Paris dalam rangka HUT RI tanggal 17 Agustus nanti. Saya renungkan lagi masalah ini, bagi kami gangguan seperti ini tidaklah memberatkan walau memang mengganggu. Tidak dapat di elakkan kami jadi membahas cerita ini di rumah, rasanya kasihan juga Michel, apa yang menyebabkan Nirwana pergi. Apakah benar Nirwana “kecantol” orang lain, atau ia di culik orang dan di paksa menulis surat seperti itu?. Tetapi, kenapa semua barangnya di bawa pergi pula?, sepertinya semua sudah di atur dan di rencanakannya. Sayangnya, kami ini bukan detektif, jadi mohon maaf jika kami tidak dapat mengungkap misteri hilangnya Nirwana. Semoga Michel di berikan jalan untuk memecahkan persoalannya.